Tampilkan postingan dengan label Sang Pembelajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sang Pembelajar. Tampilkan semua postingan

9 Agu 2019

Menemukan Catatan Lama yg telah usang



Bismillaah...

Hampir setahun sudah di Medan, dan baru kemarin tanpa sengaja menemukan buku catatan lama yg telah usang. Sebuah catatan saat rutin mengikuti kajian sunnah di Medan. Dan Masya Allaah... Saat membolak balikkan tiap halaman, ketemu dengan salah satu halaman yg berjudul Adab dan Akhlaq, sebuah Dauroh yg pematerinya ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Pikiran mulai menerawang, sembari membatin dalam hati "Eh, benarkah ini dulu aku pernah menghadiri kajian beliau? Apa beliau memang pernah ke Medan ya?"
Karena memang catatannya lengkap, pasti saat kajian berlangsung saya fokus menulis. Kajian yg saya hadiri hampir 10thn lalu.
Saya mencoba mengingat dimana tepatnya kajian ini berlangsung. Sebab memang tak begitu banyak saya menghadiri dauroh pada masa itu. Dauroh masa dulu pastinya tidak sesering dan serutin jaman sekarang.

Nihil. Saya tidak bisa mengingatnya. Yang saya ingat, saya pernah menghadiri tabligh akbar di Mesjid Agung Medan. Tetapi saat itu yg mengisi kajiannya adalah seorang Syaikh dari Timur tengah, bukan ustadz indonesia. Yang saya ingat, saya pernah menghadiri Dauroh yang di Mesjid Al amin Jl. Serdang, Medan. Tapi memang waktu itu tidak ingat siapa pematerinya.
Momen yang saya ingat waktu itu adalah saya pergi dan pulang kajian diantar jemput oleh Papa rahimahullaah. Saat menghantar jemput, Papa rahimahullaah sempat mencandai saya dengan kalimat "Banyak kali kawan terorismu" sambil dia tertawa dan memberikan tangannya utk saya cium pamitan.
Saya tersenyum menyeringai membalas ucapannya "Yee... Enak kali papa bilang teroris. Org mau ngaji kok".
Memang pada saat itu, media berhasil memberi cap "Yang bercadar dan bercelana cingkrang itu teroris". Sehingga kebanyakan masyarakat kita terhasut dengan tagline tersebut.
Tapi tenang, Insya allaah Papa rahimahullaah bukan termasuk org yg mudah dikelabui media. Ia hanya sedang mencandai anak gadisnya saja. 😊
Semoga usahamu mengantar jemput anak gadismu ke kajian sunnah menjadikannya pahala jariyah untukmu, Pa.

Oh iya, sangkin penasarannya saya atas catatan usang itu. Akhirnya saya pun mencoba untuk "Googling" tentang kajian ust Yazid tsb. Dan alhamdulillaah ketemu dihalaman pertama, seperti yang saya capture. Yeaah...ternyata memang benar, dulu saya pernah hadir dikajian beliau, di Medan. Yang memang masya Allaah.. Isi kajian beliau sangat berbobot.
Dulu memang saya tidak mengenal para ustadz yang mengisi tiap kajian. Karena media sosial dahulu tidak seperti sekarang.

Masya allaah tabarakallaah...

Insya allaah saat ada kesempatan, nanti akan saya share isi kajian beliau yang sempat saya catat tempo lalu.
Sebab... Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
Barakallaahufiik


Medan, 9 Agustus 2018
14:34

18 Feb 2013

Simfony Langit



Di pelataran senja yang merona, aku menari basah. Gelisahnya hujan menghardik pesonaku kala bercengkrama lewat jingganya. Melalui irama nada layang-layang aku bertitah: ini bahagiaku!
Senyum simpul terkulum tanda takzim yang tak lazim. Mengurai runut peristiwa sewindu dalam pancaran wewarna kelabu, atau mejikuhibiniu. Lukisan didinding itu kian gontai menggantung. Mungkin angin hebat menerpa kokoh ruangnya.

Perlahan waktu memberi jeda untuk mengurai masa, mengenang simfony nada yang pernah tercipta. Mungkin sesaat lagi, sedang aku masih terasing dalam diamku. Menunggu. Entah, apa kelak cukup masaku, berbagi cerita lewat butiran-butiran air mata bahagia atau mungkin lewat tawa yang berduka. Sedang potongan-potongan puzzle itu kian berkurang dari utuh. Satu persatu meluruh bersama waktu yang terus membunuh.

Aku butuh waktu. Menunggu atau terus berlabuh di dermaga bisu. Esok pasti kan menjelang, tentu saja dengan pengertian dan pemahaman yang berbeda. Jika pada akhirnya potongan-potongan puzzle itu kian meluruh, aku yakin kan ada yang datang menyusunnya kembali utuh. Bila nada-nada itu kian hilang, kelak kan ada yang memainkan nada-nada baru untukku. Meski ketukkannya tidak sama, tidak akan pernah sama. Selamanya . . .

