"Fyuhhhhhh. . . . "
"Kenapa?"
"Wajahnya nongol dimana-mana. Padahal gak temenan sama dia kok di pesbuk."
"Loh kok bisa?"
"Iya, udah rada ngartis sekarang. Jadi makin Famous. Tau sendiri dia dari keluarga mana"
"Hehe. . . iya sih."
"Terganggu?"
"Hm. . . menurut lo?"
"Hehe. . . iya iya ngerti."
Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan
18 Jan 2013
17 Jan 2013
Cinta Terakhir
"Sudah kubilang kalau aku menyukainya."
"Benarkah begitu?"
"Ya, aku sangat menyukainya. Kali ini aku serius."
"Apa yang membuatmu begitu menyukainya?"
"Sejak kecil, aku menyukainya sedari kecil. bahkan sangat menginginkannya sedari dulu. Tapi mamak melarangku."
"Ya wajar kan kalau mamak melarangmu."
"Iya, aku tau. Kami hanya dari orang biasa-biasa saja. Bahkan pas-pasan untuk hidup."
"Setidaknya sekarang jalanmu semakin dekat bukan?!"
"Iya, Nanti kalau aku sudah punya uang sendiri, akan kubeli kamera yang terbaik. Hahaha . . ."
"Hahaha . . . Aamiin, aku siap kok jadi modelnya."
"Boleh sih, asal bayar aja. Bayar bayarrrr. . . hahaha"
"Hahaha . . . Aku dong yang harusnya dibayar."
"Yee. . . enak aja, ko lah yang bayar awak. kan awak photographernya."
"Amatiran puunnn."
"Setidaknya ada yang bagus kan jepretannya. Mantap punya lah pokoknya."
"Hahaha. . . Gratis lah."
"Es campur, dah murah ituu. es campur sama siomay depan Cikal USU. Sekalian kapan-kapan hunting foto disitu. hehehe . . . "
"Hehe . . "
"Es campur pokoknya :p "
"Benarkah begitu?"
"Ya, aku sangat menyukainya. Kali ini aku serius."
"Apa yang membuatmu begitu menyukainya?"
"Sejak kecil, aku menyukainya sedari kecil. bahkan sangat menginginkannya sedari dulu. Tapi mamak melarangku."
"Ya wajar kan kalau mamak melarangmu."
"Iya, aku tau. Kami hanya dari orang biasa-biasa saja. Bahkan pas-pasan untuk hidup."
"Setidaknya sekarang jalanmu semakin dekat bukan?!"
"Iya, Nanti kalau aku sudah punya uang sendiri, akan kubeli kamera yang terbaik. Hahaha . . ."
"Hahaha . . . Aamiin, aku siap kok jadi modelnya."
"Boleh sih, asal bayar aja. Bayar bayarrrr. . . hahaha"
"Hahaha . . . Aku dong yang harusnya dibayar."
"Yee. . . enak aja, ko lah yang bayar awak. kan awak photographernya."
"Amatiran puunnn."
"Setidaknya ada yang bagus kan jepretannya. Mantap punya lah pokoknya."
"Hahaha. . . Gratis lah."
"Es campur, dah murah ituu. es campur sama siomay depan Cikal USU. Sekalian kapan-kapan hunting foto disitu. hehehe . . . "
"Hehe . . "
"Es campur pokoknya :p "
31 Des 2012
Sketsa Akhir Bulan
Semua diakhiri dengan kalimat yang tak menyiratkan makna dengan jelas, atau mungkin aku yang tak mengerti? Bukankah lembayung senja telah berakhir dan malam telah jelas menjelang? Tapi masih saja pikiranmu teralihkan oleh masa lalumu. Tidakkah cukup aku bagimu? Sedang aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagimu, untuk selalu ada disisimu. Dalam sisi gelap terangku.
Pernah aku coba tuk meninggalkanmu, tapi lagi-lagi aku kembali ke tempat yang sama, kembali berdiri di depan pimtumu yang terbuka. Aku masuki dengan mengetuk sebelumnya, kau diam. Dan aku hanya bisa terdiam ketika tau didalamnya masih ada dia, masa lalumu. Kau tak pernah melarangku masuk, kau membiarkanku yang mencari tau tentang sederet masa lalumu. Tidakkah kau rasakan perihnya aku ketika kau membiarkan masa lalumu ada diantara kita?
