Tampilkan postingan dengan label Rinai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rinai. Tampilkan semua postingan
21 Mar 2013
Disapa Hujan
Hai hujan, terimakasih sudah mampir hari ini ke ruang riuhku. Tahukah kau, ketika yang lain menyayangkan kehadiranmu, aku justru begitu bersorak gembira akannya. Kau mendengar untaian malamku semalam. Meski bukan pagi hari, siang ini kau gagah sekali. Aku menyukaimu. Amat menyukaimu. Oiya, pagi tadi aku sudah menyiram bunga, menyegarkan tumbuhan hijau yang melingkupi ruang terasku. Terimakasih untuk hadirmu, jelas kau mengindahkan kebunku lagi.
17 Mar 2013
Symposium Ruang Rindu
Jika rindu adalah kumpulan luka-luka pilu, maka aku ingin kamu yang menjadi penawar rindu. Agar sembuh lukaku, agar lenyap senduku. Karna kamu adalah rinduku yang kian membuatku memilu.
Jika rindu adalah sajak-sajak bisu, maka aku ingin mendengar lantunanmu lewat senandung lagu. Agar bersatu sajakku yang patah. Karna kamu adalah rinduku dalam sajak yang tak pernah lekang oleh waktu.
Pernah kukhawatirkan rindu yang mengaliri tiap aliran darahku saat bayangmu melesat masuk kedalam dimensi ruang batinku. Saat cengkrama kita diantara derikan jangkrik dan seuntai cahaya dari rembulan yang tak lagi purnama. Sabit, dipenuhi bintang gemintang. Saat ceritaku memulai segalanya dalam ruang dengarmu, saat ceritamu menjadi dongeng untukku dalam ruang dengarku.
Dan cerita kita kian melarut, bersama waktu yang kian mengkerut. Adalah malam saat mula kita terpisah dari jarak sekian masa.
Dalam candaku, terpercik pendar-pendar asa yang meramu. Menguntaikannya menjadi kata sederhana dalam bahasa manusia yang menganggap itu tak biasa. Bisa saja katamu, semua takkan pernah ada yang tau. Dan pedulimu adalah rindu yang tertawar oleh waktu pilu, terpisah jarak mil beribu. Aku bisu dalam malam yang kian menyendu. Menyeka asa yang berlinang dalam sudut pandang mata. Tak biasa, tentu saja ini tabu. Kembali seperti menepuk genderang tabu yang takkan terdengar oleh manusia-manusia bumi. Tentu tak semua memahami, ada rindu yang menunggu dipenghujung waktu. Menunggu diantara ceritaku dan ceritamu. Mungkin kelak kan ada cerita kita. Mungkin, meski itu mustahil bagiku atau untukmu. Dan masing-masing kita menunggu di ruang rindu. Dengan tempat dan design yang berbeda bentuk. Aku -- Kamu. Kita? Entahlah. Kita masih sama, berada dalam ruang tunggu yang kita sebut rindu.
Mengenalmu, baru berbilang pada periode ke-tujuh. Kita sama, sama-sama menunggu waktu diruang rindu. Saling mendoakan, atau sesekali berbagi cerita dalam simposyum ruang rindu.
#Chapter
Ruang tunggu,
17.3.13
11 Mar 2013
Bersakit-sakit dahulu
Bosan, jenuh juga, mungkin itu yang saya rasakan sekarang di ruang petak ini. In My Room. Hari ini, saat senja menjelang nanti, mama papa akan berangkat menuju Kuala Lumpur. Karena dekat hari nanti kakak saya yang di Kuala Lumpur akan segera melahirkan anak keduanya. Itu artinya sesaat lagi ada keluarga baru di keluarga besar kami, dan bertambahlah keponakan saya yang tentunya kelak akan ngefans berat sama saya, seperti si Nurin yang ngefans berat sama bundanya yang satu ini. Hehehhe . . .