Pergilah, sebagaimana keinginan Rabb atas jalan hidup kita.

24 Jan 2013

Ini Serius . .


Bawa motor itu capek. Apalagi untuk perjalanan yang cukup jauh. Jadi inget dahulu sama Alm. abangku, ketika dia hendak mampir ke rumah sehabis aktivitas kerjanya di lapangan, aku pernah minta dibelikan sesuatu sama dia. Aku minta dia mampir ke warung. Berhubung beliaunya sudah hampir sampai rumah, jadi dia tidak membelikan apa yang kuminta. Saat itu menurutku, apa susahnya tinggal mutar sedikit, beli, daaah. . . tinggal pulang. Selesai.

Sesampainya ia di rumah, aku tagih, kecewa ternyata gak jadi dibeli apa yang aku pesankan. Ngomel lah si aku. Menganggap gampang persoalan. "Kan gampang, kek gini aja pun, mampir sebentarnya . . ." Begitu kira-kira ocehanku. Nah, dari hal itu aku jadi belajar mandiri. Mandiri untuk bisa bawa motor sendiri. Jadinya tidak terlalu bergantung sama orang lain.

Kembali ke persoalan "Menggampangkan", Nah . . . kita yang tidak mengalami kejadian langsung itu seringnya emang ngegampangin sesuatu. Sama kayak aku tadi. Namun setelah dialami sendiri, ternyata ada hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpikir dan tak terkaji oleh diri. Bawa motor itu capeknya luar biasa, kena panas atau hujan, belum lagi kena debu jalanan, dan yang paling membuat tubuh remuk itu adalah hempasan angin yang langsung menyerang ke badan. Meski sudah pakai jaket sekalipun, tetap saja anginnya nembus ke dada. Hal itu semualah yang benar-benar menguras tenaga juga menggoyahkan daya tahan tubuh. Pantesan aja dulu Alm. Abang gitu nyampe rumah suka minum es karna sangkin haussnyaa, trus juga tiduran di kamarku yang ademm. Capeknya emang nguras tenaga. Bahkan sangkin capeknya, untuk berhenti atau berjalan lawan arah lagi itu bisa jadi hal yang sangat melelahkan, karna kalau udah capek gitu, tujuannya cuma satu. Rumah. Sampai rumah langsung ke kamar mandi, basahin kaki, minum, trus baring di lantai atau di kasur. hmmm . . .

Selalu, ketika capek itu benar tlah terasa, selalu teringat sama Alm. Abang. Selalu teringat sama ulah diri dahulu yang selalu "Menggampangkan". Namun, dari hal inilah aku bisa mengambil hikmahnya. Yaitu belajar untuk mandiri, juga tidak lagi menggampangkan persoalan. Dan aku benar-benar bisa memahami setelah mengalami semua peristiwa sendiri. Semoga yang lain pun mampu belajar.

Hm. . . mohon maaf khususnya kepada Alm. Abang, Papaku, Adikku yang mungkin selama ini telah aku repotkan perihal ini. Dari sini aku belajar, belajar memahami setiap hal yang ada dalam hidupku.

Dan untuk ini aku berpesan, Ketika seseorang kelelahan sehabis dari perjalanan, Jangan sedikitpun kita beri omelan atau pun memintanya pergi ke suatu tempat untuk memenuhi kebutuhan/ kemauan kita. Alangkah lebih baik kita tanya dahulu apakah ia bersedia, atau jika ia telah memberi isyarat/ memberi tahu kita bahwa ia kelelahan, maka berilah waktu sejenak baginya untuk beristirahat, atau janganlah memaksakan kehendak. Hehehe . . . orang yang kelelahan sehabis dari perjalanan itu sangat membutuhkan jeda untuk istirahat, rehat sejenak. Capek, Lelah, Haus, Lapar pulak . . . membuat seseorang menjadi lebih sensitif. Pas lah itu dengan aku. Kalau udah seperti ini, suka sensitifff . . . langsung peka sama ekpresi marah, sebel, dll yang ditujukan orang lain ke diri. Kalau kata iklan "Loe bukan loe kalo lagi lapar". Hihihi . . . benerrr bin betoolll ya kan.

Oiya, satu lagi. Klo udah kayak gini, juga jadi teringat sama si Lastri sahabatku yang di Batam. hehe . . . maafkan diriku yang sudah merepotkanmu selama ini yaa sobat :))
aku jadi rindu sama si Momo- Mio kecilmu ^^ Sudah setahun lebih aku tak mengendarainya. Aku pun masih punya salah sama Momo yang sampai saat ini belum kutebus. Haha . . . ingatkah kau ketika kita terjatuh saat mengejar Pelangi?? Hihi . . . jatuh dari motor yang sangat tidak elit untuk Apel sepertiku bukan?! :p #Kyaahaha . . . .

