Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
19 Mar 2013
17 Mar 2013
4 Rahasia Ketenangan Hidup
1. Aku yakin bahwa rezekiku tidak tertukar, karena itu hatiku tenang.
2. Aku yakin amalku tidak mungkin digantikan oleh yang lain, karena itu aku semangat beribadah.
3. Aku yakin bahwa Allah mengawasiku, karena itu aku malu bermaksiat.
4. Aku yakin bahwa mati selalu membuntutiku, karena itu aku selalu siap menghadapinya.
(Hasan Al-Bashri)
4 Mar 2013
Perilaku Muslim
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullah bekata: “Hendaknya orang mukmin mendapatkan tiga perlakuan darimu: bila engkau tidak memberikan manfaat kepadanya, jangan mendatangkan mudharat kepadanya, bila engkau tidak membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih; dan jika engkau tidak menyanjungnya, maka engkau jangan mencelanya.”(Shifatush Shafwah 4/91)
19 Jan 2013
Memiliki Hati
Ibnu Al-Qayyim berkata:
Carilah hatimu pada 3 tempat:
1. Pada waktu mendengarkan al-Qur'an.
2. Pada waktu di majlis ilmu.
3. Pada waktu menyendiri (beribadah/mengingat dosa)
Seandainya engkau tidak mendapatkan hatimu di 3 tempat ini, maka mintalah kepada Alloh hati karena engkau belum memiliki hati.
Carilah hatimu pada 3 tempat:
1. Pada waktu mendengarkan al-Qur'an.
2. Pada waktu di majlis ilmu.
3. Pada waktu menyendiri (beribadah/mengingat dosa)
Seandainya engkau tidak mendapatkan hatimu di 3 tempat ini, maka mintalah kepada Alloh hati karena engkau belum memiliki hati.
20 Des 2012
Qolbu
'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik'
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
11 Des 2012
Hitam Putih Penantian
Cerita ini sebenarnya sudah pernah saya posting di Blog Multiply saya beberapa tahun yang lalu, tapi berhubung blognya sudah tidak ada lagi maka saya pun menyalin ulang disini. Itung-itung sebagai BackUp tulisan saya juga :)
Lets Cekidot . . .
Ini cerita tentang sedikit pengalaman saya selama magang yang menurut saya sangat berarti untuk bisa diambil hikmah yang terkandung didalamnya (khususnya buat saya lho ya…).
Jika sahabat semua bertanya
kenapa judulnya Hitam Putih Penantian, maka akan saya uraikan beberapa
alasaannya. Pertama, selama magang ini, kostum yang dipakai harus hitam putih
(ini secara simboliknya). Nah yang kedua, status saya dan teman-teman yang
lainnya masih hitam putih. Kita udah nggak ada mata kuliah lagi, dibilang udah
selesai juga belum, karna kita masih dalam proses awal ditahap yang terakhir.
Yaitu menanti datangnya hari Wisuda yang lebih kurang 10 minggu lagi. Dimana
selama dalam masa penantian itu, kita harus magang euy..pake hitam putih pula.
Jadilah judulnya “Hitam Putih Penantian”.
Oke, kita langsung saja masuk ke
pengalaman cerita yang ingin saya bagi2kan kepada sahabat2 semua.
Senin, tepatnya 18 Januari 2010
yang lalu. Hari itu merupakan hari pertama saya di siklus kedua-Magang (Tiap2
siklus, waktunya 2 minggu). Di siklus yang sebelumnya, saya magang di bagian
Departemen Manajemen FE USU, shift Sore. Nah, untuk siklus yang kedua ini, saya
dan teman satu kelompok saya magang dibagian Keuangan. Hari pertama masuk shift
pagi, agak gimanaaa gituu. Coz, saya dan temen2 yang lainnya udah ngerasa
nyaman saat di departemen Manajemen kemarin.
Tugas-tugas pun mulai diberikan,
saat itu saya dan teman saya-ridha, diberi tugas untuk membuat neraca. Lebih
tepatnya sih menyalin ulang. Alias memindah bukukan hasil print out ke buku
neraca atas penerimaan dan pengeluaran FE USU selama bulan Desember 2009. Atas
perintah Pak Fai, kami pun menyanggupinya. Kemudian, Pak Fai pun memberi arahan
kepada kami tentang bagaimana cara mengerjakannya. Agar tidak terjadi
kesalahan. Setelah paham dengan penerangan pak Fai, kami pun mengerjakannya.