Nah, setiap kali-- dan ini udah kesekian kalinya ketika orang yang saya sayangi pergi meninggalkan saya maka kondisi kesehatan saya langsung menurun. Jadilah hari ini saya izin gak masuk kerja. Si kesehatannya down karna hanya dalam hitungan jam saja mama papa akan meninggalkan saya sendiri. Sebenernya saya gak sendiri sih, masih ada kakak saya, adik dan dua ponakan. Tapi ya tetap aja akan merasa kehilangan keberadaan mereka. Maka jadilah kondisi kesehatan saya terpengaruh sama kondisi psikologi yang sesungguhnya tidak ingin ditinggalkan. Pengen ikut, tapi katanya kudu gantian. Nanti setelah kedua orang tua saya balik ke Medan, barulah kemudian saya yang ke Kuala Lumpur. Menjenguk si kakak dan ponakan baru saya.
Ini bukan kejadian pertama loh. Dulu saat di Batam, ketika kakak saya pindah ke Tangerang, saya sampai sakit juga selama sepekan. Tersadar bahwa saya akan ditinggal sendiri di Pulau kecil itu. Dengan kondisi fisik yang melemah, saya melakukan semuanya sendiri. Tapi tidak, saya tidak sepenuhnya sendiri. Saya mempunyai sahabat-sahabat yang luar biasa baik kepada saya. Sahabat yang menghargai saya, mencintai dan menyayangi saya apa adanya saya.
Lalu, saat sahabat saya Noney suatu kali hendak pergi juga. Ketika itu dia bilang hendak keluar kota, untuk keperluan kerja. Jadilah saya sakit menjelang hari-hari terakhirnya di kantor. Hehe . . . mungkin ada yang bilang saya lebay kali ya, tapi ya begitu lah adanya . . . kondisi psikologis saya terlalu lemah ketika harus dihadapi dengan perginya orang-orang yang saya sayangi dalam keseharian yang saya lewati. Dan selalunya berdampak pada kesehatan dimana imunitas tubuh saya juga terbilang rendah.
Ketika ada yang pergi dari hari yang saya jalani rasanya seperti kehilangan puzzle dalam ruang kehidupan yang saya miliki. Kosong, meski sadar sebenarnya masih banyak potongan-potongan puzzle lainnya yang menemani.
Nah, setiap kali-- dan ini udah kesekian kalinya ketika orang yang saya sayangi pergi meninggalkan saya maka kondisi kesehatan saya langsung menurun. Jadilah hari ini saya izin gak masuk kerja. Si kesehatannya down karna hanya dalam hitungan jam saja mama papa akan meninggalkan saya sendiri. Sebenernya saya gak sendiri sih, masih ada kakak saya, adik dan dua ponakan. Tapi ya tetap aja akan merasa kehilangan keberadaan mereka. Maka jadilah kondisi kesehatan saya terpengaruh sama kondisi psikologi yang sesungguhnya tidak ingin ditinggalkan. Pengen ikut, tapi katanya kudu gantian. Nanti setelah kedua orang tua saya balik ke Medan, barulah kemudian saya yang ke Kuala Lumpur. Menjenguk si kakak dan ponakan baru saya.
Ini bukan kejadian pertama loh. Dulu saat di Batam, ketika kakak saya pindah ke Tangerang, saya sampai sakit juga selama sepekan. Tersadar bahwa saya akan ditinggal sendiri di Pulau kecil itu. Dengan kondisi fisik yang melemah, saya melakukan semuanya sendiri. Tapi tidak, saya tidak sepenuhnya sendiri. Saya mempunyai sahabat-sahabat yang luar biasa baik kepada saya. Sahabat yang menghargai saya, mencintai dan menyayangi saya apa adanya saya.
Lalu, saat sahabat saya Noney suatu kali hendak pergi juga. Ketika itu dia bilang hendak keluar kota, untuk keperluan kerja. Jadilah saya sakit menjelang hari-hari terakhirnya di kantor. Hehe . . . mungkin ada yang bilang saya lebay kali ya, tapi ya begitu lah adanya . . . kondisi psikologis saya terlalu lemah ketika harus dihadapi dengan perginya orang-orang yang saya sayangi dalam keseharian yang saya lewati. Dan selalunya berdampak pada kesehatan dimana imunitas tubuh saya juga terbilang rendah.