15 Jan 2013

Belajar Perlahan

Aku tau ini tak mudah. Bahkan dulu pernah terpikir bahwa aku tak bisa melakukannya. Namun semua yang ada dalam kehidupan ini berproses. Maka aku belajar perlahan, perlahan belajar. Memenuhi segala proses yang harus kulewati. Bismillaah, Belajar perlahan, Insya Allaah bisa :)

8 Jan 2013

Secangkir Teh


Seperti malam, bergelayut pada gulita langit tua. Menjelajah lewat denting masa yang meraba maya. Dunia ini fana, penuh kefanaan yang durja. Selarut malam, kurangkai mega diatas kanfas maya, mengukir dengan indahnya, kuharap begitu.
Lalu lelah, menyapa perlahan dengan tegasnya, merubah suasana suka menjadi jengah. Entah mengapa. Lagi-lagi ia hadir dengan sendirinya, dua bayangan dalam satu cermin. Kenapa bisa? Entahlah.

Secangkir teh ini menemaniku dalam kebimbangan. Antara ragu atau meragukan keraguan itu. Nyatanya kebaikan hanya mampu dilihat oleh mereka yang berhati bersih. Sedang aku? Aku begitu kotor saat ini.

Bercerminlah dengan khusyuk, maka kau akan menemukan dirimu sendiri. Suara yang entah darimana itu terus mengiang-ngiang di kepala saya. Seolah ia terus mengingatkan diri saya. Dan suasana ini tak pernah sehening saat suara itu mengiang-ngiang di telinga.

Lagi-lagi, orang-orang bertanya dengan pertanyaan "Kenapa?", sedang saat diperjelas alasannya, jawaban itu tak pernah membuat mereka puas untuk berhenti bertanya. Kita terkadang begitu pongahnya dengan pengetahuan kita yang terbatas. Ah, tak lepas juga aku, si manusia yang sok tau dengan ilmu ala kadarnya. Harusnya belajar, belajar dan terus belajar untuk mendewasakan diri, untuk mnerima takdir tanpa air mata. Tapi apa mungkin tanpa air mata? Sedang menangis begitu menenangkan, meski tidak menyenangkan.

Aku sakit, katamu. Hendak meminta sedikit simpati atau perhatian dariku? Cukuplah Allaah bagimu. Panas suhu tubuhku hanya akan membuatmu mengumpatku atau menilai miring tentangku. Tak mengapa bagiku, Asal Dia tak murka padaku, itu sudah sangat cukup membuatku tenang.

Dan berjalanlah dengan ketegasan, kepastian, keyakinan, dengan pegangan yang menguatkan langkahmu. Bukankah keyakinanmu ibarat mata pedang tajam yang baru diasah?
Ragu itu pasti hilang, kuatkan azzam pasrahkan pada-Nya. ---Faidza azzamta fatawakkal 'alallaah

1 Jan 2013

Senja ~ diantara Pagi dan Malam

Adakah pagi kan kujelang, jika malammu selalu menyelinap datang ke paru-paru oksigenku?
Adakah senja kan ku tempuh, jika pagimu selalu meluruh lewat embun daun yang menguap karna cahaya?
Adakah rindu kan berlabuh, pada dermaga-dermaga tua yang penuh kekosongan ilmu?
Adakah malu menguasa jiwa, pada raga-raga yang lalai pada Tuannya?
Adakah rumah tempat berteduh, pada jiwa-jiwa yang ingin singgah sejenak sebab lelahnya?
Adakah kau aamiin-kan tiap asamu, di tujuh masa yang kau serak doa-doa?
Adakah istiqomah terjaga, di relung-relung jiwa penikmat nafsu dunia?

Cabarkan padaku maknamu, Agar kukoyak belatiku lewat bait kata teriakan langit
Ranumkan padaku derumu, Agar tercabik kanvas lukisan qalbuku lewat nadanada melegit

Sudah bolehkah aku redakan sekarang? jika bait hujan saja masih kau eja dengan rintik-rintik pelangi.
Belum bolehkah aku jedakan sekarang? jika awan hitam masih saja menjuntai gelebat menutup diri

Kepada siapa lagikah hendak kusinggahkan lukisan kata ini, jika warnanya pun tertutup kafan putih yang kapan saja siap menghampiri?
Kepada siapa sajakah hendak kusingkirkan rona luka ini, jika pengobatnya pun adalah keyakinan yang telah ternodai sihir bumi?

