7 Jan 2008

Ulama penyesat Umat

Dilihat dari sisi namanya saja sudah mencerminkan sifatnya. Ulama suu', yang dalam bahasa kita diartikan sebagai ulama jelek. Tentu pekerjaannya tak jauh-jauh amat dari merusak, membuat kacau dan rancu, serta menyesatkan.

Mendapat titel mulia sebagai ulama lantaran pakaian dan tutur katanya bak ulama, dan disebut suu' lantaran perbuatan, ajakan, dan hatinya yang jahat.
Sebenarnya, ulama su' sekarang merupakan kepanjangan dan pewaris ulama suu' tempo dulu. Ulama ini selalu mencari celah-celah hukum Allah, sehingga mereka bisa memakan harta secara batil seperti kisah penduduk yang menghalalkan mencari ikan pada hari Sabtu dengan tipu daya yang cukup terkenal itu, atau menghalalkan hukum riba dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

Ulama ini menduduki peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk dan paling merugi. Buruk dan merugi karena memiliki ilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang dzalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Di pihak lain ada yang sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di muka bumi ini. Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para kaki tangan Dajjal.


Penebar Kebaikan, Jauh Keteladanan

Di antara ulama su' ada juga kelompok yang mengajak kepada kebaikan, namun tidak pernah memberikan keteladanan. Karenanya, Ibnul Qayyim berkata, "Ulama su' duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Dan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia, "Kemarilah! Kemarilah!" Sedangkan perbuatan mereka berkata, "Janganlah engkau dengarkan seruan mereka. Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu." (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 61).

Asy-Sya'bi berkata, "Akan ada sekelompok penduduk surga yang melongok, melihat sekelompok penduduk neraka. Lalu penduduk surga menyapa mereka dengan penuh keheranan, "Apa yang membuat kalian masuk neraka, padahal kami masuk surga karena jasa didikan dan ajaranmu ?". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami memerintahkan kalian melakukan kebaikan namun kami sendiri tidak melaksanakannya."
Allah telah mencela orang-orang semacam ini sejak zaman Nabi Musa alaihis salam dan mengabadikan hinaan itu di dalam kitab suci sepanjang masa.

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) ? Maka tidakkah kamu berpikir ?" (Al- Baqarah: 44). (Mukhtashar Jami' Bayanul Ilmi, Ahmad bin Umar Al-Bairuti, hal. 165).

Benar-Benar Merusak
Model ulama seperti ini banyak jumlahnya. Tak usah jauh-jauh, ulama yang dalam muktamar telah memutuskan keharaman musik, setelah pulang ke pesantrennya malah terang-terangan memutar kaset-kaset nyanyian atau bahkan santrinya direstui membentuk grup musik. Ada lagi yang dengan manisnya mengatakan bahwa tidak boleh menjadikan kafir sebagai pemimpin, namun malah menjadi propagandis dan mengajak umat untuk memilih orang-orang kafir sebagai pemimpin-naudzubillah-.
Satu lagi termasuk kelompok ulama su', ulama yang mengajak kepada kebaikan, namun dengan cara-cara kefasikan, seperti berdakwah dengan musik, sandiwara, dan gendingan. Mulutnya mengajak ke surga sementara tangan dan kakinya mengajak orang lain untuk bergoyang mengikuti syetan.
Ada lagi yang menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin dengan gelak tawa dan senyuman lebar sebanyak mungkin. Mulutnya mengajak kepada iman, namun lawakannya malah mengeraskan hati pendengarnya. Jenis ulama penghibur (pelawak dan pemusik) ini tidak mengikuti aturan dakwah dalam syariat Islam, tetapi mengikuti nafsu syetan demi mengejar ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah n,
"Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia." (Riwayat At-Tirmidzi, no. 2419)

Walhasil, ulama suu' menimbulkan kerusakan agama, pemadam sunnah, pelindung bid'ah, pelopor maksiat. Tak berlebihan jika Ibnul Mubarak v mengungkapkan,

"Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su' dan para rahibnya."
Tiada lain, hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya'). Jika mereka baik, manusia akan baik dan jika mereka rusak, pastilah dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/462) Allahu A'lam





sumber: www.majalah-elfata.com

Remaja dan Aliran sesat

Sejak bergabung dengan sebuah grup pengajian, Arqom, sebut saja begitu, tak pernah nongol lagi ke masjid kampung. Ia tak mau lagi shalat bermakmum pada orang yang tak sealiran dengannya. Tak hanya itu, ia menganggap bahwa keislaman teman-temannya tidak sah. Yah, Arqom telah terjebak pada pemikiran kuno, Khawarij, yang mudah menvonis kafir pada orang yang tak sepemikiran dengan mereka.
Tak jauh beda dengan Arqom, Nina –seorang mahasiswi- terjebak pada sebuah pemikiran agama yang ganjil. Setelah mengikuti grup pengajian tertentu, ia tak lagi mengindahkan aturan-aturan syariat. Ia tak lagi perhatian dengan shalat lima waktu, jilbab, dan pergaulan laki-laki perempuan. Menurut kelompok kajiannya, shalat dan syariat itu semua belum wajib, karena saat ini masih periode Makkah. Tapi anehnya, zakat, yang sebenarnya diturunkan syariatnya setelah shalat, malah sudah mereka wajibkan. Demi menjerat harta sebanyak-banyaknya dari pengikutnya. Sayangnya, pengikutnya gak sadar-sadar kalau mereka telah diperalat. Innalillah wa inna ilaihi raajiun, kasihan sekali bukan?

Lain lagi dengan Bowo, ia memilih bergabung dengan sebuah kelompok yang meyakini kenabian seorang yang muncul di daerah India Pakistan. Mirza Ghulam Ahmad, itu yang diakuinya sebagai nabi setelah Nabi Muhammad. Bowo terjebak aliran sesat.

Arqom, Nina dan Bowo hanya contoh diantara pemuda yang terjebak pada pemikiran yang menyimpang dari ajaran Islam yang lurus. Masih banyak lagi Arqom, Nina dan Bowo lain yang terjebak pada warna-warni aliran sesat.

Sebuah realita yang memiriskan hati. Kok bisa-bisanya pemuda Islam banyak yang terjebak pada pemikiran yang menyimpang? Tentu saja, faktor utamanya adalah kemiskinan ilmu yang begitu kental di tengah-tengah pemuda. Dakwah di kalangan muda, boleh dikatakan minim dari sisi kualitas maupun jumlah. Sentuhan-sentuhan dakwah Islam yang indah dan shahih tak bisa dinikmati oleh para pemuda. Akibatnya, hawa nafsu dan aliran sesat pun mempermaikan akal mereka. Fenomena banyaknya pemuda yang terjebak aliran sesat ini yang akan dibahas pada edisi kali ini. Semoga ini menjadi sumbangsih untuk mengurangi jumlah teman-teman kita yang terjebak dalam aliran sesat. Semoga saja.



sumber: www.majalah-elfata.com

2 Jan 2008

AyAT-aYaT CiNTa "tHe MoViE"


UNTUK DI RENUNGKAN...

bukankah segala sesuatu baik itu perkataan, perbuatan, ucapan dan lainnya kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh ALLAH SWT di akhirat???

sadar ga' sih kita tentang novel ayat-ayat cinta" yang di filmkan ini tersembunyi mudharat yang terkandung didalamnya..
kenapa saya bilang begini???
itu karna ada ayat alQur'an yang mengingatkan saya tentang bahayanya film ini.


idz yatalaqqaa almutalaqqiyaani 'ani alyamiini wa'ani alsysyimaali qa'iidun

[50:17] (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

maa yalfizhu min qawlin illaa ladayhi raqiibun 'atiidun

[50:18] Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

yah...segala perbuatan kita akan dicatat oleh malaikat...dan kelak kita akan mempertanggungjawabkannya dihadapan ALLAH.

ALLAH juga telah mengingati kita untuk tidak MENDEKATI zina, tentu saja meksud dari penggalAn arti ayat tersebut adalah jangan didekati...dan meskipun kita tidak melakukan zina, tapi kan disitu kita berperan sebagai pendukung atau sbgi sarana terlaksananya zina itu.
itulah sebabnya kenapa ALLAH mengatakan jangan DEKATI..dan bukaan kata2 DIHARAMKAN..
karna kalo kata2 DIHARAMKAN itu, tentunya hanya berlaku pada orang yang melakukannya aja dan ga berlaku pada pendukung, penyedia tempat para pelaku zina tsb kan...
maksud dari ucapan saya ini...
kalo saya sebagai penulis Novel tersebut,saya tidak akan memberi Izin untuk di filmkannya Novel ini. kenapa????
karna, dalam pembuatan film itu sendiri kan yang melakonkan peran mereka kan bukan mahromnya, alias udah melakukan perzinaan...(ga hanya film ini aja, film yg lain juga banyak)
intinya, kalo kita menonton film ini berarti kita turut meramaikan, mendukung acara perzinaan itu kan??