Ketika ada yang pergi dari hari yang saya jalani rasanya seperti kehilangan puzzle dalam ruang kehidupan yang saya miliki. Kosong, meski sadar sebenarnya masih banyak potongan-potongan puzzle lainnya yang menemani.
Hidup ibarat kaca
Kadang begitu rapuh dan kadang begitu angkuh
Bilapun ia pecah berserakan
Itu bukanlah akhir dari keindahan
Karena masih ada harapan dalam perjalanan panjang kehidupan
Kan ada yang menyusunnya kembali utuh
(Siluet Senja Quote's)
(Siluet Senja Quote's)
18 Feb 2013
Simfony Langit
Di pelataran senja yang merona, aku menari basah. Gelisahnya hujan menghardik pesonaku kala bercengkrama lewat jingganya. Melalui irama nada layang-layang aku bertitah: ini bahagiaku!
Senyum simpul terkulum tanda takzim yang tak lazim. Mengurai runut peristiwa sewindu dalam pancaran wewarna kelabu, atau mejikuhibiniu. Lukisan didinding itu kian gontai menggantung. Mungkin angin hebat menerpa kokoh ruangnya.
Perlahan waktu memberi jeda untuk mengurai masa, mengenang simfony nada yang pernah tercipta. Mungkin sesaat lagi, sedang aku masih terasing dalam diamku. Menunggu. Entah, apa kelak cukup masaku, berbagi cerita lewat butiran-butiran air mata bahagia atau mungkin lewat tawa yang berduka. Sedang potongan-potongan puzzle itu kian berkurang dari utuh. Satu persatu meluruh bersama waktu yang terus membunuh.
Aku butuh waktu. Menunggu atau terus berlabuh di dermaga bisu. Esok pasti kan menjelang, tentu saja dengan pengertian dan pemahaman yang berbeda. Jika pada akhirnya potongan-potongan puzzle itu kian meluruh, aku yakin kan ada yang datang menyusunnya kembali utuh. Bila nada-nada itu kian hilang, kelak kan ada yang memainkan nada-nada baru untukku. Meski ketukkannya tidak sama, tidak akan pernah sama. Selamanya . . .
Pergilah, sebagaimana keinginan Rabb atas jalan hidup kita.
9 Feb 2013
Melodi Pelangi
Hari ini, mentari hadir bersama pelangi.
Menghiasi mahkota langit di penghujung biru.
Menata cakrawala kelabu jadi pusaka rindu dalam tahta qalbu.
Mewarnai pagi lewat bias wewarna me-ji-ku-hi-bi-ni-u.
Memberai jingga jadi wewarna lelangit.
Membiru, berdawaikan senar rindu awan putih.
Menari-nari lewat kekata mesra penghujung senandung hujan.
Berlari-lari, bagai anak-anak kecil mengejar layangan.
Bersautan, bagai siulan burung dara diantara kemegahan pesta pernikahan si jantan dan si betina berbulu putih.
Hari ini, mentari hadir bersama pelangi.
Lewat celah daun pintu menelusup masuk bagai udara bebas tanpa batas.
Mengurai wewangi sinar embun fajar kala mentari beranjak sepenggalahan.
Tunaikan kewajiban, ditengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan.
Menjelujur doa doa hingga ke langit ke tujuh.
Hari ini, mentari hadir bersama pelangi.
Lalu pergi berganti.
***
Rindu Sepersekian
Untuk yang kesepersekian, meronta diatas temali yang mengkakukan simpulnya.
Menari membawa rindu diantara pusara kecemasan dan halaunya
Tiada bertemu lawan masa diantara dinding-dinding yang bicara
Hari semakin gulita bersama kepekaan makna yang kian tenggelam
Untuk yang kesepersekian kalinya, kembali didera masa yang tiada peduli sesak merona
Membuncah ke langit mengangkasa, memberaikan pusat aral yang melintang
Damai menyesak jadi retak, kutub-kutub menabrak polar menghentak
Jatuh berserakan, lalu memunguti puing-puing berhamburan.
