Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
By: Sapardi Djoko Damono
28 Mar 2013
Sajak Kecil Tentang Cinta
sajak kecil tentang cinta
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
By: Sapardi Djoko Damono
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
By: Sapardi Djoko Damono
Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.
By: Sapardi Joko Damono
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.
By: Sapardi Joko Damono
27 Mar 2013
A S A
Segenggam asa, ingin bicara
Namun diam dalam selaksa.
Sejuntai rindu, mengalun syahdu
Namun tersekat dalam ruang bisu
Terkulai layu dalam nyata tanpa ritme cahaya
Buram, tanpa alunan nada yang mengeja makna
Rusuh, dalam hembusan angin yang mengaduh
Terlalu jauh untuk kutempuh
Dan sisa-sisa optimisme lebur bagai abu
Terserak dalam alunan sikap yang mengalah
Maaf, tak sempatku berbenah!
Ruang Bisu,
27.3.13
26 Mar 2013
Antara Dua Wanita (Berkelana Dalam Pilihan 2nd)
Bahwa ada pilihan-pilihan dalam
menyusun cita dan langkah di jalan cinta para pejuang, biarlah kali ini dua
orang wanita mengajari kita. Wanita pertama bernama Habibah binti Sahl, istri
Tsabit ibn Qais. Suatu masa ia datang kepada Rasulallah saw. Ia berkata,
”... Aku tidak mengingkari kebagusan akhlaq dan agamanya, Ya Rasulallah.
Tetapi aku takut menjadi kufur jika tak bercerai darinya. Aku takut jika terus
menerus bermaksiat padanya karena ketidaktaatan pada suami, dan aku tahu itu
menyalahi perintah Allah...”
Rasulallah bersabda,
”Maukah engkau mengembalikan kebun-kebunnya?” Habibah menjawab,
”Ya...!” Maka Rasulallah bersabda kepada Tsabit, ”Ambil
kembali kebun itu, dan thalaq-lah istrimu satu kali!”
Habibah begitu mengerti akan
potensi dirinya. Ia tahu resiko yang kemungkinan besar terjadi sebagai
konsekuensi dari bertemunya realita kondisi yang ia hadapi dengan watak, sifat
dan karakter dirinya. Maka ia bicara tentang sebuah hak yang memang semestinya
ia peroleh.
Ia tidak tercela. Bagaimanapun
ada harapan-harapan tersendiri bagi seorang wanita untuk mendapatkan suami yang
begini dan begitu. Siapapun tidak berhak mengatakan Habibah berselera rendah
karena menolak Tsabit ibn Qais semata karena alasan fisik. Dan sebenarnya
alasannya lebih pada dirinya sendiri yang khawatir kufur kepada Allah atas
kondisi suaminya. Ada hal yang lebih besar yang ia takutkan, yakni kufur pada
nikmat Allah, dan durhaka pada suami. Habibah memilih untuk bertaqwa pada Allah
dengan meminta cerai dari seorang suami yang sulit diterima oleh perasaannya.
Selalu ada ruang dan ruang itu
berisi pilihan-pilihan. Tetapi, bicara tentang kemuliaan, tentu lebih dari
sekedar bicara tentang hak.
Inilah kisah tentang wanita
kedua. Dengarlah, dalam riwayat Imam An Nasa’i, ’Aisyah bercerita
dalam perasaan yang senada. ”Ada seorang gadis remaja dinikahkan dengan
seorang laki-laki. Ia kemudian berkata padaku, ”Sesungguhnya ayah telah
menikahkanku dengan putera saudaranya agar martabatnya dapat terangkat melalui
diriku. Tetapi aku tidak menyukainya...!”
’Aisyah lalu mengajaknya
bertemu dengan Rasulallah. Kemudian Rasulallah mengutus seseorang untuk
memanggil ayahnya agar hadir ke rumah beliau. Ketika sang ayah hadir,
Rasulallah menyerahkan kembali urusan hal pernikahan kepada sang gadis. Dan
gadis itu berkata’ ”Ya Rasulallah, sebenarnya aku telah ridha akan
apa yang dilakukan ayah kepadaku. Hanya saja, aku berkeinginan untuk
memberitahukan kepada para wanita, bahwa mereka memiliki hak dalam masalah
ini.”
Ada hak dalam menolak pernikahan
yang digagas orang tua. Tapi ada kemuliaan dalam mentaati orang tua dan
berbakti pada mereka. Wanita agung ini memilih yang kedua. Bukanya tanpa
resiko. Karena dalam pernikahan ini ianya harus membangun cinta, mengatur
perasaannya dari titik tidak suka. Menarik. Karena gadis ini mengungkap satu
pelajaran besar tentang hak wanita untuk menentukan pilihan. Ia memperjuangkan
hak saudari-saudarinya agar mendapat ketegasan pengakuan dari Allah dan
RasulNya. Dan jauh lebih menarik, karena ia mengungkap kemuliaan sebuah kata
ridha kepada orang tua, dan keagungan kata shabar atas ujian.