Ya..dengan banyak grogi tentunya. Karna nggak boleh sedikitpun melakukan
kesalahan. Jika salah, akibatnya bisa fatal. Lembar pertama dikerjakan dengan
sempurna. Begitupun dengan lembar kedua. Pak Fai berpesan sebelumnya, agar
bertanya terlebih dahulu jika kami tidak tau. Mewanti-wanti kami agar
mengerjakan neraca itu sesuai perintahnya. Pengerjaan neraca itu pun cukup
menyita waktu kami. Start dari jam 9 pagi sampai sekitar jam12. Pada saat itu
waktu menunjukkan jam setengah dua belas, ada satu lembaran lagi yang belum
diselesaikan. Sedangkan saya memburu waktu agar tepat jam 12 nanti, pekerjaan
itu dapat terselesaikan. Pak Fai tidak berada ditempat, padahal saya ingin
bertanya lagi. Namun, karna nggak sabaran untuk menunggu pak Fai, saya pun
berinisiatif untuk langsung mengerjakannya saja. Dengan melihat catatan2 pada
bulan2 sebelumnya. Ridha-teman saya itu pun mengikuti langkah saya, meskipun
dia sendiri nggak yakin dengan apa yang saya lakukan, benar atau enggak.
Sekitar jam dua belas kurang
lima, pekerjaan saya pun selesai. Nggak lama, pak Fai pun muncul. Saya pun
kemudian menanyakan tentang pekerjaan yang baru saya selesaikan tadi. Dan,
disitulah masalah muncul. Ternyata saya melakukan sebuah kesalahan kecil yang
dampaknya sangat besar, bahkan Fatal. Saya salah menempatkan item2 cek
penerimaan pada lembaran neraca. Seharusnya, item tersebut diletakkan dilembar
terakhir bulan November. Sedangkan saya meletakkannya dilembar kedua bulan
Desember. Pak Fai pun menegur kami atas kesalahan yang kami lakukan. Dan,
langsung saja, lembaran2 neraca yang telah kami kerjakan berjam-jam tersebut
langsung di robek. Semuanya. Tanpa tersisa. Kami pun harus mengulang pekerjaan
kami tersebut dari awal lagi.
Hufff…
Ketika jam pulang tiba, pak Fai
pun nyeletuk sambil tertawa kecil “Baru kali ini ada anak magang, kerjaannya
salah semua”.
Hehe..kesalahan memang ada pada
lu. Kesalahan temen saya adalah karna dia mengikuti kesalahan saya.
Ehm..jadi, ba’da kejadian ini,
pelajaran yang bisa saya ambil adalah bahwa
Alhasil, pekerjaan itu pun kami
lanjutkan minggu depannya. Tepatnya tanggal 25 Januari 2010. Nah, belajar dari
kejadian minggu lalu, kami pun mengerjakannya dengan sangat hati-hati sekali.
Yang tidak kami tau, langsung kami tanyakan ke pak Fai. Pokoknya motto kami
kali ini adalah “Biar lambat asal selamat”. Hehehe… nggak boleh buat kesalahan
yang sama lagi dah intinya. Jadi, ketika pak Fai nggak ada ditempat, kami pun
menghentikan kerjaan kami. Nunggu bapak itu datang, trus nanya lagi deh. Meski
kerjaan kami tersebut tidak bisa kami selesaikan dalam satu hari itu, Dari pada
salah lagi, mendingan tertunda 1 hari. Ya ndak sih?!
Sahabat, semoga cerita saya
diatas juga memberikan sebuah hikmah kecil yang bisa kita jadikan pelajaran
bagi hidup kita. Meskipun tidak banyak, tapi semoga saja yang sedikit ini
memberi manfaat bagi yang banyak.
25 January 2010
-Langit Senja-
7 Des 2012
Menjaga Batin
Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, maka akan tersebarlah keutamaannya yang banyak dan hati akan terus menebarkan kebaikannya. Maka hati-hatilah, jagalah batin kalian, karena jika batin telah rusak maka tidak akan bermanfaat lagi kebaikan amaliah yang tampak.” (Shaidul Khathir I/206)
15 Okt 2012
Hari Ini Milik Anda
Jika kamu berada di pagi hari, janganlah
menungggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang
telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari
yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan
siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.
Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka,
anggaplah masa hidup Anda hnya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari
ini an akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan
tercabik-cabik duantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan
bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acap kali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya Anda
mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari
inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling
khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur,
dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam
akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan
sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik
terhadap sesama.
Pada hari dimana Anda hidup saat inilah
sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana
ribuan tahun dan detiknya laksan ratusan bulan. Tanamlah kebaikan
sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling
indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah
atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah
perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala
kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak,
tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.
{Maka
berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu
termasuk orang yang bersyukur. }
(QS. AL-A’râf: I44)
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan,
kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati
Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda ) : Harimau adalah hari ini. Yakni, bila
hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yan harum baunya, maka apakah nasi basi
yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda?
Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini,
maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atu
mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?
Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat
dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada
prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan
diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua
potensi, dan mensucikan setiap amalan.
Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, “Hanya
hari ini aku berkesempatan untu mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap
kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akn pernah mencela, menghardik dan juga
membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan
rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan
memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata
dan tindak tandukku.”
Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb,
mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat
sunah nafilah, berpegang teguh pada
al-Qur’an, mangkaji dan mencatat segalayang bermanfaat.
Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan
menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon
kejahatan berikut ranting-rantingnya berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.
Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara
kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan
kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah,
menunjukan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan,
menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan
penderitaan orang yang lemah, mangasihi mereka yang menderita, menghormati
orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.
Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akn
mengucapakan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah
seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergiannmu, dan kamu tidak
akn pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah
meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”
“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka,
aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk
sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena
esok hari mungkin tidak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum
diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”
3 Okt 2012
#Bersabar dan Bersyukur
Bagai buih ombak bergelayut
diantara arus air. Memecah karang lewat emosi angin. Menyapu dedaun dan
semerbak pasir dalam genggaman. Malam berselimut halimun gelap. Sedang pagi
masih ada di ujung mimpi insani. Seolah semua terkubur, oleh hiburan-hiburan semu
yang berkulit sendu. Pilu seolah terbenam dalam tawa yang berdusta. Tak
sebenarnya pulih dalam kebaikan, meski berpura-pura adalah jawaban. Pun hidup
bukan hanya perasaan. Sebab logika berperan dalam perjalanan jauh kehidupan,
apapun itu. Tertawa bersama, namun bayangan berurai air mata. Belajar
sederhana, belajar menerima. Ini hidup kawan. Jika kau tak mampu bertahan maka
kau kan terjatuh. Jika kau tak mampu berdiri, maka mereka akan menginjakmu
bagai sampah. Tanpa peduli apa kalian pernah berdiri bersama dalam suka atau
cita, tapi mungkin tidak untuk duka. Orang-orang akan meninggalkanmu saat
sulitmu menguasai. Namun mereka kan kembali saat kayamu menghampiri. Kebaikanmu
kan berbalas kebaikan jua, bila orang yang kau tuju menyadari akan hal itu. Allaah
akan membisikkan langsung ke hatinya tentang kebaikanmu, tanpa perlu kau poles
dengan kepalsuan apapun.
Beginilah hidup kawan, kau harus bertahan. Jika yang baik telah kau temukan, maka kebaikan itu kan selalu menyertaimu, kan selalu mengawasimu, menyelamatimu dari sisi-sisi jahat orang-orang disekitarmu. Jika kau baik dan masih saja ada orang yang menjahatimu maka percayalah, itu sunnatullaah. Kelak lewat kesabaranmu, meraka pula akan berbuat baik. Atau bisa saja itu uji bagimu. Dan percayalah, yakinlah. . . sesakit apapun yang kau rasakan sekarang, sepedih apapun yang kau rasakan saat ini kelak kau kan berterimakasih dengannya. Melalui kesakitan kau belajar kesabaran dan kesyukuran. Lalu diantara keduanya adalah keikhlasan. Kau kan belajar untuk itu. Karna beginilah hidup kawan, keikhlasan kan mengobrak abrik emosimu, menekan amarahmu, memberaikan airmatamu, menyesakkan dadamu. Keikhlasan kan tertanam jika kau mampu bersabar dan bersyukur atas nikmat yang kau jalani. Entah itu nikmat senang ataupun nikmat susah.