Hendak dikemanakan langkah jika pijakan bertabur beling dan duri tajam yang siap menghujam perlahan.?! Menghembuskan aroma luka berdarah disepersekian masa.
Kutebar rinai lewat embun dalam genggaman daun pagi tadi, lalu ia menguap oleh sengat mentari kala siang dengan gagahnya bertualang di langit biru. Hujan sesaat, kembali gagah mentari membinarkan kilaunya.
Ada kalanya rindu itu menggantung untuk yang kesepersekian masa. Diamnya adalah bencana dalam prahara yang ia tiupkan sendiri. Menutup diri, mengulang hari, mendulang mimpi. Jatuh, pecah, berhamburan, bagai awan dilangit yang saling menghantam lawan kala hujan mendera bumi.
Padam api menyisakan asap, kuhirup sesak diruang pengap. Menghentikan langkah dalam ruang sepersekian masa. Jalan jauh itu masih harus kutempuh, meski peluh kian meluruh keseluruh tubuh.
Menari membawa rindu diantara pusara kecemasan dan halaunya
Tiada bertemu lawan masa diantara dinding-dinding yang bicara
Hari semakin gulita bersama kepekaan makna yang kian tenggelam
Untuk yang kesepersekian kalinya, kembali didera masa yang tiada peduli sesak merona
Membuncah ke langit mengangkasa, memberaikan pusat aral yang melintang
Damai menyesak jadi retak, kutub-kutub menabrak polar menghentak
Jatuh berserakan, lalu memunguti puing-puing berhamburan.
Hendak dikemanakan langkah jika pijakan bertabur beling dan duri tajam yang siap menghujam perlahan.?! Menghembuskan aroma luka berdarah disepersekian masa.
Kutebar rinai lewat embun dalam genggaman daun pagi tadi, lalu ia menguap oleh sengat mentari kala siang dengan gagahnya bertualang di langit biru. Hujan sesaat, kembali gagah mentari membinarkan kilaunya.
Ada kalanya rindu itu menggantung untuk yang kesepersekian masa. Diamnya adalah bencana dalam prahara yang ia tiupkan sendiri. Menutup diri, mengulang hari, mendulang mimpi. Jatuh, pecah, berhamburan, bagai awan dilangit yang saling menghantam lawan kala hujan mendera bumi.
Padam api menyisakan asap, kuhirup sesak diruang pengap. Menghentikan langkah dalam ruang sepersekian masa. Jalan jauh itu masih harus kutempuh, meski peluh kian meluruh keseluruh tubuh.
22 Jan 2013
Di Ujung Senja Rindu itu Membunuh
Seperti senja yang ku eja pada jingga. Warnamu hadir memberi keindahan pada separuh duniaku. Meski rindu kian pongah bergaduh. Sebab asaku jatuh terjerembab jauh melumpuh. Sempat ku sesalkan sesak rindu yang malu-malu. Kini bercendawan menyisakan luka haru. Berjalan, masih harus beribu waktu hingga sampai ke tempatmu. Berlari, masih harus berburu peluru hingga bersarang di dadamu. Takkan kau dengar sedikit petuahku. Duniamu - duniaku, berbeda itu jelas tak jemu. Sedang jenuh membunuh perlahan dalam diamku.
Langit masih bisu menertawakan tatap memelasku. Sampai sayu rindu itu membunuh. Dan tak terdengar lagi detak-detak irama qalbu. Nada biru kian kelabu bersama dawai yang pecah karna rubuh. Daun pintu menggesek perlahan menutup buku. Selaksa kian berjelaga dalam syair-syair bisu. Mimpi mimpi meluruh, bagai pasir tersapu ombak pasang. Kencang angin menerpa prahara layar perahu laju.
Lagu itu kian sumbang dari merdu. Jelas menyisakan luka yang merindu. Tawa yang kucipta dulu, musnah dalam debu. Canda yang kau riakkan lalu, hancur dalam semerbak kesturi yang meluluh. Kukirimkan lewat kekata embun kala pagi menyapa daun, kukirimkan lewat kekata hujan kala mendung memuntahkan rinai, kukirimkan lewat kekata mentari kala sengatnya menyapa pagi, kukirimkan lewat kekata angin kala hembusannya menerpa pepohonan di beranda rumah tuaku, kukirimkan kekata senandung senja kala pelangi hadir dalam biru jingga, kukirimkan pilu rindu yang masih tak habis dalam duka nestapa.
