Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan

18 Feb 2013

Simfony Langit



Di pelataran senja yang merona, aku menari basah. Gelisahnya hujan menghardik pesonaku kala bercengkrama lewat jingganya. Melalui irama nada layang-layang aku bertitah: ini bahagiaku!
Senyum simpul terkulum tanda takzim yang tak lazim. Mengurai runut peristiwa sewindu dalam pancaran wewarna kelabu, atau mejikuhibiniu. Lukisan didinding itu kian gontai menggantung. Mungkin angin hebat menerpa kokoh ruangnya.

Perlahan waktu memberi jeda untuk mengurai masa, mengenang simfony nada yang pernah tercipta. Mungkin sesaat lagi, sedang aku masih terasing dalam diamku. Menunggu. Entah, apa kelak cukup masaku, berbagi cerita lewat butiran-butiran air mata bahagia atau mungkin lewat tawa yang berduka. Sedang potongan-potongan puzzle itu kian berkurang dari utuh. Satu persatu meluruh bersama waktu yang terus membunuh.

Aku butuh waktu. Menunggu atau terus berlabuh di dermaga bisu. Esok pasti kan menjelang, tentu saja dengan pengertian dan pemahaman yang berbeda. Jika pada akhirnya potongan-potongan puzzle itu kian meluruh, aku yakin kan ada yang datang menyusunnya kembali utuh. Bila nada-nada itu kian hilang, kelak kan ada yang memainkan nada-nada baru untukku. Meski ketukkannya tidak sama, tidak akan pernah sama. Selamanya . . .

Pergilah, sebagaimana keinginan Rabb atas jalan hidup kita.

22 Jan 2013

Di Ujung Senja Rindu itu Membunuh


Seperti senja yang ku eja pada jingga. Warnamu hadir memberi keindahan pada separuh duniaku. Meski rindu kian pongah bergaduh. Sebab asaku jatuh terjerembab jauh melumpuh. Sempat ku sesalkan sesak rindu yang malu-malu. Kini bercendawan menyisakan luka haru. Berjalan, masih harus beribu waktu hingga sampai ke tempatmu. Berlari, masih harus berburu peluru hingga bersarang di dadamu. Takkan kau dengar sedikit petuahku. Duniamu - duniaku, berbeda itu jelas tak jemu. Sedang jenuh membunuh perlahan dalam diamku.

Langit masih bisu menertawakan tatap memelasku. Sampai sayu rindu itu membunuh. Dan tak terdengar lagi detak-detak irama qalbu. Nada biru kian kelabu bersama dawai yang pecah karna rubuh. Daun pintu menggesek perlahan menutup buku. Selaksa kian berjelaga dalam syair-syair bisu. Mimpi mimpi meluruh, bagai pasir tersapu ombak pasang. Kencang angin menerpa prahara layar perahu laju.

Lagu itu kian sumbang dari merdu. Jelas menyisakan luka yang merindu. Tawa yang kucipta dulu, musnah dalam debu. Canda yang kau riakkan lalu, hancur dalam semerbak kesturi yang meluluh. Kukirimkan lewat kekata embun kala pagi menyapa daun, kukirimkan lewat kekata hujan kala mendung memuntahkan rinai, kukirimkan lewat kekata mentari kala sengatnya menyapa pagi, kukirimkan lewat kekata angin kala hembusannya menerpa pepohonan di beranda rumah tuaku, kukirimkan kekata senandung senja kala pelangi hadir dalam biru jingga, kukirimkan pilu rindu yang masih tak habis dalam duka nestapa.

Diamku adalah melodi dalam remuk sepekat senja. Yang menjarah bahagia dalam sepersekian masa. Melebur dalam kehambaan. Melerai serbuk jingga dalam makna kehidupan. Deras, mengaliri cawan kemanusiaan. Gontai, tersudutkan kenyataan tak bertuan.

Lagu itu kian sumbang dari merdu. Jelas menyisakan luka yang merindu. Tanpa suaramu dalam sisi gelap terangku . . .
Di ujung Senja Rindu itu membunuh.