---------------------------
*Ini tadinya mau buat cerita galau gitu, yang ujung2nya sebenernya ini bukan cerita tentang cinta segitiga anak manusia. Melainkan cinta segitiga antara aku, Hp Samsung dan Hp Sonerku si Wipi. Nah, gegara bolak balik dipanggil babeh, jadilah cerita ini terputus, masuk keluar kamar (ruang inspirasiku). Nulisnya dari ba'da magrib, kembalinya ke laptop jam 9an malam. Yoweslah . . . lali aku mau nyambung ceriteranya gimana. Inspirasinya ilang gegara letusan terompet dan tiupan kembang api di luar.
Nunggu malam semakin larut pun kayaknya gak guna. Secara makin tengah malam, makin bising pulalah orang-orang. Tapi mending tutup telinga pake headshet. Puter volume full, lagu cadass (*Eh tapi lagu cadas itu yg kayak apa sih?) Hahaha . . . sok nge-Punk pake lagu cadas segala. Palingan muter backsoundnya blog si Noney :D (yg meloww melooww semriwiiiing)
Baiklah, jadi agak gak jelas ceritanya kan. Beginilah edisi ngejar target tulisan dadakan. ~_~
Pernah aku coba tuk meninggalkanmu, tapi lagi-lagi aku kembali ke tempat yang sama, kembali berdiri di depan pimtumu yang terbuka. Aku masuki dengan mengetuk sebelumnya, kau diam. Dan aku hanya bisa terdiam ketika tau didalamnya masih ada dia, masa lalumu. Kau tak pernah melarangku masuk, kau membiarkanku yang mencari tau tentang sederet masa lalumu. Tidakkah kau rasakan perihnya aku ketika kau membiarkan masa lalumu ada diantara kita?
---------------------------
*Ini tadinya mau buat cerita galau gitu, yang ujung2nya sebenernya ini bukan cerita tentang cinta segitiga anak manusia. Melainkan cinta segitiga antara aku, Hp Samsung dan Hp Sonerku si Wipi. Nah, gegara bolak balik dipanggil babeh, jadilah cerita ini terputus, masuk keluar kamar (ruang inspirasiku). Nulisnya dari ba'da magrib, kembalinya ke laptop jam 9an malam. Yoweslah . . . lali aku mau nyambung ceriteranya gimana. Inspirasinya ilang gegara letusan terompet dan tiupan kembang api di luar.
Nunggu malam semakin larut pun kayaknya gak guna. Secara makin tengah malam, makin bising pulalah orang-orang. Tapi mending tutup telinga pake headshet. Puter volume full, lagu cadass (*Eh tapi lagu cadas itu yg kayak apa sih?) Hahaha . . . sok nge-Punk pake lagu cadas segala. Palingan muter backsoundnya blog si Noney :D (yg meloww melooww semriwiiiing)
Baiklah, jadi agak gak jelas ceritanya kan. Beginilah edisi ngejar target tulisan dadakan. ~_~
30 Des 2012
Bulan Berpelangi
~Dibalik jendela kamar
"Kinan, lihat ke langit, di luar ada pelangi."
"Pelangi?"
"Iya, pelangi. Kau harus menyaksikannya."
"Tapi tidak ada pelangi di malam hari, Garaa"
"Ada, makanya kau keluar, lihatlah. Aku tunggu kau di jembatan bambu."
-----------
~Jembatan Bambu
"Itu bukan pelangi. Pelangi takkan muncul dimalam hari, Garaa!!"
"Lalu, jika bukan pelangi, itu apa? karna bagiku sama saja. Warnanya juga sama seperti pelangi."
"Itu Halo Bulan."
"Halo bulan? apakah halo bintang juga ada?"
"Isshh, kau ini! akan kucubit kau ya!"
"Ampun ampun, jangan Kinan , cubitanmu terlalu sakit. Aku jadi bohong pada ibu ketika sebulan yang lalu kau mencubitku. Aku bilang saja terbentur paku. Aku tak mau ibu memarahimu."