Diamku adalah melodi dalam remuk sepekat senja. Yang menjarah bahagia dalam sepersekian masa. Melebur dalam kehambaan. Melerai serbuk jingga dalam makna kehidupan. Deras, mengaliri cawan kemanusiaan. Gontai, tersudutkan kenyataan tak bertuan.
Lagu itu kian sumbang dari merdu. Jelas menyisakan luka yang merindu. Tanpa suaramu dalam sisi gelap terangku . . .
Di ujung Senja Rindu itu membunuh.
21 Jan 2013
18 Jan 2013
16 Agustus 2012
Rusuh,
Riuh,
Gemuruh,
Menyesak,
Diam,
Terpukul,
Tersabar,
Terkuak,
Memecah,
Menahan,
Air mata,
Sesal,
Membiru,
Duka,
Prahara,
Syukur,
Luka,
Sakit,
Tangisan,
Menghela nafas panjang,
Memojok,
Terisak,
Teriak,
Pelukan,
Empati,
Hiburan,
Duka,
Senyuman luka,
Tangis bahagia,
Berakhir, Nafas itu terhenti. Tak menoleh, hanya menatap. Diam. Tak menyadari. Berhenti berdetak. Menguning. Meregang. Kesakitan sang pesakitan. Begitu luka.
Amarah. Kebencian. Hingga harus meregang nyawa. Benarkah?
Jelujur keikhlasan. Jelujur berjuta kesabaran. Jelujur airmata pengantaran. Jelujur duka kehambaan. Terhenti pada satu masa. Empati merapat masa.
Innallaaha ma'ashobirin~
10 Jan 2013
Bukan
Bukan dia, tapi aku
Bukan disana, tapi disini
Bukan esok, tapi hari ini
Bukan hitam, tapi putih
Bukan merah, tapi biru
Bukan langit, tapi bumi
Entah~
Mawar berduri bukan untuk menyakiti, namun untuk melindungi diri.
Ruang Bisu,
10.1.13
Bukan disana, tapi disini
Bukan esok, tapi hari ini
Bukan hitam, tapi putih
Bukan merah, tapi biru
Bukan langit, tapi bumi
Entah~
Mawar berduri bukan untuk menyakiti, namun untuk melindungi diri.
Ruang Bisu,
10.1.13
Menunggu
Menunggu, tidak harus menggunakan momentum.
Pergipun nanti untuk apakah?
Sebuah ketulusan kah?
Atau berharap keajaiban terjadi.
Inikah jalan abadi itu?
Sedang kita teramat larut dalam ribuan pilihan di ujung mata
Sedang kesempatan mungkin tak datang untuk yang kedua
;bersabar untuk kesekian kali
Sebab dunia ini tak berbatas
Berjalan mengitarinya akan mengembalikan langkah ketempat semula.
Rabbi, . . Kau segalanya.
Ruang Bisu,
10.1.13
Pergipun nanti untuk apakah?
Sebuah ketulusan kah?
Atau berharap keajaiban terjadi.
Inikah jalan abadi itu?
Sedang kita teramat larut dalam ribuan pilihan di ujung mata
Sedang kesempatan mungkin tak datang untuk yang kedua
;bersabar untuk kesekian kali
Sebab dunia ini tak berbatas
Berjalan mengitarinya akan mengembalikan langkah ketempat semula.
Rabbi, . . Kau segalanya.
Ruang Bisu,
10.1.13
6 Jan 2013
Luka
Kau tau?
Luka itu kian menganga,
Entah untuk yang keberapa kalinya.
Meski berkali kucoba hentikannya
Namun berkali jua luka itu kian merekah
Entah untuk yang keberapa kalinya.
Tidak sadarkah?
Luka itu kian menganga,
Berkali kuredakan
Berkali pula kau robek dengan tajam belatimu.