Atau kusibakkan saja segala rasa yang datang mengulang, menikamnya dengan belati tajam yang baru kuasah tadi siang.
Menerjang-nerjang bagai angin keblingsatan menerpa pepohonan dan bangunan bersama badai di tanah lapang.
Ruang-ruang yang kau masuki pun berbatas dimensi waktu, melongok kesempatan, berjejal berjuta peluang.
Tinggal kau usap-usap bagian yang kau senang
Tinggal kau teriak-teriak dalam hening doamu kepada Sang Penyayang.
Lalu tunggulah barang sejenak, menarilah bersama doa-doa pengharpanmu dengan riang.
Dan akan jelas terlihat pada sengat mentari yang masuk lewat celah jendela kayu.
Pagi adalah kepastian, dan malam adalah keharusan.
Keduanya berada diantara senja.


“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yasin:37-40)

29 Des 2012

Lembayung

Menjejak, berdendang
Hadir dipenghujung badai
Saat kesedihan yang paling kerak menjamah
Saat kesakitan berdekit dipenghujung kematian
;selalu ada pengganti dari apa yang hilang
Datang pergi hilang kembali
Seperti mimpi
Tapi inilah hidup yang harus dijalani.
Siapapun, mengharapkan hadirnya pelangi diujung badai.
Mungkin sama seperti Firman-Nya, "Bersama kesulitan ada kemudahan"
Dan Lembayung Jingga akan terus menawan di Langit-Nya yang terserak.

Sudahkah kita bersyukur akan tarikan nafas hari ini?
"Maka nikmat Rabb yang manakah yang mampu kita dustakan?!"

:)

27 Des 2012

Simfony Kehidupan

Kita masih akan terus berjuang
Dengan sisasisa keyakinan yang terpancang kuat di hati
Dengan sisasisa keberanian yang kita miliki
Dengan sisasisa usia yang kita miliki

Kita masih akan terus berjuang
Dengan tekad semangat yang membara di jiwa
Dengan keteguhan sanubari di dada
Dengan kekuatan dari Sang Raja Semesta

Kita masih akan terus berjuang
Bersama menjadi pemenang


*Bulan Tiga Bulan

25 Des 2012

Mengapa Menulis?


Mengapa menulis? ---Karna ingin menjadi penulis. BUKAN. Itu lain cerita.
Kau tau?! Menulis itu menyenangkan :) Bagiku menulis adalah kegiatan yang paling menyenangkan diantara kegiatanku yang lain. Bahkan bisa mengabaikan makan kalau sudah menjadi begitu autis menulis sesuatu, apapun itu. Seperti yang pernah kuungkapkan sebelumnya, menulis bagiku adalah seperti pelarian ketika kata tak mampu tersampaikan secara verbal. Melampiaskan kata lewat tulisan juga bisa membuat kemahiran menulis kian terasah. Secara natural, membiarkannya mengalir begitu saja. Benar-benar dibaca dan dipahami bahkan setelah tulisan itu sendiri selesai.

Mengapa menulis? --- Ali Radhiallahu'anhu pernah mengatakan "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya", Sebab kita manusia itu fitrahnya selalu khilaf/ lupa, tak terkecuali saya :)
Tulisan-tulisan saya di blog ini pun masih selalu saya buka (red: baca), jangankan diwaktu luang, diwaktu sempitpun saya upayakan untuk membacanya ulang.
Karna benarlah apa yang dikatakan oleh Imam 'Ali yang diatas, dengan menuliskannya lalu kita membaca kembali apa yang pernah kita tuliskan, itu menjadi pengingat bagi diri sendiri.

Ketika saya kehilangan motivasi, saya kembali membuka tulisan-tulisan saya yang dulu. Ada di Tag "Motivasi, Motivasyifa, Inspirasi, Hope, SOH, Semangat, dsb". ^^
Tentu saja yang memberikan motivasi terbesar bagi kita adalah diri kita sendiri. Itu juga yang selalu saya sampaikan kepada sahabat-sahabat saya. Karna peran orang lain hanyalah sebagai pendorong.
Saya pernah mengatakan kepada sahabat saya, "Sebanyak apapun saya memberikan motivasi pada kamu, tapi kalau dari diri kamunya gak berubah (red: tidak memotivasi diri sendiri) maka motivasi yang saya berikan, bahkan sampai mulut saya berbusa sekalipun, tidak akan ada apa-apanya, tidak akan merubah apapun untuk kamu dan hidupmu.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” [QS Ar Ra'd:11]

Mengapa Menulis? --- Menulis itu bagian dari jiwa saya. Saya bukan termasuk orang yang "Vocal" dalam bicara, saya bukan ahli debat (karna saya menghindari perdebatan), saya juga bukan pembicara yang baik. Karena itulah segala apa yang ada dalam gagasan dan pemikiran saya, saya tuangkan kedalam bentuk tulisan. Saya sendiri mulai menulis itu sejak dibangku SMP. Awalnya hanya tulisan-tulisan biasa, curhat tentang perasaan saya, meskipun tidak selalu. Ketika SMP pulalah untuk pertama kali saya membuat puisi. Tapi, awal mula saya menulis itu justru sebenarnya saat dibangku SD. Saat SD, saya terbiasa surat menyurat. Entah itu dengan teman-teman, guru (tentu saja saat momen tertentu), juga untuk Bapak saya yang saat itu merantau ke Negeri Jiran untuk mencari sesuap nasi. Untuk membiayai kehidupan kami keluarganya :')