"Halo bulan disebabkan oleh pembiasan cahaya bulan yang merupakan cermin sinar matahari, dari kristal es di bagian atas atmosfer."
"Dan Kristal es ini berasal dari pembekuan super tetesan air dingin dan ada di awan cirrus yang terletak di ketinggian 20.000 kaki atau lebih. Kristal ini berperilaku seperti permata pembiasan, dan mencerminkan ke arah yang berbeda. "
"Kau tau?"
"Aku mengerjaimu. Hahaha. . . "
"Garaaa. . . awas kau ya. Kau selalu saja mencari gara-gara kepadaku!"
"Hahah. . . ampun tuan putri. Ampuun. . .
"Aku mau pulang!"
"Kinan . . . Aku hanya ingin bertemumu. Sudah lama sekali sejak sebulan yang lalu. Kau tau, aku rindu.
"Hei, apa kau demam?"
"Aku baik-baik saja, Kinan."
"Sejak kapan kau mengerti rindu, bocah ^^"
"Sejak aku menyadari ada rasa yang lain di hatiku ketika tak bertemu denganmu."
"Adik yang manis, aku pulang dulu."
"Aku mencintaimu, Kinan."
Deg . . .
"Gara, kau jangan cari gara-gara."
"Tidak, aku tak cari gara-gara padamu, tapi sebaliknya, aku mencarimu."
Hening . . .
"Kinan, lihat ke langit, di luar ada pelangi."
"Pelangi?"
"Iya, pelangi. Kau harus menyaksikannya."
"Tapi tidak ada pelangi di malam hari, Garaa"
"Ada, makanya kau keluar, lihatlah. Aku tunggu kau di jembatan bambu."
-----------
~Jembatan Bambu
"Itu bukan pelangi. Pelangi takkan muncul dimalam hari, Garaa!!"
"Lalu, jika bukan pelangi, itu apa? karna bagiku sama saja. Warnanya juga sama seperti pelangi."
"Itu Halo Bulan."
"Halo bulan? apakah halo bintang juga ada?"
"Isshh, kau ini! akan kucubit kau ya!"
"Ampun ampun, jangan Kinan , cubitanmu terlalu sakit. Aku jadi bohong pada ibu ketika sebulan yang lalu kau mencubitku. Aku bilang saja terbentur paku. Aku tak mau ibu memarahimu."
"Halo bulan disebabkan oleh pembiasan cahaya bulan yang merupakan cermin sinar matahari, dari kristal es di bagian atas atmosfer."
"Dan Kristal es ini berasal dari pembekuan super tetesan air dingin dan ada di awan cirrus yang terletak di ketinggian 20.000 kaki atau lebih. Kristal ini berperilaku seperti permata pembiasan, dan mencerminkan ke arah yang berbeda. "
"Kau tau?"
"Aku mengerjaimu. Hahaha. . . "
"Garaaa. . . awas kau ya. Kau selalu saja mencari gara-gara kepadaku!"
"Hahah. . . ampun tuan putri. Ampuun. . .
"Aku mau pulang!"
"Kinan . . . Aku hanya ingin bertemumu. Sudah lama sekali sejak sebulan yang lalu. Kau tau, aku rindu.
"Hei, apa kau demam?"
"Aku baik-baik saja, Kinan."
"Sejak kapan kau mengerti rindu, bocah ^^"
"Sejak aku menyadari ada rasa yang lain di hatiku ketika tak bertemu denganmu."
"Adik yang manis, aku pulang dulu."
"Aku mencintaimu, Kinan."
Deg . . .
"Gara, kau jangan cari gara-gara."
"Tidak, aku tak cari gara-gara padamu, tapi sebaliknya, aku mencarimu."
Hening . . .
Cinta Photograper
"Jadi benar kau menyukai fotographer itu? dan berita itu bukan gosip murahan yang diceritakan orang dapur belaka?"
"Iya wi, benar."
"Oh Dearrr. . . apa yang ada dalam otakmu? apa yang kau lihat dari fotographer itu??"
"Dia gak urak-urakan, itu karakternya, style-nya macho."