Egomu, menghantam sisi diamku
Egomu, memporakporandakan ruang damaiku
Egomu, menyisakan luka berulang di tempat yang sama
;disini, di dada. Tempat segala asa merasa.
Luka itu kian menganga,
Entah untuk yang keberapa kalinya.
Meski berkali kucoba hentikannya
Namun berkali jua luka itu kian merekah
Entah untuk yang keberapa kalinya.
Tidak sadarkah?
Luka itu kian menganga,
Berkali kuredakan
Berkali pula kau robek dengan tajam belatimu.
Egomu, menghantam sisi diamku
Egomu, memporakporandakan ruang damaiku
Egomu, menyisakan luka berulang di tempat yang sama
;disini, di dada. Tempat segala asa merasa.
"Ia ibarat kaca yang berdebu, jangan terlalu keras membersihkannya. Nanti ia mudah retak dan pecah.
Ia ibarat kaca yang berdebu, jangan terlalu lembut membersihkannya. Nanti ia mudah keruh dan ternoda. Ia bagai permata keindahan, sentuhlah hatinya dengan kelembutan. Ia sehalus sutera di awan. jagalah hatinya dengan kesabaran.
Lemah lembutlah kepadanya, namun jangan terlalu memanjakannya. Tegurlah ia bila ia tersalah. Namun janganlah lukai hatinya."
Ruang Kosong,
6.1.13
30 Des 2012
Seperti Hujan
Seperti hujan,
Lewat rintiknya mengalun syahdu
Berganti deras
Bermula dari mendung yang bercerita tentang gelap
Sesekali disisipi oleh gemuruh yang menggetarkan bumi.
Seperti hujan,
Tiap rintik membasahi bumi
memasuki celahcelah sarang semut yang ditinggali koloninya
Menyerap hingga ke akar pohonpohon yang kering karna sengat mentari
Seperti hujan,
Rinduku mengalun syahdu
Rinainya meluap jadi basah di bumi.
"Mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu" (Letto)
Ruang Rindu,
30.12.2012
29 Des 2012
S.I.S.A - S.I.S.A
Hatiku pergi,
Meninggalkan debu sisasisa semangat
Menorehkan luka sisasisa perjuangan
Sungguh aku lelah,
Hingga akhirnya yang menghampiri benar menyerah setelah kuperjelas semua.
Ini tentang hati yang kurindukan damainya
Tentang hati yang bersahaja dengan bijaknya
Tentang hati yang penuh motivasi saat rapuh menjamah diri
Aku hanya sedang teramat lelah
Dan ingin mengakhiri semusim pengharapan ini
Lewat jejakjejak yang mungkin tertinggal jauh
Rabbi, Hapus peluh ini.
Hingga akhirnya kutemui yang benar memahami.
*Bekerja hingga terkadang mengabaikan kesehatan itu tak baik, aku teramat tau. Namun membiarkannya hingga ketika benar-benar kelelahan, menangis selalu menjadi pilihan. Melepas penat, merajut Pelangi dipenghujung badai ini. Dan kan selalu jadi penghibur hati Firman Allaah ini "Bersama kesulitan ada kemudahan"
Meninggalkan debu sisasisa semangat
Menorehkan luka sisasisa perjuangan
Sungguh aku lelah,
Hingga akhirnya yang menghampiri benar menyerah setelah kuperjelas semua.
Ini tentang hati yang kurindukan damainya
Tentang hati yang bersahaja dengan bijaknya
Tentang hati yang penuh motivasi saat rapuh menjamah diri
Aku hanya sedang teramat lelah
Dan ingin mengakhiri semusim pengharapan ini
Lewat jejakjejak yang mungkin tertinggal jauh
Rabbi, Hapus peluh ini.
Hingga akhirnya kutemui yang benar memahami.