Dahulu, saya terinspirasi dari kakak saya yang pertama. Tulisan-tulisannya bagus-bagus. Apalagi kalau dia buat puisi. Lantas saya pun menjadi sebegitu tertariknya untuk ikutan menulis juga. Sebagai penulis pemula, tentu saja tulisan saya masih acak adut. Bahasa tulisan saya masih "anak bawang", gak ada sastranya sama sekali. Tapi, hal itu tidak menyurutkan saya untuk menulis. Saya terus saja menulis dan menulis. Saya juga mulai rajin membaca puisi-puisi dari berbagai media. Saat saya SMA, saya rajin membaca puisi yang ada di majalah Islam Sabili. Sudah jadi bacaan rutin saya kalau puisi di majalah itu, tapi tidak untuk yang bagian Politiknya yaa ^^ (Karna politik, bukan dunia saya).
Saya juga menargetkan berapa puisi yang saya tuliskan perbulannya. Intinya terus mengasah tulisan, masalah bagus enggaknya tulisan saya, itu urusan belakangan. Bukankah jika terus diasah, maka pisau yang tumpul sekalipun bisa menjadi tajam?! :) *Retorik kurasa. Bahkan parang/ pedang yang berkarat sekalipun mampu membelah kayu jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Ingat . . ."MAN JADDA WA JADA"!! ^^9

Jika dahulu saya begitu kesulitan untuk menulis, lihatlah sekarang, jemari saya begitu lihai melompat-lompat dari kata yang satu ke kata yang lainnya hingga membentuk sebuah cerita. Namun, tentu saja semua itu dilalui lewat berbagai tahap. Karna "Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa", semuanya berproses. Dan sampai sekarangpun saya masih menjalani proses itu. Terus mengasah dan mengasah.

Mengapa menulis? --- Saya bukan si Kutu Buku yang begitu autisnya melahap bacaan-bacaan apapun. Saya ini si "Pemilih", saya memilih buku apa saja yang ingin saya baca. Karna saya tau dengan baik siapa diri saya, maka saya pun memilih apa apa yang saya baca. Demi kebaikan pemikiran saya tentunya. Hehehe . . .
Sebab saya lebih cenderung banyak mendengar, banyak mendengarkan cerita orang-orang disekitar saya. Mereka lah yang memberikan inspirasi yang begitu besarnya terhadap saya. Saya lebih cenderung untuk menuliskan apa yang saya lihat, dengar dan juga rasakan. Karna dengan begitu, saya mampu menulis dengan natural, mengalir begitu saja dengan tanpa paksaan atau tekanan. Karna menulis itu menyenangkan, menyenangkan bisa berbagi lewat tulisan, menyenangkan karna sadar bahwa tulisan ini hadir karna diri sendiri bukan karna "faktor lain", sebab diri kitalah yang memgang kendali atas apa-apa yang kita ingini.

Mengapa menulis? --- Hem . . . Agar blog ini terisi semakin penuh sesak, lalu pengunjung blog ini terus membaca tulisan-tulisan aneh saya, lalu mengambil manfaat yang ada didalamnya :)

Mengapa menulis? --- Udah ah nanyanya, yang penting ambil yang baik dan buang yang gak baik ^_^
dan teruslah menulis, Karna menulis itu menyenangkan

Luangkanlah Sejenak


Sejenak saja, hingga akhirnya kita benar-benar merasakan kedamaian itu. Kau tau Rindu? Betapa aku dulu begitu merinduimu. Hingga akhirnya perlahan kau merangkul rinduku, dan erat memeluknya. Aku percaya bahwa kau akan kembali menjumpaiku. Seperti semalam, saat ini, dan esok serta lusa, aku ingin terus membersamaimu dalam kedamaian harmoni-Nya. Dan kita akan terus bersama dibawah kanopi-Nya. Tanpa penghalang, tiada rintangan. Namun tetaplah membutuhkan perjuangan dan kesungguhan. Aku ingin mencintaimu dengan perlahan, agar semakin lama semakin kuat kita bertahan, bersua dipenghujung malam, menjelujurkan doadoa dan pengharapan pada Yang Memiliki Kehidupan. Hingga kita menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, meskipun kematian. Karena kau akan membersamaiku di singgasana persaksian.