"Ih wa, sarap lu yee."
"Itu seni wi!"
"Yaelah, sejak kapan lu ngerti seni?? Gini deh wa, lu putuskan harapan lu ke dia. lu sama dia itu gak cocok. Sma sekali gak cocok.
"Yaah. . . wiii, jangan gitu dong. Dukung ai dong."
"Ah, ogah wa. Kalo gosip yang beredar lu suka sama si Pak Arsitek mah gue dukung. Lah ini sama si kucel photograper. Ogah gilaa gue."
"Yaah wii, sama sahabat sendiri juga masa gitu sih wii"
"Lagian dirimu aneh-aneh aja wa. Mosok yoo manager jatuh cintanya sama photograper, mbok ya sama yg agak berkelass gitu ngapa wii. Tuh si Pak Arsitek deh wii, dia roman-romannya demen sama lu."
"Ih wi mah gak asik, sebenernya mah wi bukan jatuh cinta sama orangnya wiii."
"Lah teruusss??"
"Ai jatuh cinta sama itu photograperr yang dibawa-bawanya tiap hariii"
"Astagaa, waa. . . lu menejer apaan sih?? ituuu namanya kameraa, bukan fotographerrr."
"Iya wi, maksudnya ai juga gituuu"
Gubraakkss @#$%^&*+
*Nyoba2 buat Flash Fiction, selalu susah nyari ide yang keren kalau buat cerita kayak gini. Hehe
"Iya wi, benar."
"Oh Dearrr. . . apa yang ada dalam otakmu? apa yang kau lihat dari fotographer itu??"
"Dia gak urak-urakan, itu karakternya, style-nya macho."
"Ih wa, sarap lu yee."
"Itu seni wi!"
"Yaelah, sejak kapan lu ngerti seni?? Gini deh wa, lu putuskan harapan lu ke dia. lu sama dia itu gak cocok. Sma sekali gak cocok.
"Yaah. . . wiii, jangan gitu dong. Dukung ai dong."
"Ah, ogah wa. Kalo gosip yang beredar lu suka sama si Pak Arsitek mah gue dukung. Lah ini sama si kucel photograper. Ogah gilaa gue."
"Yaah wii, sama sahabat sendiri juga masa gitu sih wii"
"Lagian dirimu aneh-aneh aja wa. Mosok yoo manager jatuh cintanya sama photograper, mbok ya sama yg agak berkelass gitu ngapa wii. Tuh si Pak Arsitek deh wii, dia roman-romannya demen sama lu."
"Ih wi mah gak asik, sebenernya mah wi bukan jatuh cinta sama orangnya wiii."
"Lah teruusss??"
"Ai jatuh cinta sama itu photograperr yang dibawa-bawanya tiap hariii"
"Astagaa, waa. . . lu menejer apaan sih?? ituuu namanya kameraa, bukan fotographerrr."
"Iya wi, maksudnya ai juga gituuu"

Gubraakkss @#$%^&*+
*Nyoba2 buat Flash Fiction, selalu susah nyari ide yang keren kalau buat cerita kayak gini. Hehe
13 Nov 2012
Hujan di Langit Senja #3
"Senja, kenalkan ini Dew."
"Dew??!!", Senja membatin.
"Hai Senja, aku Dew", sembari mengulurkan tangan.
"Hai", saut Senja dingin.
"Rain?"
"Aku antar Dew pulang dulu. Kau tunggu disini."
-Hening-
"Sampai ketemu lain waktu, Senja. Senang berkenalan denganmu"
"Ya, begitupun aku . . .", kalimat senja terpenggal. Dew memberikan senyuman manisnya kepada senja. "Aku tak ingin mengenalmu. Rain", batinnya.
-------- di bawah rintikan hujan -----------
"Siapa Dew?"
"Dew? Hm . . . Yap, Dew itu semangatku."
"Lalu aku? Bonekamu?"
"Haha . . . kau boneka kecilku yang manis"
"Tak perlu tertawa. Kenapa kau begitu Rain?", mata Senja berkaca-kaca.
"Senjaa . . ."
"Kenapa kau begitu padaku? Kenapa kau tega padaku?"
