Ini sudah Larut, dan aku benci harus menunggu terlalu lama. diamana bintang yang ingin kau tunjukkan? bukankah sejak tadi pun rembulan berada dibalik awan? dan langitpun telah kelabu semenjak senja menjelang. Sudah kukatakan, "Aku membenci senja!", aku memang tak pernah menyukainya. melihatnya hanya menyisakan kesakitan pada diriku. Tapi terkadang kau terus memaksaku untuk menjenguknya. Aku tak tau kenapa kau begitu mengaguminya, hingga terkadang pun kau melupakan aku, sampai aku pun marah kepadamu. Lalu selalu kau merayuku dengan iming-iming melihat rembulan dan bebintang. Ini sudah kali ketiga sang rembulan dan pasukan bebintangnya tak menampakkan wajah. kau masih menyangkal tidak berbohong padaku? atas dasar apa aku bisa mempercayaimu lagi. ah..kau ini selalu saja begini.
Aku lelah, mataku mulai sayu. aku ingin istirahat. Dan kau, pulanglah. tak usah temani aku disini. Aku butuh ruang untuk bernafas lega. Tanpa harus berebutan udara denganmu. kehadiranmu hanya akan mengurangi oksigen yang seharusnya terserap ditubuhku. aku hampir dehidrasi disini. meski tidak bisa melihat bintang, setidaknya sekarang telah turun rintikan hujan. Pulanglah, aku tak ingin kau sakit. Tinggalkan aku disini bersama hujan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR Oleh : Mu h ammad Abū Salmâ “ Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil me...
-
Jam mu tertuju angka sepuluh Lelaki muda itu yang duduk didepanku Memandang lusuh keluar jalanan berdebu. Sesekali matanya sayu, mem...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan jejak dengan sejuta manfaat yang memotivasyifa^_^