17 Jan 2013

Momentum Yang Hilang

Aku terdiam lagi. Mematung. Tak bergerak, seolah nafasku terhenti. benarlah, nafasku tertahan. Menyesak. Aku tau persis ini tabiat penyesalan. Yang mengundangku seketika berselancar pada dimensi khayalku. Andai . . . Mungkinkah . . . dua kata itu membenak pekat, dua kata itu berseliweran diatas kepalaku. Tapi nyata itu harus kuhadapi. Sesalku hanya seonggok nasi yang sudah menjadi bubur. Percuma, tak kan mungkin. Mungkin inilah akhir untuk epidose kehidupan ini, yang setelahnya kan ada episode-episode baru dari cerita yang baru dimulai. Kata temanku, penyesalan yang paling kerak adalah ketika kita merasa kehilangan momentum kesempatan disaat kita tak ada melakukan sedikitpun usaha untuk mendapatkannya. Aku bagaimana? Itukah yang aku rasakan? Sedang saat sadar, aku hanya bisa menghembuskan nafasku yang tertahan, tersengal-sengal. Menyengat hingga ke pusat saraf. Mungkin momentum itu memang bukan punyaku. Aku hanya terlambat, aku hanya terlambat sepersekian detik.

Dan diam, atau sesekali bicara untuk meredakan rasa yang berwujud sesal. Pasti tidak untuk selamanya, karna jika momentum itu punyaku, suatu saat pasti kan kudapati kembali. Mungkin. Bukankah semua adalah Dia yang mengatur?


---------
Bintang beredar dan tampak pada malam, sedang mentari gagah bersinar kala pagi hingga senja menjelang. Semua bergantian menurut garis edarnya. Lalu dimana letak ragu itu, jika kita tau segalanya telah diatur sesuai aturan-Nya?! Tak perlu khawatir. Biar Dia yang mengurusi segala.

10 Jan 2013

Kunci

Suka dengan kalimat sahabatku yang satu ini "Kunci yang kita gunakan mungkin saja sudah benar, hanya saja cara kita yang salah membuka pintu itu. Sehingga pintu itu belum mau terbuka."
Lagi-lagi semua itu terletak bagaimana cara kita membuka pintu yang ingin kita buka, terletak pada cara, atau bisa juga kita sebut sebagai "Proses". Lewat cara/ proses yang benar lah maka kita akan dengan mudah menggapai sesuatu. Mungkin untuk sesuatu yang selama ini kita tunggu. Boleh jadi itu tentang cita, asa, impian, ataupun tentang cinta. :)

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana,
Cukup selalu tersenyum dan selalu bersyukur
Namun yang tak sederhana adalah ketika harus selalu tersenyum ketika suasana duka menyelimuti, ketika asa amarah menguasai, ketika airmata terendap-endap mengikuti.
Namun yang tak sederhana adalah ketika harus selalu bersyukur ketika kondisi sempit menghampiri, ketika harapan pupus mengecewai, ketika keinginan tak terpenuhi.

Bahagia itu sederhana,
Cukup selalu tersenyum dan selalu bersyukur
Meski duka menyelimuti, meski amarah menguasai, meski air mata terendap-endap mengikuti.
Meski kondisi sempit menghampiri, meski harapan pupus mengecewai, meski keinginan tak terpenuhi.

Bahagia itu sederhana,
Cukup mengatakan pada dunia, Ya aku Bahagia. Bahagia membersamaimu disisa-sisa usiaku.

25 Des 2012

End . . .

End of Year (?)
Di penghujung tahun berakhir segala
Dari awal mula yang tak biasa
Dan kita cukupkan saja

Dunia ini teramat fana bukan?!
Beragam pilihan pun terserak bagai guguran daun
Pun masih harus terus berjuang
Agar benar menjadi pemenang.

Oh Rabbi . . .
Bantu kami yang kesulitan melawan diri sendiri.


*Dan di penghujung malam ini, penyakit aneh itu kambuh lagi -,-
Tidur ayo tidurr . . .

22 Des 2012

Nothing (New Hope?)

Mencari kemungkinan ditengah ketidakmungkinan~
Kadang berpikir terlalu konyol. Atau mungkin karena berimajinasi terlalu jauh.
Hoho. . . Lupakan!
Terkadang keanehan-keanehan ini hanya ujian. Meski disaat kau mengalaminya, kau hanya menganggap ini yang sebenarnya.
"Istafti Qalbak" ~Mintalah Fatwa pada hatimu . . .

21 Des 2012

Senandung Hujan

Masih tentang hujan, yang menemani sendiri dalam keterasinganku. Yang membasahi bumi dalam kekeringanku. Hujan. . . yang selalu menemani, tanpa mimpi berharap mentari hadir setelahnya. Ini sudah senja bukan? Sudah saatnya mentari tenggelam. Dan malam terlihat lebih menenangkan daripada sinar jingga mentari yang tak memungkinkan untuk kembali merajut rintikan hujan.
Sudahlah, tak perlu menghindar dari mentari bukan?! ada atau tidaknya ia, kita masih tetap bisa merajut tiap rintikan hujan. Seperti yang semua orang inginkan. Setiap akhir cerita berakhir bahagia, jika tidak di dunia, mungkin di syurga.