*Bekerja hingga terkadang mengabaikan kesehatan itu tak baik, aku teramat tau. Namun membiarkannya hingga ketika benar-benar kelelahan, menangis selalu menjadi pilihan. Melepas penat, merajut Pelangi dipenghujung badai ini. Dan kan selalu jadi penghibur hati Firman Allaah ini "Bersama kesulitan ada kemudahan"
A.B.A.N.G
Ini foto Almarhum Bang Aan bersama istrinya. Foto ini diambil beberapa hari sebelum beliau meninggal. :')
Bagiku, ia kan tetap hidup. Bukan tetap, tapi masih. Kami terbiasa jarang bertemu, terbiasa pila hidup jauh. Meski dahulu masih serumah, tapi abang itu anak jalanan, kerjaannya keluyuran terus. Sedang aku, anak rumahan. Yang lebih betah berada di rumah, mencari inspirasi di dalam kamar. :)
Semoga Allaah mengampuni segala dosamu, Bang!
27 Des 2012
Rindu ~
Rindu . .
Tak sempat terkatakan oleh biruku
Maumu jadi mauku
Bertemankan jemu yang kadang menghantuiku.
Rindu . .
Berbatas rasa pada dimensi waktu
Mengalirkan gaungku
Yang menggema diantara sudut bisu.
Rindu . .
Tak sempat terkatakan lewat hijab qalbuku
Maluku perisaiku,
Dalam sekam ia menggebu biru
;Menahan rindu
Rindu . .
Diamdiam sukmaku mengalun syahdu
Mendendang rindu bertemumu di telaga itu.
Meliukkan nada qalbu
Seirama kita berdendang merdu.
Rindu . .
;Bertemumu dipenghujung waktu.
Kotak Putih Langit Madani,
27.12.12
Tak sempat terkatakan oleh biruku
Maumu jadi mauku
Bertemankan jemu yang kadang menghantuiku.
Rindu . .
Berbatas rasa pada dimensi waktu
Mengalirkan gaungku
Yang menggema diantara sudut bisu.
Rindu . .
Tak sempat terkatakan lewat hijab qalbuku
Maluku perisaiku,
Dalam sekam ia menggebu biru
;Menahan rindu
Rindu . .
Diamdiam sukmaku mengalun syahdu
Mendendang rindu bertemumu di telaga itu.
Meliukkan nada qalbu
Seirama kita berdendang merdu.
Rindu . .
;Bertemumu dipenghujung waktu.
Kotak Putih Langit Madani,
27.12.12
20 Des 2012
Tadi Malam
Riuh rimbun tanah basah
Gemerlap oleh hujan lelangit mengejawantah
Tubuhku remuk tertindih bau sengat mentari
Sudahkah aku boleh menyerah?
Atau masih terus berkelana dengan arus waktu yang menua?!
Lalu aku bicara pada Dia dalam redupnya mata
Meminta-minta dengan harap segera terijabah doadoa
Menyeret-nyeret rasa dengan percuma tanpa jeda
Sungguh Dia lebih tau apa-apa.
Dan pada-Nya kusandar segala lelah
;segala masalah, segala asa, segala masa
Sebab tiada dayaku tanpa-Nya.
Medan
20.12.2012
*Padang-Bukit Tinggi, Jogja-Bromo ~Semoga
Gemerlap oleh hujan lelangit mengejawantah
Tubuhku remuk tertindih bau sengat mentari
Sudahkah aku boleh menyerah?
Atau masih terus berkelana dengan arus waktu yang menua?!
Lalu aku bicara pada Dia dalam redupnya mata
Meminta-minta dengan harap segera terijabah doadoa
Menyeret-nyeret rasa dengan percuma tanpa jeda
Sungguh Dia lebih tau apa-apa.
Dan pada-Nya kusandar segala lelah
;segala masalah, segala asa, segala masa
Sebab tiada dayaku tanpa-Nya.
Medan
20.12.2012
*Padang-Bukit Tinggi, Jogja-Bromo ~Semoga
16 Des 2012
Menembus Batas Kehidupan
Kita menari, diantara dua bayangan. Hitam putih. Kau aku. Kita. Terus menari, mencari nada yang bersesuaian. Berkali berhenti atau mungkin terhenti, lalu kita pergi dan kembali membersamai hari. Menyapa lewat misykat qalbu, berkata lewat sajak yang patah, menepi lewat mimpi, berbagi, menginspirasi, bertukar pendapat, sesekali beradu argumentasi, lalu diam atau mungkin mendiamkan.