"Senja, maksudmu apa?"
"Rain. Kenapa kau beri aku harapan itu jika pada akhirnya kau sendiri yang menghancurkannya?"
"Senja, dengar . . ."
"Harusnya kau tak datang saat hujan deras itu menghantam tubuh biruku. Harusnya kau tak perlu memberi payung teduh milikmu untuk melindungiku. Harusnya kau . . .", berai airmata senja, sesunggukan. "Dew. Gadis itu. Harusnya aku tau. Harusnya aku sadar sedari dulu."
"Senja, aku tak bermaksud melu. . .", gantung. Petir menyambar. Senja terjatuh menggenggam tanah. Bajunya basah, kuyup. Airmatanya menyatu bersama hujan.
"Rain . . . harusnya aku tak mengenalmu. Harusnya kau tak membangun harapan-harapanku padamu. Harusnya kau tak perlu peduli padaku. Harusnya aa kuu tak menge-nalmu", senja sesenggukan.
"Senja, sungguh. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak bermaksud membuatmu begini"
"Rain, kau tau?! Kau datang disaat aku merasa terpuruk dengan hidupku. Kau menghiburku dengan caramu. Kau . . . . .", Done!
--------------------------------------------
"Senja . . . kau sudah sadar?"
"Di mana ini?"
"Di rumah sakit. Kau pingsan. Tidak makan lagi ya seharian?"
"Aku lupa."
"Dasar Senja! Kau selalu begitu. Aku marah kalau kau tidak makan."
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku lebih kuat dari yang kau tau."
"Huh! masih membela diri saja"
"Rayhan . . ."
"Ya. eh? Apa? Kau menyebut namaku "Raihan"?!?!
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah dengan semangatmu dan jangan pedulikan aku. Maaf jika selama ini aku selalu merepotkanmu atau membuatmu terganggu. Maaf Rain . . ., kau tau . . . Jangan pernah memasuki kehidupan seseorang jika kau hanya akan menghancurkannya."
---------------------------------------------
"Kak Ray. Bangun, kau tertidur. Dimana Senja?" Ray kaget terbangun, dilihatnya jam ditangannya menunjukkan pukul delapan pagi. Semalaman iya tertidur menunggui senja yang tak jua siuman sampai akhirnya ia tertidur. "Senja dimana? tanya Ratih yang baru saja datang ke Rumah sakit.
"Seharusnya senja disini", seru Ray yang mulai panik. "Susteerr", Ray setengah berlari menuju ruang suster jaga. "Pasien . . . Senjaa . . . dimana??"
"Oh, Ibu Senja sudah pulang pukul enam tadi pak. Beliau menitipkan ini.", suster tersebut menyerahkan secarik memo rumah sakit yang ditulisi senja dengan beberapa kalimat singkat.
"Senja pergi"
"Pergi kemana kak?"
--Hening --
Sinar mentari seolah padam dari teriknya. Dunia serasa gelap bagi senja. Baginya mengekang perasaan adalah seperti sebuah keharusan. "Rasa itu harus kubunuh, dengan atau tanpamu".
Rain. Senja begitu mencintai sebutan itu, mungkin pun pada sosok yang selama ini mengisi hari-harinya. R-a-i-n ---- Hujan, filosofinya yang menenangkan. Tapi tidak lagi. Mungkin.
Dan Rain . . . tahukah kau? sekarang bagiku, setiap harinya adalah hujan di langitku.
Dan Rain . . . tahukah kau? hujan selalu menemani senjaku di kota ini. Tanpa jeda, dan malam langsung menyekatku.
Dan Rain . . . tahukah kau? Aku bahagia jika kau bahagia, meski perih ini adalah luka.
Dan Rain . . . tahukah kau? Aku sudah mendengar kabar bahagiamu bersama Dew. Meski di kota kecil ini, meski aku mengasingkan diri dari apapun yang memungkinkan tentangmu sampai ke telingaku. Aku belajar mengikhlaskan diri, aku belajar untuk mengikhlaskan apa-apa yang bukan milikku . . .
*End
--------------------------------------------------------
~Senja
13.11.12
"Dew??!!", Senja membatin.