Bukankah Dia lebih berhak atas kehidupan kita?

Dan hujan akan selalu menenangkan dikala rintikannya terajut indah penuh makna, tanpa paksaan, tanpa pengabaian, hanya rajutan dengan penuh kesabaran jua keikhlasan.
Hari-hari itu kuharap selalu menyenangkan :)

3.11.12
Medan ^^

20 Des 2012

Sejenak, sebentar saja . . .

Tunggulah sejenak, sebentar saja . . .
Lelah itu pasti kan terganti segera
Penat itu pasti berganti semangat

Tunggulah sejenak, bersabarlah . . .
Karna Rabbmu tak pernah sekalipun mengabaikanmu.

Dibalik senyapnya keadaan, ada Dzat yang selalu mengawasi, ada pencatat yang merekam segala apa yang kita jalani, dan alam sekitar, semuanya akan turut menjadi saksi.
Cukuplah bagimu Allaah, Rabb semesta alam. Biar Dia yang mengurusi segala urusanmu . . .

Hitamkah atau Putih . . .

Allaah Maha adil bukan?!
Jika kau berlaku baik, maka kebaikan pula yang kan kau toreh.
Namun jika sebaliknya, maka kau pun akan mendapat balasan yang sama seperti apa yang pernah kau perbuat.
Kita hidup, hanya tinggal menunggu waktu saja. Menunggu waktu akan kapankah segala perbuatan kita diberi ganjaran oleh-Nya. Tidak hanya diakhirat nanti kawan, sebab disana adalah keniscayaan yang tiada bisa kita ingkari. Namun di dunia ini pun kelak kita kan dapat ganjarannya. Maka segalanya bermuara pada pilihan kita, kebaikan kah atau sebaliknya?
Lihatlah . . . kita hanya harus memilih, hitamkah atau putih?! :)

Maka Renungkanlah . . .


Maka cukuplah, tiap-tiap kejadian yang menyakitkan adalah sebagai teguran dari Dia- Allaah. Agar kita memahami dan menyadari, segala apa yang terjadi adalah sudah sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Tiap-tiap perbuatan baik kita, kelak akan dibalas kebaikan pula. "Hal jazaa ul ihsan illal ihsan". Begitupun sebaliknya, segala perbuatan jahat kita kelak akan kembali lagi kepada kita. Semua telah tertulis dalam kitab-Nya. Maka renungkanlah sejenak sebelum melakukan sesuatu. Agar tiada luka yang kita toreh pada hari yang dijalani.

16 Des 2012

Menembus Batas Kehidupan

Kita menari, diantara dua bayangan. Hitam putih. Kau aku. Kita. Terus menari, mencari nada yang bersesuaian. Berkali berhenti atau mungkin terhenti, lalu kita pergi dan kembali membersamai hari. Menyapa lewat misykat qalbu, berkata lewat sajak yang patah, menepi lewat mimpi, berbagi, menginspirasi, bertukar pendapat, sesekali beradu argumentasi, lalu diam atau mungkin mendiamkan.

Kadang kekesalan itu hadir, ketika jelas berbuat kesalahan tiada gerak sapa untuk mengajukan kata maaf. Hanya butuh sapa kata, meski dihati, jauh dilubuk sebenarnya telah lebih dulu memberi maaf. Hanya mencari kepedulian diantara bekunya suasana bagai batu, seperti tak pernah menyatu sebelumnya.

Dan kadang diam untuk menghindar adalah kebaikan. Agar tiada celah amarah yang sejak kemarin tertahan terlampiaskan. Dan adakalanya pun diabaikan adalah sebuah kebaikan, ketika yang mencari-cari perhatian menjadi begitu ingin terus diperhatikan.

Hidup ini begitu, hidupmu, hidupku, hidup kita semua manusia. Berjalan sesuai dengan garis edarnya. Sesuai dengan apa yang menjadi kehendak-Nya. Yang telah terjadi, kita tak bisa lagi memilih. Yang akan terjadi nanti ada diantara kesempatan dan pilihan, atau jua ketentuan takdir Allaah. 

Maka bersabarlah, ketika segala keinginan tak terwujud dengan segera. Allaah lebih tau apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Maka bersyukurlah, ketika memiliki segala yang telah ia beri meski kita begitu menginginkan yang lainnya.