Kadang kekesalan itu hadir, ketika jelas berbuat kesalahan tiada gerak sapa untuk mengajukan kata maaf. Hanya butuh sapa kata, meski dihati, jauh dilubuk sebenarnya telah lebih dulu memberi maaf. Hanya mencari kepedulian diantara bekunya suasana bagai batu, seperti tak pernah menyatu sebelumnya.
Dan kadang diam untuk menghindar adalah kebaikan. Agar tiada celah amarah yang sejak kemarin tertahan terlampiaskan. Dan adakalanya pun diabaikan adalah sebuah kebaikan, ketika yang mencari-cari perhatian menjadi begitu ingin terus diperhatikan.
Hidup ini begitu, hidupmu, hidupku, hidup kita semua manusia. Berjalan sesuai dengan garis edarnya. Sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Yang telah terjadi, kita tak bisa lagi memilih. Yang akan terjadi nanti ada diantara kesempatan dan pilihan, atau jua ketentuan takdir Allaah.
Maka bersabarlah, ketika segala keinginan tak terwujud dengan segera. Allaah lebih tau apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka bersyukurlah, ketika memiliki segala yang telah ia beri meski kita begitu menginginkan yang lainnya.
Sebab Allaah tak pernah main-main dengan janji-Nya.
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
Kadang kekesalan itu hadir, ketika jelas berbuat kesalahan tiada gerak sapa untuk mengajukan kata maaf. Hanya butuh sapa kata, meski dihati, jauh dilubuk sebenarnya telah lebih dulu memberi maaf. Hanya mencari kepedulian diantara bekunya suasana bagai batu, seperti tak pernah menyatu sebelumnya.
Dan kadang diam untuk menghindar adalah kebaikan. Agar tiada celah amarah yang sejak kemarin tertahan terlampiaskan. Dan adakalanya pun diabaikan adalah sebuah kebaikan, ketika yang mencari-cari perhatian menjadi begitu ingin terus diperhatikan.
Hidup ini begitu, hidupmu, hidupku, hidup kita semua manusia. Berjalan sesuai dengan garis edarnya. Sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Yang telah terjadi, kita tak bisa lagi memilih. Yang akan terjadi nanti ada diantara kesempatan dan pilihan, atau jua ketentuan takdir Allaah.
Maka bersabarlah, ketika segala keinginan tak terwujud dengan segera. Allaah lebih tau apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka bersyukurlah, ketika memiliki segala yang telah ia beri meski kita begitu menginginkan yang lainnya.
Sebab Allaah tak pernah main-main dengan janji-Nya.
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
[ QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : 32]
#SangPembelajar
5 Nov 2012
Hujan . . .
Hujan . . .
Dan aku semakin kehilangan harapan yang tak bertuan
Termangu dalam keramaian yang seolah semu
Waktu seolah menindih begitu pilu
Ada apa gerangan diluar pintu?
Sedang hasrat terus mengeras jadi batu
Tiada sesuatu pun yang menau
Hidup pun seolah bisu.
Kotak Putih,
5.11.12
19 Okt 2012
#Lelah
Bu. . .
Aku lelah ,
Sudah bolehkah aku istirahat?
Atau masih harus terus berjuang dengan sisasisa kekuatanku?
Sedang aku teramat lelah ,
Bu. . .
Aku mengeluh ,
Tidak bolehkan aku jenuh?
Atau masih harus terus menggebu dengan puingpuing semangat yang pecah berserakan?
Sedang aku teramat lelah ,
Sedang aku teramat lelah ,
Bu. . .
Dekap aku lebih erat.
Langganan:
Postingan (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
Just wanna say I miss You so much Maaf aku menangis lagi. Aku hanya merindukanmu,
-
Seperti semuanya ditadirkan sedemikian rupa. Hnh . . . sahabat, maafkan aku yang belum mampu menjangkau semua luka dan sedih kalian, maafkan...