"Hai Senja, aku Dew", sembari mengulurkan tangan.
"Hai", saut Senja dingin.
"Rain?"
"Aku antar Dew pulang dulu. Kau tunggu disini."
-Hening-
"Sampai ketemu lain waktu, Senja. Senang berkenalan denganmu"
"Ya, begitupun aku . . .", kalimat senja terpenggal. Dew memberikan senyuman manisnya kepada senja. "Aku tak ingin mengenalmu. Rain", batinnya.
-------- di bawah rintikan hujan -----------
"Siapa Dew?"
"Dew? Hm . . . Yap, Dew itu semangatku."
"Lalu aku? Bonekamu?"
"Haha . . . kau boneka kecilku yang manis"
"Tak perlu tertawa. Kenapa kau begitu Rain?", mata Senja berkaca-kaca.
"Senjaa . . ."
"Kenapa kau begitu padaku? Kenapa kau tega padaku?"
"Senja, maksudmu apa?"
"Rain. Kenapa kau beri aku harapan itu jika pada akhirnya kau sendiri yang menghancurkannya?"
"Senja, dengar . . ."
"Harusnya kau tak datang saat hujan deras itu menghantam tubuh biruku. Harusnya kau tak perlu memberi payung teduh milikmu untuk melindungiku. Harusnya kau . . .", berai airmata senja, sesunggukan. "Dew. Gadis itu. Harusnya aku tau. Harusnya aku sadar sedari dulu."
"Senja, aku tak bermaksud melu. . .", gantung. Petir menyambar. Senja terjatuh menggenggam tanah. Bajunya basah, kuyup. Airmatanya menyatu bersama hujan.
"Rain . . . harusnya aku tak mengenalmu. Harusnya kau tak membangun harapan-harapanku padamu. Harusnya kau tak perlu peduli padaku. Harusnya aa kuu tak menge-nalmu", senja sesenggukan.
"Senja, sungguh. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak bermaksud membuatmu begini"
"Rain, kau tau?! Kau datang disaat aku merasa terpuruk dengan hidupku. Kau menghiburku dengan caramu. Kau . . . . .", Done!
--------------------------------------------
"Senja . . . kau sudah sadar?"
"Di mana ini?"
"Di rumah sakit. Kau pingsan. Tidak makan lagi ya seharian?"
"Aku lupa."
"Dasar Senja! Kau selalu begitu. Aku marah kalau kau tidak makan."
"Semuanya akan baik-baik saja. Aku lebih kuat dari yang kau tau."
"Huh! masih membela diri saja"
"Rayhan . . ."
"Ya. eh? Apa? Kau menyebut namaku "Raihan"?!?!
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah dengan semangatmu dan jangan pedulikan aku. Maaf jika selama ini aku selalu merepotkanmu atau membuatmu terganggu. Maaf Rain . . ., kau tau . . . Jangan pernah memasuki kehidupan seseorang jika kau hanya akan menghancurkannya."
---------------------------------------------
"Kak Ray. Bangun, kau tertidur. Dimana Senja?" Ray kaget terbangun, dilihatnya jam ditangannya menunjukkan pukul delapan pagi. Semalaman iya tertidur menunggui senja yang tak jua siuman sampai akhirnya ia tertidur. "Senja dimana? tanya Ratih yang baru saja datang ke Rumah sakit.
"Seharusnya senja disini", seru Ray yang mulai panik. "Susteerr", Ray setengah berlari menuju ruang suster jaga. "Pasien . . . Senjaa . . . dimana??"
"Oh, Ibu Senja sudah pulang pukul enam tadi pak. Beliau menitipkan ini.", suster tersebut menyerahkan secarik memo rumah sakit yang ditulisi senja dengan beberapa kalimat singkat.
"Pergilah hati, jangan kembali. Datanglah bila kau telah pulih.""Senja bilang apa kak?" Tanya Ratih penasaran.
(Mei -- 2005)~Senja
"Senja pergi"
"Pergi kemana kak?"
--Hening --
Sinar mentari seolah padam dari teriknya. Dunia serasa gelap bagi senja. Baginya mengekang perasaan adalah seperti sebuah keharusan. "Rasa itu harus kubunuh, dengan atau tanpamu".