Sebab Allaah tak pernah main-main dengan janji-Nya. 

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
[ QS. Al-An'aam (Al-An'am) [6] : 32]
#SangPembelajar

13 Nov 2012

Aku Kecewa

Aku kecewa. Dan jika kau pikir itu adalah harapan, maka kau salah. Aku kecewa kau mengabaikan apa yang seharusnya kau pertahankan. Aku kecewa kau membiarkan apa yang seharusnya kau pegang dalam genggaman.
Oh Rabbi, gantilah kekecewaan ini dengan jalan kebaikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

5 Nov 2012

Murothal . . .

Senandung itu bernama murothal. . .
Dengan segala kelembutan dan kedamaian nada yang dibawanya. Pernah kau merasakan begitu sesaknya perasaanmu, lalu murothal menjadi pilihan dengarmu untuk sekedar melepas sesakmu itu. Sebab kau tau, Surat-surat cinta-Nya selalu mampu memberimu kedamaian. Yang mana dengannya kau pun menjatuhkan embun dimatamu. Mengadukan semua kesusahan hatimu, menghempaskan semua rasamu, lewat lagu cinta Sang Pencipta kepada hamba-Nya.
Ar Rahman . . . Dialah Yang Maha Pengasih, dengan Kasih-Nya tercurahlah segala rasa cinta dan sayang dari-Nya untuk kita hamba-Nya. Maka nikmat Rabb mana kah yang kita dustakan?
Duhai qalbu . . .
Mencairlah dari beku,
Tidakkah engkau merindu?

30 Okt 2012

#Chance

Tidak ada yang harus disesali, bahkan ketika kita kehilangan satu kesempatan baik saat pintunya pernah terbuka lebar dihadapan kita. Cukup dijadikan pelajaran yang berarti, untuk kelak tak kembali menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka didepan mata. Pahami bahwa kesempatan itu tak hadir dua kali. Pahami bahwa itu memang kesempatan baik, bukan hanya tawaran sepintas lalu. Sadari bahwa kesempatan itu harus diraih, tidak untuk dibiarkan begitu lama samapai akhirnya keputusanmu menjadi terlambat. Pahami dan sadari :)

11 Okt 2012

Tired-Bored

Jenuh adalah
Jika masih saja disangkutpautkan
Dengan sesuatu yang tak ada lagi sangkutpautnya.
Bingung?
Berhentilah menduga-duga dengan prasangka

Karna akupun lelah.

5 Okt 2012

Behind the Heart

Nyatanya kesibukan-kesibukan itu tak pernah membunuh perasaanmu dengan benar, tak pernah sungguh-sungguh mematikannya seperti yang kau harapkan. Kau hanya memalingkan muka dari wujud yang ada didepanmu. Tak selamanya bisa seperti itu. Menghindar adalah bukan jalan terbaik. Namun kau terus melakukannya, berharap ia luruh begitu saja tanpa meninggalkan jejak dalam perjalananmu. Begitupun kau tak pernah puas dengan pencapaian kehebatanmu yang sekarang, mereka mengenalmu dengan sangat baik. Tapi, selalu ada yang tersembunyi dibalik itu semua yang tak mereka lihat.

Lalu saat waktu sejenak buatmu membisu, saat isyarat lagu lama terlantun perlahan, kau tersekat dalam bayangmu. Seakan merengek pada Tuhan, berharap kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam benakmu dulu tercapaikan. Anganmu membenak pada jutaan detik silam, "Jika masih mungkin, akan kuperbaiki". Kembali kau berandai meski kau tau itu tak bisa.
Dan masih kau tak menyadari, dibalik kerapuhanmu itu justru tersimpan kekuatan terbesarmu. Hanya saja kesombonganmu terlalu angkuh, hingga kau benar-benar terjatuh.
Dan Rabbuna Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. . . .

1 Sep 2012

*Kita hidup dalam ilusi, kawan...