Hidup itu sederhana, sesederhana mengeja hujan yang jatuh membasahi bumi.
~Di ujung malam menuju Pagi
#Tentang T A K D I R
Bayangkan
sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai, di gudang penyimpanan.
Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung ditumpuk. Lantas terkena
sepakan kuli-kuli angkut yang beranjak pulang sore hari, terlempar
kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel.
Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan
ember kering persis di atasnya. Sempurna sudah melindungi butir itu
dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak
pernah tampias meski setetes air sepuluh tahun terakhir.
Malam itu hujan deras turun.
Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan.
Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli
seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam
rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka
basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula
kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi
sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun
yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling
jauh…. semua sudah ditentukan.
My dear, kehidupan ini tidak
sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan.
Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin
urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat.
Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang
masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu
setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya
berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang
melanggar aturan main itu.
Bagi manusia, hidup ini juga
sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta
dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan
orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan
orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus
yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi,
saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai
bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling
menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak
rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa
sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari
kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik.
Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka
hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan,
itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang
indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu
berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.
Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan,
kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan
berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.
* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"
~Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, satu-satunya Novel Tere Liye yang sudah finish kubaca beberapa bulan lalu. Novelnya memaparkan bagaimana berlangsungnya hukum sebab akibat dalam kehidupan kita, hingga kita tak perlu menyalahkan sesuatu. Karena semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Sering kita bertanya dalam kehidupan, "Kenapa begini? Kenapa harus aku? Kenapa? dan pertanyaan kenapa yang lainnya. Pun ketika kita menyatakan bahwa "Hidup ini tak adil untuk kita", termasuk dalam bahasan novel tersebut. Pemaparan yang cukup sederhana ala Bang Tere Liye dapat membuat kita mengerti bagaimana seharusnya menyikapi hidup ini, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini secara sederhana lewat hikmah yang terkandung didalamnya. :)
Malam itu hujan deras turun.
Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh…. semua sudah ditentukan.
My dear, kehidupan ini tidak sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan. Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang melanggar aturan main itu.
Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak rumit.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.
Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.
* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"
26 Sep 2012
#Sebuah Penerimaan
Sebuah penerimaan yang indah adalah menerima sesuatu dengan apa adanya, tanpa syarat apapun. Menyadari akan segala bentuk kekurangan dan kelebihan yang ada. Dengan tidak mencela kekurangan tersebut, juga tidak terlalu memuji kelebihan yang ada. Suatu penerimaan yang indah, memahami pun menyadari segala apa yang didapatkan. Dengan tidak menuntut terlalu banyak, menuntut yang kurang menjadi sesuatu yang lebih. Sebuah penerimaan yang indah, adalah menerima apa adanya dengan keikhlasan pun keridhoan pada Yang Maha Memberi.
25 Sep 2012
Quote's
Adalah lebih baik diam jika bicara justru memperkeruh suasana.
Adalah lebih baik mengalah jika menang berarti membuat luka.
#DDU #NtMS
~Salim A. Fillah
*So Awesome ^^8
16 Sep 2012
Galau Nikah
Pagi yang cerah diselimuti dengan awan mendung terarah. Dan entah kenapa tiba-tiba pagi ini ingin membahas tentang "Galau Nikah", Galau karena gak nikah-nikah. Yang pasti bukan saya yang galau lhoo ya :D.
Beberapa waktu belakangan ini saya serasa dikelilingi oleh orang-orang galau karena belum nikah-nikah juga. Ada yang karena belum nemu sama sang pujaan hati, ada yang masih ngegantung, ada juga yang nungguin kekasihnya yang udah sejak lama dijanjikan tapi gak terealisasi juga. Ckckckc . . . . ada-ada aja deh kelakuan orang jaman sekarang.
Pernah ada yang nanya sama saya, "Kamu kok biasa aja lu?". Simple saja, "Yakin" cuma itu jawabannya. Kita kudu yakin akan ketentuan Allaah buat kita. Yakin bahwa Allaah udah mengatur semuanya. Yakin bahwa Allaah akan memberikan yang terbaik buat kita. Urusan keyakinan ini sendiri ujung-ujungnya nyambung ke "Tauhid". Nah . . . Kalau "Yakin" kita aja masih belum terkoneksi juga ke Allaah, berarti ada yang salah dengan "Tauhid" kita, yaitu Tauhid ilallaah, keyakinan kita akan qada dan qadarnya Allaah.