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” 
(HR Tirmidzi 3412)

21 Des 2012

Senandung Hujan

Masih tentang hujan, yang menemani sendiri dalam keterasinganku. Yang membasahi bumi dalam kekeringanku. Hujan. . . yang selalu menemani, tanpa mimpi berharap mentari hadir setelahnya. Ini sudah senja bukan? Sudah saatnya mentari tenggelam. Dan malam terlihat lebih menenangkan daripada sinar jingga mentari yang tak memungkinkan untuk kembali merajut rintikan hujan.
Sudahlah, tak perlu menghindar dari mentari bukan?! ada atau tidaknya ia, kita masih tetap bisa merajut tiap rintikan hujan. Seperti yang semua orang inginkan. Setiap akhir cerita berakhir bahagia, jika tidak di dunia, mungkin di syurga.

Bukankah Dia lebih berhak atas kehidupan kita?

Dan hujan akan selalu menenangkan dikala rintikannya terajut indah penuh makna, tanpa paksaan, tanpa pengabaian, hanya rajutan dengan penuh kesabaran jua keikhlasan.
Hari-hari itu kuharap selalu menyenangkan :)

3.11.12
Medan ^^

20 Des 2012

Nasihat Yang Tenggelam

Jika nasihat yang hadir hanya dianggap angin lalu, maka biarlah. Ada Allaah yang tlah jadi saksinya.
Duhai Rabb. . . Saksikanlah, telah aku sampaikan. Dan jika ternyata penyampaian itu tak sampai pada qalbu, maka kumohon lembutkanlah hatinya dengan kelembutan yang Kau miliki. Sungguh Engkaulah sebaik-baik pemberi hidayah.
Tiada daya dan upaya kami melainkan dengan pertolongan Engkau :)

17 Des 2012

~Luka

Terkadang, tak hanya cukup satu luka untuk membuat kita benar-benar mengerti dan menyadari bahwa bukan itu seharusnya jalan yang kita pilih. Ada banyak keberagaman dalam hidup, dan kita masih bisa memilih selama yang dihadirkan adalah pilihan. Tetap bertahan ataukah membuat rencana-rencana baru yang lebih matang dengan sedikit resiko didalamnya.

Jika kita cerdas, maka cukup sekali ujian itu mampu kita lewati. Dan kalaupun hasilnya remedial, maka haruslah pula kita mengulang ujian kembali. Dan harusnya pula kita belajar dari kesalahan yang lalu, belajar dari ujian yang sebelumnya. Memahami dimana letak kekurangan serta kesalahan yang kita lakukan. Keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama bukan?!

Adalah belajar dari kesalahan, adalah belajar dari pengalaman kisah silam, adalah belajar menemukan kebenaran, bukan pembenaran. Hidup adalah belajar dan terus belajar. Meski luka, tapi kita tau, bahwa luka adalah bagian dari pelajaran kehidupan yang kita lalui.

*Semoga selalu menjadi pribadi yang baru, dengan semangat menantang menyeru ^^9

16 Des 2012

Menembus Batas Kehidupan

Kita menari, diantara dua bayangan. Hitam putih. Kau aku. Kita. Terus menari, mencari nada yang bersesuaian. Berkali berhenti atau mungkin terhenti, lalu kita pergi dan kembali membersamai hari. Menyapa lewat misykat qalbu, berkata lewat sajak yang patah, menepi lewat mimpi, berbagi, menginspirasi, bertukar pendapat, sesekali beradu argumentasi, lalu diam atau mungkin mendiamkan.

Kadang kekesalan itu hadir, ketika jelas berbuat kesalahan tiada gerak sapa untuk mengajukan kata maaf. Hanya butuh sapa kata, meski dihati, jauh dilubuk sebenarnya telah lebih dulu memberi maaf. Hanya mencari kepedulian diantara bekunya suasana bagai batu, seperti tak pernah menyatu sebelumnya.

Dan kadang diam untuk menghindar adalah kebaikan. Agar tiada celah amarah yang sejak kemarin tertahan terlampiaskan. Dan adakalanya pun diabaikan adalah sebuah kebaikan, ketika yang mencari-cari perhatian menjadi begitu ingin terus diperhatikan.

Hidup ini begitu, hidupmu, hidupku, hidup kita semua manusia. Berjalan sesuai dengan garis edarnya. Sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Yang telah terjadi, kita tak bisa lagi memilih. Yang akan terjadi nanti ada diantara kesempatan dan pilihan, atau jua ketentuan takdir Allaah. 

Maka bersabarlah, ketika segala keinginan tak terwujud dengan segera. Allaah lebih tau apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka bersyukurlah, ketika memiliki segala yang telah ia beri meski kita begitu menginginkan yang lainnya.

Sebab Allaah tak pernah main-main dengan janji-Nya. 