Begitulah. Selalu ada ruang
diantara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka
itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih diantara bermacam tawaran.
Sumber:
Web In RZ
24 Mar 2013
Puisi Sabili :)
-Surau Di Ujung Gang-
Surau...
Terkoyak peluru bengis
Membogem mentah pendusta dunia
Parau, suara laki-laki tua mengacau
Mengusik kuping-kuping pecinta dunia
Lalu berbaris layaknya tentara
tiga dan lima berjejer mesra
Mereka yang hidup separuh abad mulai berjama'ah
Si kepala dua, entah dimana!
Mereka asyik berdendang pendewa
Untuk ke syurga, katanya!
Tapi lupa pada DIA.
Surau..
Lusuh berdebu.
Pak tua sibuk mengapit sapu
Lalu menarikannya beriring dzikir menyeru.
Sejadah panjang menggerutu
Pijakannya benar-benar berbau debu
Tapi ia kagum dengan bocah berusia sepuluh
Yang duduk mahsyuk laiknya berteduh
Matanya menyapih air, deras sekali
Tak peduli liku-liku debu menderu tubuhnya
Masih menyapih, didekapan kalam Tuhan
Lirih berbisik berjanji
Kan ku jaga surau-MU ya Rabbi...
Masih menyapih, bahkan lebih deras lagi
Membasahi lantai surau. Medan, 9 Agustus 2008
Terkoyak peluru bengis
Membogem mentah pendusta dunia
Parau, suara laki-laki tua mengacau
Mengusik kuping-kuping pecinta dunia
Lalu berbaris layaknya tentara
tiga dan lima berjejer mesra
Mereka yang hidup separuh abad mulai berjama'ah
Si kepala dua, entah dimana!
Mereka asyik berdendang pendewa
Untuk ke syurga, katanya!
Tapi lupa pada DIA.
Surau..
Lusuh berdebu.
Pak tua sibuk mengapit sapu
Lalu menarikannya beriring dzikir menyeru.
Sejadah panjang menggerutu
Pijakannya benar-benar berbau debu
Tapi ia kagum dengan bocah berusia sepuluh
Yang duduk mahsyuk laiknya berteduh
Matanya menyapih air, deras sekali
Tak peduli liku-liku debu menderu tubuhnya
Masih menyapih, didekapan kalam Tuhan
Lirih berbisik berjanji
Kan ku jaga surau-MU ya Rabbi...
Masih menyapih, bahkan lebih deras lagi
Membasahi lantai surau. Medan, 9 Agustus 2008
-Qalbu Tak Berbias-
Duhai
qalbu..
Cairlah
dari beku
Lembutlah
dari batu.
Karna
kau qalbu...
Bukan
es atau pun batu
Lembutlah...
Karna
laku berasal darimu
Wujud
lagu berawal darimu.
Duhai
Qalbu...
Tidakkah
kau merindu??
Medan, 29 Desember 2008
-Bekal Pulang-
Aku
ingin pulang
Dengan
bekal yang telah aku sandang.
Dan
meninggalkan apa yang aku pinjam
;dirumah-MU.
Aku
ingin pulang
Dengan
kaki yang telanjang.
Terbakar
panas, debu-debu jalanan.
Aku
ingin pulang
Tidur
di pangkuan Penguasa alam.
Bening
Hati, 17 February 2009
-Hamba Kufur-
Apa
yang sudah kau berikan?
Tapi
kau minta dilebihkan.
Emas
segunung kau siakan,
Sutra
hijau kau bilang rerumputan.
Apa
yang sudah kau berikan?
Pengepak
firman kau bilang siluman
Travel
travel setan kau bilang kesenangan.
Dusta
adalah merdeka
Riya
adalah harta
Dendam
adalah jiwa.
Dusta
telah merdeka
Riya
bergelimang harta
Dendam
terenggut jiwa.
Itu
yang kau bilang syurga?
Sedang
Malik;
Menatapmu
sangar penuh nafsu.
Bening
Hati, 9 April 2009
23 Mar 2013
Langganan:
Komentar (Atom)
Dua beda
Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta. Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana. Me...
-
Aku cemburu… Pada hatimu yang tak lagi satu Pada mata air bahagiamu yang tak lagi karenaku Pada bulir-bulir kesejukanmu yang tak lagi...
-
PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR Oleh : Mu h ammad Abū Salmâ “ Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil me...
-
Jam mu tertuju angka sepuluh Lelaki muda itu yang duduk didepanku Memandang lusuh keluar jalanan berdebu. Sesekali matanya sayu, mem...