Semua dalam kehidupan kita sudah tercatat di Lawul mahfudz. Dan janji Allaah pasti benar. Maka, berharaplah dengan keimanan. Agar tiada kekecewaan melanda ihsan. "Harapan tanpa iman hanyalah kekecewaan", katanya Bang Salim A. Fillah penulis best Seller "Agar Bidadari cemburu Padamu". Bagaimana maksudnya Harapan Tanpa Iman tersebut? Mudah saja, Jika kau berharap pada sesuatu, dan ketika sesuatu itu tak sesuai bayanganmu, lalu kau kecewa, itu artinya kau beraharap bukan kepada-Nya, tapi kepadanya. Karena, ketika kita benar-benar hanya berharap pada Allaah maka ketika semua yang berjalan tak sesuai dengan kehendak kita maka kita bisa menerimanya dengan berlapang dada. Bersabar atas ketentuan-Nya, karena kita menyadari bahwa Allaah sedang mempersiapkan hal lain yang lebih baik untuk kita. Karena Allaah tak pernah butuh persetujuan kita atas ketetapan yang akan diberikan-Nya kepada kita.
Berharap sama manusia? Silahkan! Dan selamat mendapatkan kata "Kecewa". Kenapa? Bcoz No Body's Perfect, Gak ada manusia yang sempurna didunia ini. Kita begitu besarnya menggantungkan harapan kita kepada manusia, sedang ia belum tentu bisa memberikan apa yang kita mau dan inginkan. Dan Allaah lah yang MahaMenentukan. Sehebat apapun kita membuat suatu rencana, namun jika Allaah tidak berkehendak, pasti rencana itu tidak akan terjadi. Begitupun sebaliknya, Sejauh apapun kita menghindari sesuatu (Yang tak kita rencanakan) namun Allaah menghendaki itu terjadi, maka ia akan terjadi. Allaah berkata "Kun Fayakun", dan terjadilah ia.
Kalau ditanya, apakah saya pernah khawatir? Tentu. karna saya manusia biasa. Namun kekhwatiran saya dulu adalah ketika saya tidak terpikir untuk menikah. Disaat orang lain justru sedang digalaukan dengan "Belum nikah-nikah juga", saya justru berada dalam kondisi yang tak terpikir untuk menikah. Hehe. . . awalnya saya cuek. Tapi lambat laun saya jadi resah juga, khawatirnya hal tersebut malah akan berlanjut terus menerus. Sedang menikah itu adalah salah satu sunnah Rasul yang harus kita jalani. Kalau sampai usia lanjut saya gak terpikir untuk menikah, kan bahaya. Bisa habis generasi kita umat islam. (Hihi . . . agak lebay gitu)
Diluar sana, banyak para akhwat-akhwat yang belum nikah, sementara usia mereka sudah sangat lanjut. Sudah sangat terdesak untuk menikah. Sudah wajiblah. Nah disisi lain ada sebagian orang yang justru membuat "Jugdement" yang tidak enak didengar ke akhwat2 yang belum nikah-nikah tersebut. Kalau menurut saya sih, mereka mereka yang mengaum ini adalah "Ikhwan dibarisan sakit hati karena pernah ditolak" hehehe . . . (Pisss wan :D). Kata-kata yang sering terdengar biasanya seperti ini, "Akhwatnya kebanyakan milih sih, atau Akhwatnya sok idealis, atau Akhwatnya banyak maunya, Sok perfect, dan lain-lainnya. Sahabat, ketahuilah bahwa setiap orang itu pasti punya alasan ketika dia melakukan sesuatu. Dan inilah yang banyak tidak disadari oleh kita. Allaah sudah merencanakan setiap kejadian yang ada. Jika ada sampai sekarang seorang akhwat yang belum nikah-nikah juga, maka kita jangan terlalu cepat untuk men-judge mereka. Karna ada hal-hal yang tidak pernah kita tau sebagai orang luar. Dan. . . cerita "Cinta Suci Zahrana" (Smoga gak salah judul, hehe) Punyanya Kang Abik, adalah salah satu hal yang bisa kita ambil pelajaran darinya. Cerita yang dipaparkan merupakan salah satu dari sekian banyak alasan kenapa sampai saat ini banyak akhwat yang belum nikah-nikah juga. This is Real, realita yang ada pada jaman sekarang emang seperti itu.
