Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air. Tampilkan semua postingan

14 Des 2010

Away

Silahkan
Terserah
Jika harus
maka biarkan.
bukan mimpi
atau imaji
semua ini mungkin berawal dari kesilapan
atau mungkin sebuah ketidaksengajaan
tapi inilah takdir Tuhan.
Menyesal? Takkan kuhiraukan
pagi masih mentari
dan malam masih penuh bebintang
itik masih pulang petang.
Kala senja menjelang
aku kan menghilang
selama yang kau inginkan
karna hidup,
mungkin berawal dari mimpi
yang kurangkai dengan penuh arti
yang kuukir dengan tinta damai menyejukkan hati
mungkin tak kau lihat
atau aku yang tak menyimak?
jika harus mengerti
maka harus dipahami.
kelak tak ada arti,
atau mungkin sama sekali tak pernah ada arti.
berlari
dalam sepi
ditengah sunyi
bersembunyi
lalu diam,
dan kodratnya menjadi alasan.
tak biasa
anggap percuma.
bisa saja dibuang
atau terlempar ke ujung jurang
seharusnya tak ada peluang
tapi selalu ada celah bagi ruang.
dan,
dimana kedamaian?
saat aku mencoba tuk ciptakan
cepat sembuh duhai kawan
bantu aku berpikir
berpikir jernih
bahkan lebih jernih,
agar tiada yang keruh
agar jauh dari persangkaan
mereka tak mendengarkanku.
masihkah kau mendengarkanku?
atau ada tembok berlin yang menghalangimu?
cukupkah semua ini?
binasakah uraian ini.
duhai orang yang berdiri ditepi
jika memang harus pergi,
pergilah dengan seisi hati.
dayung sampanmu,
hingga tak kulihat lagi punggungmu dari balik jeruji besi.
dan aku tak berani melanjutkan kataku lagi.

Dendang Mimpi, 14 Desember 2010

10 Des 2010

Senandung Pohon Bambu

Ini sudah Larut, dan aku benci harus menunggu terlalu lama. diamana bintang yang ingin kau tunjukkan? bukankah sejak tadi pun rembulan berada dibalik awan? dan langitpun telah kelabu semenjak senja menjelang. Sudah kukatakan, "Aku membenci senja!", aku memang tak pernah menyukainya. melihatnya hanya menyisakan kesakitan pada diriku. Tapi terkadang kau terus memaksaku untuk menjenguknya. Aku tak tau kenapa kau begitu mengaguminya, hingga terkadang pun kau melupakan aku, sampai aku pun marah kepadamu. Lalu selalu kau merayuku dengan iming-iming melihat rembulan dan bebintang. Ini sudah kali ketiga sang rembulan dan pasukan bebintangnya tak menampakkan wajah. kau masih menyangkal tidak berbohong padaku? atas dasar apa aku bisa mempercayaimu lagi. ah..kau ini selalu saja begini.
Aku lelah, mataku mulai sayu. aku ingin istirahat. Dan kau, pulanglah. tak usah temani aku disini. Aku butuh ruang untuk bernafas lega. Tanpa harus berebutan udara denganmu. kehadiranmu hanya akan mengurangi oksigen yang seharusnya terserap ditubuhku. aku hampir dehidrasi disini. meski tidak bisa melihat bintang, setidaknya sekarang telah turun rintikan hujan. Pulanglah, aku tak ingin kau sakit. Tinggalkan aku disini bersama hujan.

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...