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
[ QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : 32]
#SangPembelajar

11 Des 2012

Tauhid


Tauhid adalah inti pokok dari ilmu agama Islam, PENTING-nya luar biasa untuk dipahami, disadari dan diyakini.
Tauhid adalah kajian yang paling saya sukai. Mempelajarinya menjadikan keyakinan ini semakin yakin dan juga semakin kuat.
Belajar . . .belajar . . . dan terus belajar :)

Hehe... postingan ini bukan tentang Tauhid, tapi kapan-kapan saya ingin menyampaikan materi tentang tauhid yang sudah saya pelajari, tapi enggak sekarang :)

3 Okt 2012

#Bersabar dan Bersyukur



Bagai buih ombak bergelayut diantara arus air. Memecah karang lewat emosi angin. Menyapu dedaun dan semerbak pasir dalam genggaman. Malam berselimut halimun gelap. Sedang pagi masih ada di ujung mimpi insani. Seolah semua terkubur, oleh hiburan-hiburan semu yang berkulit sendu. Pilu seolah terbenam dalam tawa yang berdusta. Tak sebenarnya pulih dalam kebaikan, meski berpura-pura adalah jawaban. Pun hidup bukan hanya perasaan. Sebab logika berperan dalam perjalanan jauh kehidupan, apapun itu. Tertawa bersama, namun bayangan berurai air mata. Belajar sederhana, belajar menerima. Ini hidup kawan. Jika kau tak mampu bertahan maka kau kan terjatuh. Jika kau tak mampu berdiri, maka mereka akan menginjakmu bagai sampah. Tanpa peduli apa kalian pernah berdiri bersama dalam suka atau cita, tapi mungkin tidak untuk duka. Orang-orang akan meninggalkanmu saat sulitmu menguasai. Namun mereka kan kembali saat kayamu menghampiri. Kebaikanmu kan berbalas kebaikan jua, bila orang yang kau tuju menyadari akan hal itu. Allaah akan membisikkan langsung ke hatinya tentang kebaikanmu, tanpa perlu kau poles dengan kepalsuan apapun.

Beginilah hidup kawan, kau harus bertahan. Jika yang baik telah kau temukan, maka kebaikan itu kan selalu menyertaimu, kan selalu mengawasimu, menyelamatimu dari sisi-sisi jahat orang-orang disekitarmu. Jika kau baik dan masih saja ada orang yang menjahatimu maka percayalah, itu sunnatullaah. Kelak lewat kesabaranmu, meraka pula akan berbuat baik. Atau bisa saja itu uji bagimu. Dan percayalah, yakinlah. . . sesakit apapun yang kau rasakan sekarang, sepedih apapun yang kau rasakan saat ini kelak kau kan berterimakasih dengannya. Melalui kesakitan kau belajar kesabaran dan kesyukuran. Lalu diantara keduanya adalah keikhlasan. Kau kan belajar untuk itu. Karna beginilah hidup kawan, keikhlasan kan mengobrak abrik emosimu, menekan amarahmu, memberaikan airmatamu, menyesakkan dadamu. Keikhlasan kan tertanam jika kau mampu bersabar dan bersyukur atas nikmat yang kau jalani. Entah itu nikmat senang ataupun nikmat susah.

Hidup itu sederhana, sesederhana mengeja hujan yang jatuh membasahi bumi.


~Di ujung malam menuju Pagi

#Tentang T A K D I R

Bayangkan sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai, di gudang penyimpanan. Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung ditumpuk. Lantas terkena sepakan kuli-kuli angkut yang beranjak pulang sore hari, terlempar kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel. Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan ember kering persis di atasnya. Sempurna sudah melindungi butir itu dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak pernah tampias meski setetes air sepuluh tahun terakhir.

Malam itu hujan deras turun.

Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh…. semua sudah ditentukan.

My dear, kehidupan ini tidak sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan. Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang melanggar aturan main itu.

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak rumit.

Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.

Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.

* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"
 
~Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, satu-satunya Novel Tere Liye yang sudah finish kubaca beberapa bulan lalu. Novelnya memaparkan bagaimana berlangsungnya hukum sebab akibat dalam kehidupan kita, hingga kita tak perlu menyalahkan sesuatu. Karena semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Sering kita bertanya dalam kehidupan, "Kenapa begini? Kenapa harus aku? Kenapa? dan pertanyaan kenapa yang lainnya. Pun ketika kita menyatakan bahwa "Hidup ini tak adil untuk kita", termasuk dalam bahasan novel tersebut. Pemaparan yang cukup sederhana ala Bang Tere Liye dapat membuat kita mengerti bagaimana seharusnya menyikapi hidup ini, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini secara sederhana lewat hikmah yang terkandung didalamnya. :) 

29 Agu 2012

#Kehilangan


Kehilangan itu rasanya seperti ini. Kau tau?! seperti puzzle yang tertata rapi, namun satu persatu puzzle itu terlepas hingga menyisakan ruang hampa dalam kotaknya. Kita merasa kehilangan karena kita merasa pernah memilikinya. Dari rasa kehilangan itu kita belajar untuk menerima, penerimaan yang tulus. Belajar untuk ikhlas, keihklasan yang lurus. Kita belajar bahwa sesuatu yang kita miliki bukanlah sesungguhnya milik kita. Kita menginginkan sesuatu, meminta dengan rengekan kepada Allaah, namun Allaah tak memberi, bukan berarti Allaah tak mengabulkan doa-doa kita. Tapi Allaah punya sesuatu yang lebih indah daripada yang kita minta pada-Nya. Allaah tau apa yang terbaik buat kita hamba-Nya. Dan kewajiban kita adalah menerima itu semua dengan berprasangka baik pada-Nya. 