(*Ini bahasan kok jadi serius gini ya, ckckck
Simpulannya, Just Positive Feeling n Positive Thingking aja sob. "Allaah sesuai persangkaan hamba-Nya". Berprasangka dan berpikirlah yang baik, agar mendapat yang baik pula. Hidup kita bukan untuk bergalau-galau ria. Kita dilahirkan dalam keadaan islam, maka bersyukurlah. Kalau ngakunya islam, katakan tidak pada Galau. Karena kita adalah ummatnya Muhammad, kita ummat terbaik daripada ummat sebelumnya. Kalau urusan hati aja gak kelar-kelar kita menanganinya, dan masih saja kita bergalau-galau ria karenanya, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ummat???
(*dan saya mulai sok idealis :p)
Takkan lari gunung dikejar, sob. Begitu pepatahnya. Kalu jodoh gak akan kemana, kamu akan menikah diwaktu yang sudah ditentukan Allaah, dengan orang yang telah dipilihkan Allaah untukmu. Dan satu hal lagi yang harus kita sadari, Bahwa Tulang Rusuk tidak akan tertukar. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Sesuai dengan kehendak-Nya.
Baiklah, sekian dulu sharing saya pagi ini ^^, tulisan kali ini saya tutup dengan kata-kata hikmah. Semoga memberi pencerahan kepada kita semua.
"Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendak-Nya, biarkan kehendak-Nya yang berjalan atas hidupmu, karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu. Ketika inginmu tak sesuai dengan ingin-Nya, biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu. karna Allaah Mahatahu segala hal tentang dirimu. Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu, Bukan kecewa pada Rabb-mu. Tapi kekecewaan pada dirimu sendiri karna tak mampu berdiri diatas ingin-Nya. hidup harus tetap dijalani, sesakit apapun itu. Siap ataupun tidak. Karena Rabb-mu tidak pernah butuh persetujuanmu atas kehendak-Nya. Karena Allaah tau apa yang tidak kita ketahui."Keep Fighting ^^9
9 Agu 2012
#Labirin
Seperti memasuki ruangan baru yang ternyata kau menemukan lorong yang tak pernah terpikir sebelumnya olehmu, lorong yang mungkin selama ini kau hindari. Karena kau selalu melewati lorong-lorong biasa yang dilewati banyak orang. Namun kau telah berada ditengah lorong itu, kau sudah separuh jalan. Mundur adalah suatu ketidakmungkinan, sedang untuk maju kau dihantui dengan ketakutan-ketakutan yang pernah mereka ciptakan dikepalmu.
Sejenak kau terhenti, mengulang-ulang niat dan tujuanmu menelusuri lorong itu, menimbang-nimbang, kebaikan-kebaikan, kerusakan-kerusakan, tapi tidak untuk waktu yang lama, karena kau sadar sepenuhnya bahwa waktumu amat terbatas. Maka kau harus bergerak seperti air, menjernihkan. Bukan seperti kubangan yang justru menjadi keruh. Bergeraklah seperti air mengalir, jernih lagi menjernihkan. Bertekad kuatlah layaknya orang yang beriman, Yakin tiada sedikitpun kau biarkan ragu bergelantungan.
Karna kau tau, tiada pernah tersalah sedikitpun pilihan-Nya untukmu, untuk hidupmu, untuk aqidahmu. Karena Dia Mahatahu, yang buruk bagimu belum tentu buruk bagi-Nya. Yang baik bagimu belum tentu baik menurut-Nya.
Allaahu ghofar, ampuni kami. Tunjukilah kami pada jalan yang lurus itu. . .
Sejenak kau terhenti, mengulang-ulang niat dan tujuanmu menelusuri lorong itu, menimbang-nimbang, kebaikan-kebaikan, kerusakan-kerusakan, tapi tidak untuk waktu yang lama, karena kau sadar sepenuhnya bahwa waktumu amat terbatas. Maka kau harus bergerak seperti air, menjernihkan. Bukan seperti kubangan yang justru menjadi keruh. Bergeraklah seperti air mengalir, jernih lagi menjernihkan. Bertekad kuatlah layaknya orang yang beriman, Yakin tiada sedikitpun kau biarkan ragu bergelantungan.