Rain. Senja begitu mencintai sebutan itu, mungkin pun pada sosok yang selama ini mengisi hari-harinya. R-a-i-n ---- Hujan, filosofinya yang menenangkan. Tapi tidak lagi. Mungkin.
Dan Rain . . . tahukah kau? sekarang bagiku, setiap harinya adalah hujan di langitku.
Dan Rain . . . tahukah kau? hujan selalu menemani senjaku di kota ini. Tanpa jeda, dan malam langsung menyekatku.
Dan Rain . . . tahukah kau? Aku bahagia jika kau bahagia, meski perih ini adalah luka.
Dan Rain . . . tahukah kau? Aku sudah mendengar kabar bahagiamu bersama Dew. Meski di kota kecil ini, meski aku mengasingkan diri dari apapun yang memungkinkan tentangmu sampai ke telingaku. Aku belajar mengikhlaskan diri, aku belajar untuk mengikhlaskan apa-apa yang bukan milikku . . .
*End
--------------------------------------------------------
~Senja
13.11.12
19 Okt 2012
Hujan di Langit Senja #2
"Diluar hujan, aku kedinginan"
"Rain . . . "
"Ya. "
"Disini juga hujan. Deras."
"Apa sudah banjir?"
"Mungkin."
"Kau baik-baik saja, senja?"
"Aku tidak yakin."
"Kau dimana?? biar kutemani."
"Dibawah hujan"
"Gunakan Payung teduh itu, senja"
"Payungnya tidak mau terbuka."
"Senja . . . Jangan menangis lagi."
"Aku tak pernah ingin melakukannya, Rain"
"Aku akan ketempatmu sekarang."
"Tidak bisa Rain, Kau tidak bisa ketempatku dan pula tak mungkin"
"Apanya yang gak mungkin?"
"Rain. . ."
"Ya."
"Terimakasih"
"Rain . . . "
"Ya. "
"Disini juga hujan. Deras."
"Apa sudah banjir?"
"Mungkin."
"Kau baik-baik saja, senja?"
"Aku tidak yakin."
"Kau dimana?? biar kutemani."
"Dibawah hujan"
"Gunakan Payung teduh itu, senja"
"Payungnya tidak mau terbuka."
"Senja . . . Jangan menangis lagi."
"Aku tak pernah ingin melakukannya, Rain"
"Aku akan ketempatmu sekarang."
"Tidak bisa Rain, Kau tidak bisa ketempatku dan pula tak mungkin"
"Apanya yang gak mungkin?"
"Rain. . ."
"Ya."
"Terimakasih"
4 Sep 2012
~Ge
Aku mengenalmu lewat tulisan, lewat irama kata dalam nada-nda tanpa suara. Mengenalmu adalah suatu keberuntungan. Mengenalmu adalah suatu keniscayaan takdir Allaah yang tak bisa kuelakkan. Mengenalmu, mengantarkanku untuk mengenal yang lainnya, hingga kami bersahabat begitu dekat.
Jika menurutmu perpisahan yang terjadi adalah keinginanku, maka kau salah berpikir begitu. Inilah takdir dari Dia Yang Mahamenentukan. Takkan aku sesalkan tiap kejadian karena setiap peristiwa dalam kehidupan mengajarkanku akan arti perjalanan kehidupan itu sendiri. Kau tentu tau, bahwa harapan tanpa iman hanyalah kekecewaan.
Dan keikhlasan kan mengajarkan kita arti maaf yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam kata, tapi meyakini dalam hati. Tak perlu kata mengucapkan "Aku memaafkanmu", tapi iringilah, ajarkanlah hatimu untuk mengungkapkan itu. Keikhlasan itu memang tidak mudah, pun ia juga bukan hal yang sulit.
Dan tiap-tiap orang pasti punya alasan ketika melakukan sesuatu, meski tanpa penjelasan yang membuatmu mengerti akan "hal" itu.