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa berkuasa dengan pangkat dan jabatan tertentu, padahal tidak. Kita merasa punya anak buah yg bisa disuruh melakukan apapun, yg kita PD sekali yakin, disuruh makan baut pun mereka mau. Kita bisa memerintah, berteriak marah, memecat, merendahkan, kita merasa sekali. padahal tidak. Demi Allah, semua kekuasaan yg kita miliki hanya titipan.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa kaya, dengan segala harta benda, padahal tidak. Kita merasa bisa membeli apapun, memaksa memiliki apapun. Kalau tinggal ditolak, naikan harga tawarannya. Ditolak lagi, naikkan lagi berkali2 lipat harganya, sampai tidak ada yg bisa menolaknya. Kita merasa bisa memiliki dunia dengan uang. padahal tidak. Demi Allah, semua kekayaan yg kita miliki hanya titipan.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Kita merasa pintar, hebat sekali dengan banyak pengetahuan. Bisa membuat orang terpesona dengan kepandaian bicara, menulis, temuan hebat, teknologi. Merasa bisa menulis buku yg merubah dunia. Merasa bisa menemukan teknologi yg membalik jalan sejarah. padahal tidak. Demi Allah, semua kepintaran yg kita miliki hanya pemberian.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Berapa banyak dokter yg pongah merasa dialah yg memberikan kesembuhan? Padahal sehat dan sakit adalah milik Allah. Berapa banyak guru yg sombong merasa dialah sumber ilmu pengetahuan? Padahal ilmu adalah hadiah dari Allah, sebiji atom sj dititipkan ke kita. Berapa banyak polisi, tentara, pegawai yg merasa memegang kerah leher urusan orang lain? Padahal kekuasaan yg diberikan hanya amanah yg harus dijaga. Berapa banyak pesohor, aktor, penulis, yg merasa ngetop sekali, bisa membuat trend, bisa membalik budaya, kebiasaan--seperti gaya rambut, semua orang kenal dia? Padahal ketenaran adalah debu hina titipan Allah.

Kita hidup dalam ilusi, kawan. Maka berhentilah.

Berhentilah merasa lebih berkuasa, merasa lebih pintar, merasa lebih tenar, merasa dibutuhkan, merasa apapun. Karena semua hanya titipan.... benar2 hanya titipan... kita harusnya menangis, berlinang air mata. Ayo, mari pejamkan mata sejenak, bayangkan saat mati tiba. semua diambil dari kita. Apapun itu, semua diambil begitu saja. Persis seperti anak kecil yg diambil mainan kesayangannya. Bedanya, anak kecil itu bisa berteriak marah. Tapi kita, hanya terbujur kaku, bahkan satu kata protes pun tidak bisa lagi.

Duhai Rabb, ya Rahman, benar2 semua ini hanya titipan. Tidak lain, tidak bukan. Maka, please ya Allah, ajarkanlah selalu di hati kami kesadaran: bahwa bahkan diri kami sendiri, diri kami sendiri pun bukan milik kami.

Jauhkanlah perasaan merasa lebih dibanding orang lain. Walau sekecil apapun. Jauhkanlah.

9 Agu 2012

#Labirin

Seperti memasuki ruangan baru yang ternyata kau menemukan lorong yang tak pernah terpikir sebelumnya olehmu, lorong yang mungkin selama ini kau hindari. Karena kau selalu melewati lorong-lorong biasa yang dilewati banyak orang. Namun kau telah berada ditengah lorong itu, kau sudah separuh jalan. Mundur adalah suatu ketidakmungkinan, sedang untuk maju kau dihantui dengan ketakutan-ketakutan yang pernah mereka ciptakan dikepalmu.

Sejenak kau terhenti, mengulang-ulang niat dan tujuanmu menelusuri lorong itu, menimbang-nimbang, kebaikan-kebaikan, kerusakan-kerusakan, tapi tidak untuk waktu yang lama, karena kau sadar sepenuhnya bahwa waktumu amat terbatas. Maka kau harus bergerak seperti air, menjernihkan. Bukan seperti kubangan yang justru menjadi keruh. Bergeraklah seperti air mengalir, jernih lagi menjernihkan. Bertekad kuatlah layaknya orang yang beriman, Yakin tiada sedikitpun kau biarkan ragu bergelantungan.

Karna kau tau, tiada pernah tersalah sedikitpun pilihan-Nya untukmu, untuk hidupmu, untuk aqidahmu. Karena Dia Mahatahu, yang buruk bagimu belum tentu buruk bagi-Nya. Yang baik bagimu belum tentu baik menurut-Nya.

Allaahu ghofar, ampuni kami. Tunjukilah kami pada jalan yang lurus itu. . .

4 Agu 2012

#Takdir

Dan kau hanya bisa terdiam. mungkin merenungi, atau mungkin tak peduli. Karna semua berjalan tak seperti yang kau inginkan.
Tahukah kau, bahwa Dia tak pernah butuh persetujuanmu untuk setiap kehendak-Nya atas dirimu. Maka renungkanlah, ulang sekali lagi dan pelajarilah kekeliruanmu. Maha Suci Allaah, tiada pernah Ia tersalah sedikitpun.

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...