Karna kau tau, tiada pernah tersalah sedikitpun pilihan-Nya untukmu, untuk hidupmu, untuk aqidahmu. Karena Dia Mahatahu, yang buruk bagimu belum tentu buruk bagi-Nya. Yang baik bagimu belum tentu baik menurut-Nya.
Allaahu ghofar, ampuni kami. Tunjukilah kami pada jalan yang lurus itu. . .
Rencanamu Rencana-Nya
Saat hati berkata "INGIN", namun qadar Allâh Azza Wa Jalla berkata "TUNGGU"...
Saat air mata "MENETES",namun qadar Allâh berkata.. "TERSENYUMLAH"
Saat segalanya terasa.."MEMBOSANKAN",namun qadar Allâh berkata "TERUSLAH MELANGKAH"...
Biidznillaah...Kita merancang sesuatu,Allah Azza Wa Jalla juga
merancang sesuatu yang dirahasiakan-NYA buat kita.Namun,Rancangan Allah
Azza Wa Jalla itu LEBIH baik. . .yang PALING baik. . .dan yang TERBAIK
daripada rancangan kita.
Karena ALLAHU Yaa 'Aliimu Yaa HAKAM (Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menetapkan)! ! !
Jadi,kita sebagai hamba-NYA. . Jangan pernah PROTES atau PUTUS ASA.
Yakinlah...Allah Azza Wa Jalla ada untukku,untukmu,dan untuk kita semua.
Mungkin rencana kita telah baik,namun harus di ingat bahwa rencana
Allah lebih baik lagi.Belum tentu apa yang kita anggap baik di mata
kita baik pula di mata Allah
Allah telah Mempersiapkan yang jauh lebih baik untuk kita yang sesuai dengan Akhlak serta Perangai Kita..
Ikhlaskanlah segalanya pada Allah Azza Wa Jalla dan Yakinlah akan
janji-Nya...Apapun yang di berikan kepada Kita itulah yang terbaik buat
Kita....(QS.Al-Baqoroh:216)
*Pesan Lastri via status di FB
Biidznillaah...Kita merancang sesuatu,Allah Azza Wa Jalla juga merancang sesuatu yang dirahasiakan-NYA buat kita.Namun,Rancangan Allah Azza Wa Jalla itu LEBIH baik. . .yang PALING baik. . .dan yang TERBAIK daripada rancangan kita.
Karena ALLAHU Yaa 'Aliimu Yaa HAKAM (Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menetapkan)! ! !
Jadi,kita sebagai hamba-NYA. . Jangan pernah PROTES atau PUTUS ASA.
Yakinlah...Allah Azza Wa Jalla ada untukku,untukmu,dan untuk kita semua.
Mungkin rencana kita telah baik,namun harus di ingat bahwa rencana Allah lebih baik lagi.Belum tentu apa yang kita anggap baik di mata kita baik pula di mata Allah
Allah telah Mempersiapkan yang jauh lebih baik untuk kita yang sesuai dengan Akhlak serta Perangai Kita..
Ikhlaskanlah segalanya pada Allah Azza Wa Jalla dan Yakinlah akan janji-Nya...Apapun yang di berikan kepada Kita itulah yang terbaik buat Kita....(QS.Al-Baqoroh:216)
*Pesan Lastri via status di FB
4 Agu 2012
#Takdir
Dan kau hanya bisa terdiam. mungkin merenungi, atau mungkin tak peduli. Karna semua berjalan tak seperti yang kau inginkan.
Tahukah kau, bahwa Dia tak pernah butuh persetujuanmu untuk setiap kehendak-Nya atas dirimu. Maka renungkanlah, ulang sekali lagi dan pelajarilah kekeliruanmu. Maha Suci Allaah, tiada pernah Ia tersalah sedikitpun.
Langganan:
Postingan (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
Just wanna say I miss You so much Maaf aku menangis lagi. Aku hanya merindukanmu,
-
Seperti semuanya ditadirkan sedemikian rupa. Hnh . . . sahabat, maafkan aku yang belum mampu menjangkau semua luka dan sedih kalian, maafkan...