Ge ~GudLuck
Ge ~GudBye
*Sapaku beberapa hari lalu hanya ingin mengabarkan bahwa aku baru saja kehilangan salah satu orang yang paling aku sayangi dalam hidupku. Yaitu abangku, namun maaf jika sapa itu justru membuatmu risih. Tiada sedikitpun maksud utk hal yang lain. Ketenaranmu sekarang pun aku baru tahu akhir-akhir ini. Selamat untukmu, atas impian yang telah kau capai. Dan kabar duka itu pun kurasa tak perlu kusampaikan padamu.
Jika menurutmu perpisahan yang terjadi adalah keinginanku, maka kau salah berpikir begitu. Inilah takdir dari Dia Yang Mahamenentukan. Takkan aku sesalkan tiap kejadian karena setiap peristiwa dalam kehidupan mengajarkanku akan arti perjalanan kehidupan itu sendiri. Kau tentu tau, bahwa harapan tanpa iman hanyalah kekecewaan.
Dan keikhlasan kan mengajarkan kita arti maaf yang sesungguhnya. Bukan hanya dalam kata, tapi meyakini dalam hati. Tak perlu kata mengucapkan "Aku memaafkanmu", tapi iringilah, ajarkanlah hatimu untuk mengungkapkan itu. Keikhlasan itu memang tidak mudah, pun ia juga bukan hal yang sulit.
Dan tiap-tiap orang pasti punya alasan ketika melakukan sesuatu, meski tanpa penjelasan yang membuatmu mengerti akan "hal" itu.
Ge ~GudLuck
Ge ~GudBye
*Sapaku beberapa hari lalu hanya ingin mengabarkan bahwa aku baru saja kehilangan salah satu orang yang paling aku sayangi dalam hidupku. Yaitu abangku, namun maaf jika sapa itu justru membuatmu risih. Tiada sedikitpun maksud utk hal yang lain. Ketenaranmu sekarang pun aku baru tahu akhir-akhir ini. Selamat untukmu, atas impian yang telah kau capai. Dan kabar duka itu pun kurasa tak perlu kusampaikan padamu.
28 Jun 2012
Hujan di Langit Senja #1
"Sudah . . . sudah . . . jangan menangis"
"Dasar bod*h, siapa yang menangis?!"
"Itu . . . air matamu menetes terus"
"Ini air hujan!"
"Dasar senja! Pintar sekali kau beralibi."
"Tidak."
"Huh, ini pakai sapu tanganku"
"Itu basah, takkan bisa mengeringkannya"
"Kau kenapa lagi?"
"Menunggu hujan reda."
"Bukannya sejak tadi payung teduh ini melindungimu, senja"
"Tidak."
"Bagaimana buat hujanmu mereda?"
. . . . . Hening. . . . . dan hujan itu kian deras mengalir . . . .
"Senja, tenanglah, ada aku membersamaimu. Jika ada yang membuat hujanmu turun begitu derasnya, izinkan aku meredakannya untukmu, atau setidaknya melindungimu dibawah payung teduh ini"
"Rain. . . . "
"Ya."
"Terimakasih"
Sumber gambar : Google Image
"Dasar bod*h, siapa yang menangis?!"
"Itu . . . air matamu menetes terus"
"Ini air hujan!"
"Dasar senja! Pintar sekali kau beralibi."
"Tidak."
"Huh, ini pakai sapu tanganku"
"Itu basah, takkan bisa mengeringkannya"
"Kau kenapa lagi?"
"Menunggu hujan reda."
"Bukannya sejak tadi payung teduh ini melindungimu, senja"
"Tidak."
"Bagaimana buat hujanmu mereda?"
. . . . . Hening. . . . . dan hujan itu kian deras mengalir . . . .
"Senja, tenanglah, ada aku membersamaimu. Jika ada yang membuat hujanmu turun begitu derasnya, izinkan aku meredakannya untukmu, atau setidaknya melindungimu dibawah payung teduh ini"
"Rain. . . . "
"Ya."
"Terimakasih"
Sumber gambar : Google Image
Langganan:
Komentar (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR Oleh : Mu h ammad Abū Salmâ “ Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil me...
-
Jam mu tertuju angka sepuluh Lelaki muda itu yang duduk didepanku Memandang lusuh keluar jalanan berdebu. Sesekali matanya sayu, mem...
