Tampilkan postingan dengan label Ngutip dari buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngutip dari buku. Tampilkan semua postingan
24 Nov 2012
29 Okt 2012
#Bersyukur Dengan Hidupmu . . .
Janganlah sekali-kali kau membandingkan
kehidupanmu dengan kehidupan orang lain. Menganggap orang lebih bahagia
atau kenapa hidup kita begitu nestapa. Kita tidak pernah tahu apa yang
telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang
sekarang. Karena itu, bersyukurlah dengan kehidupanmu yang sekarang.
--Tere Liye, novel "Rembulan tenggelam di wajahmu"
--Tere Liye, novel "Rembulan tenggelam di wajahmu"
*Always. . . . ngutip lagi dari Novelnya Bang Tere Liye. Pesan yang disampaikan begitu mengena bukan? Kecuali bagi orang-orang yang begitu "Skeptis" dalam menghadapi hidup ini. Tak perlu kuperjelas, cukup pahami makna :)
15 Okt 2012
Hari Ini Milik Anda
Jika kamu berada di pagi hari, janganlah
menungggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang
telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari
yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan
siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.
Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka,
anggaplah masa hidup Anda hnya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari
ini an akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan
tercabik-cabik duantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan
bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acap kali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya Anda
mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari
inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling
khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur,
dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam
akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan
sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik
terhadap sesama.
Pada hari dimana Anda hidup saat inilah
sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana
ribuan tahun dan detiknya laksan ratusan bulan. Tanamlah kebaikan
sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling
indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah
atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah
perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala
kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak,
tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.
{Maka
berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu
termasuk orang yang bersyukur. }
(QS. AL-A’râf: I44)
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan,
kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati
Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda ) : Harimau adalah hari ini. Yakni, bila
hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yan harum baunya, maka apakah nasi basi
yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda?
Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini,
maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atu
mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?
Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat
dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada
prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan
diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua
potensi, dan mensucikan setiap amalan.
Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, “Hanya
hari ini aku berkesempatan untu mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap
kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akn pernah mencela, menghardik dan juga
membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan
rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan
memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata
dan tindak tandukku.”
Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb,
mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat
sunah nafilah, berpegang teguh pada
al-Qur’an, mangkaji dan mencatat segalayang bermanfaat.
Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan
menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon
kejahatan berikut ranting-rantingnya berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.
Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara
kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan
kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah,
menunjukan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan,
menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan
penderitaan orang yang lemah, mangasihi mereka yang menderita, menghormati
orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.
Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akn
mengucapakan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah
seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergiannmu, dan kamu tidak
akn pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah
meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”
“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka,
aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk
sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena
esok hari mungkin tidak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum
diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”
3 Okt 2012
#Tentang T A K D I R
Bayangkan
sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai, di gudang penyimpanan.
Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung ditumpuk. Lantas terkena
sepakan kuli-kuli angkut yang beranjak pulang sore hari, terlempar
kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel.
Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan
ember kering persis di atasnya. Sempurna sudah melindungi butir itu
dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak
pernah tampias meski setetes air sepuluh tahun terakhir.
Malam itu hujan deras turun.
Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan.
Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli
seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam
rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka
basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula
kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi
sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun
yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling
jauh…. semua sudah ditentukan.
My dear, kehidupan ini tidak
sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan.
Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin
urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat.
Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang
masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu
setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya
berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang
melanggar aturan main itu.
Bagi manusia, hidup ini juga
sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta
dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan
orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan
orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus
yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi,
saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai
bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling
menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak
rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa
sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari
kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik.
Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka
hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan,
itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang
indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu
berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.
Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan,
kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan
berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.
* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"
~Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, satu-satunya Novel Tere Liye yang sudah finish kubaca beberapa bulan lalu. Novelnya memaparkan bagaimana berlangsungnya hukum sebab akibat dalam kehidupan kita, hingga kita tak perlu menyalahkan sesuatu. Karena semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Sering kita bertanya dalam kehidupan, "Kenapa begini? Kenapa harus aku? Kenapa? dan pertanyaan kenapa yang lainnya. Pun ketika kita menyatakan bahwa "Hidup ini tak adil untuk kita", termasuk dalam bahasan novel tersebut. Pemaparan yang cukup sederhana ala Bang Tere Liye dapat membuat kita mengerti bagaimana seharusnya menyikapi hidup ini, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini secara sederhana lewat hikmah yang terkandung didalamnya. :)
Malam itu hujan deras turun.
Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh…. semua sudah ditentukan.
My dear, kehidupan ini tidak sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan. Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang melanggar aturan main itu.
Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.
Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.
* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"
27 Jun 2009
Sekedar Ungkapan
Maafkan
Jika senyumku tersembunyi
Di balik air mata
Dan kata-kata mesra
Menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
Dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira
Mbak Asma Nadia punya
"Karenamu Aku Cemburu"
Jika senyumku tersembunyi
Di balik air mata
Dan kata-kata mesra
Menjadi tanpa daya
Karena terperangkap
Dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya
Lebih berwarna
Dari yang kau kira
Mbak Asma Nadia punya
"Karenamu Aku Cemburu"
Langganan:
Komentar (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR Oleh : Mu h ammad Abū Salmâ “ Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil me...
-
Jam mu tertuju angka sepuluh Lelaki muda itu yang duduk didepanku Memandang lusuh keluar jalanan berdebu. Sesekali matanya sayu, mem...