Mungkin kan ada raut wajah cemberut, atau bahkan tangisan air mata ketika apa yg kita dapatkan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Percayalah bahwa Allaah selalu punya rencana indah untukmu, untuk kebaikan hidupmu. Dia lebih tau dari siapapun, karna hanya Dialah yang berhak mengatur hidupmu.

Cukup kau yakin akan janji-Nya. Hal Jazaa ul ihsan illal ihsan, "Tiada balasan kebaikan melainkan dengan kebaikan juga", begitupun sebaliknya. 
Dan Allaah akan menggantikan setiap kehilangan kita dengan ganti yang lebih baik.

Dont be afraid, Innallaaha ma'ashobirin

*Selalu ada doa bagimu yang tulus dalam kesederhanaannya

9 Agu 2012

#Labirin

Seperti memasuki ruangan baru yang ternyata kau menemukan lorong yang tak pernah terpikir sebelumnya olehmu, lorong yang mungkin selama ini kau hindari. Karena kau selalu melewati lorong-lorong biasa yang dilewati banyak orang. Namun kau telah berada ditengah lorong itu, kau sudah separuh jalan. Mundur adalah suatu ketidakmungkinan, sedang untuk maju kau dihantui dengan ketakutan-ketakutan yang pernah mereka ciptakan dikepalmu.

Sejenak kau terhenti, mengulang-ulang niat dan tujuanmu menelusuri lorong itu, menimbang-nimbang, kebaikan-kebaikan, kerusakan-kerusakan, tapi tidak untuk waktu yang lama, karena kau sadar sepenuhnya bahwa waktumu amat terbatas. Maka kau harus bergerak seperti air, menjernihkan. Bukan seperti kubangan yang justru menjadi keruh. Bergeraklah seperti air mengalir, jernih lagi menjernihkan. Bertekad kuatlah layaknya orang yang beriman, Yakin tiada sedikitpun kau biarkan ragu bergelantungan.

Karna kau tau, tiada pernah tersalah sedikitpun pilihan-Nya untukmu, untuk hidupmu, untuk aqidahmu. Karena Dia Mahatahu, yang buruk bagimu belum tentu buruk bagi-Nya. Yang baik bagimu belum tentu baik menurut-Nya.

Allaahu ghofar, ampuni kami. Tunjukilah kami pada jalan yang lurus itu. . .

31 Jul 2012

E#mail

"Sedang apa? ngecek email lagi kah?"
"Ya."
"Sabar ya. Mungkin infonya belum sampai ke beliau"
"Iya, mungkin."
----------------------------

"Nungguin email?"
"Ya."
"Hm . . . Sepertinya infonya masih belum sampai."
"Sepertinya begitu."
------------------------------

"Emailnya belum sampai."
"Hm. . . Sabar aja ya."
"Iya."
------------------------------

"Email?"
"Aku masih sabar."
"Bener?"
"Ya. Emailnya msih belum ada. Tenang saja."
-------------------------------

"Bukan email sebenarnya."
"Lalu, kenapa selalu menunggu?"
"Aku hanya mencari penghibur laraku lewat email itu."
"Kok?"
"Berharap, harapanku tidak layu dengan selalu menunggu. Aku pasrah atas ada tidaknya email itu mampir di inbox-ku, aku hanya sedang berusaha memupuk pohon harapanku agar ia tak layu atau bahkan mungkin mati."
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu. Semua yang terjadi sudah kehendak-Nya. Ini takdir namanya. Ketentuan-Nya masih akan mungkin berubah selama ia belum menjadi suatu ketetapan-Nya. Kita ini hanya hamba, yang mesti ridho atas apa yang telah ditetapkan untuk kita. Tidak boleh protes, namun silahkan jika hendak berduka. Itulah kita manusia. Pun silahkan jika kita hendah bersuka ria. Masing-masing sudah sesuai dengan garis edarnya, sudah pas dengan kapasitasnya. Tahukah kau teman? Menunggu bagiku adalah mengasah pedang waktu lewat hikmah dari episod peristiwa yang dijalani. Menunggu bagiku adalah memupuk pohon harapan tumbuh subur dibawah kanopi keimanan. Dan kau teramat tahu, bahwa Allaah teramat menyayangi kita. :)

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...