Jangankan filmnya, Novel nya ajah udah banyak membuat para akhwat jadi kepikiran sampe berminggu2 bahkan ada yang berbulan tentang sosok fahri yang di gambarkan perfecsionis itu.
pada keblinger semua deh, pada berkhayal...ada ga' yah sosok ikhwan yang kayak fahri di alam nyata???
alah...alah....
nah, gitu juga dengan para ikhwan. yang kebanyakkan membayangkan sosok aisha yang begitu sholehah, kaya raya, CANTIQ lagi....
yah ini sekedar pendapat saya aja...
setiap orang kan beda2 pemikiranya..

tapi sekali lagi saya tuturkan...buat "Habibburrahman Elshirazy"
royalti yang diberikan dari penggarapan film tersebut ga akan bisa membayar pertanggung jawaban yang akan kita tunjukkan kelak di akhirat kepada ALLAH.

alhamdulillah...kemaren aku ga jadi di ajak nonton.
ya ALLAH ampunilah kami....

gimana???
masih mau nonton film tersebut???
pikir-pikir dulu deh...

WALLAHU ALAM..dan semoga ALLAH mengampuni dosa-dosa kita semua..
dan kita selalu ditunjuki ke jalan-NYa yang lurus.. amin

"HIKMAH"

  • Ikhlas dan tauhid adalah pohon yang ditanam di taman hati, Amal perbuatan adalah cabang-cabangnya, sedangkan buah-buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan abadi di alam akhirat. (Ibnul-Qayyim)


    "Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan keimananmu, higga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu".(Ibnu Athaillah)

  • Sahabat itu adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan senyum sabar ketika engkau berduka, memapahmu saat engkau hampir tergelincir, dan mengalungkan butir2 mutiara doa pada dada mu


    "Do'a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah do'a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakilnya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tsb berkata aamin dan engkaupun mendapatkan apa yang dia dapatkan"(HR Muslim)

  • "Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenarnya". (QS. Al-Mu'minuun:115-116)

    "Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu kebahagiaan yg lain akan terbuka. tetapi acapkali kita hanya terpaku terutama pada pintu yg tertutup sehingga kita tidak melihat pintu lain yg dibukakan untuk kita".(Anonymous)

    'yang disebut bijaksana adalah yang mengingati pengalaman, sebaik-baik pengalaman adalah yang senantiasa menjadi peringatan bagimu.' [wasiat Imam Ali]

  • "Wahai anak manusia, setiap kali engkau meminta kepada-Ku dan mengharap dari-Ku, maka Aku akan ampunkan bagimu apa yang telah lalu dan Aku tidak peduli betapapun besar dan banyaknya dosamu. Wahai anak manusia, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak manusia, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa setumpuk dosa sebesar bumi, kemudian engkau berjumpa dengan-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, maka Aku akan memberikan ampunan sebesar bumi itu pula" (Hadits Qudsi Riwayat Turmudzi)

  • Rasulullah saw. bersabda, " Satu hukum Allah yang benar-benar diterapkan di muka bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi dari pada mereka diberi hujan selama empat puluh pagi." (HR Ibnu Majah, Ahmad, an-Nasa)

    "Sebaik-baik pemimpinmu ialah mereka yang kamu kasihi dan mereka mengasihimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Dan sejahat-jahat pemimpinmu ialah kamu membenci mereka dan mereka membencimu. Kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk mu. Sahabat-sahabat berkata: "Bolehkah kami menentang mereka?" Jawab Nabi: "Tidak, selama mereka tetap menegakkan sembahyang." (HR. Muslim)


  • Sesungguhnya Allah jika mnghendaki mbinasakan seorang hamba, mk Dia mncabut dari orang itu rasa malu. Jika telah tercabut darinya rasa malu, engkau tidak menjumpai orang itu kecuali bergelimang dosa. Jika engkau tidak menjumpai kecuali bergelimang dosa, dicabut (pula) dari dirinya amanah. Apabila telah dicabut darinya amanah, engkau tidak menjumpainya kecuali sebagai orang yang berkhianat dan dikhianati. Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan berkhianat dan dikhianati, maka dicabut darinya rahmat (Allah). Apabila telah dicabut darinya rahmat (Allah), engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat. Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat, maka dicabut darinya ikatan dengan Islam�. (HR. Ibnu Majah)

  • Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

HUKUM MUSIK DAN NASYID

Fatwa Syaikhul Islam Al-Albany tentang Nasyid
Penulis:Syaikhul Islam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albany-rahimahullah
Berkata Syaikh dalam kitabnya “Tahrim Alatuth Tharb (Haramnya Alat-Alat Musik)” :

“Telah jelas pada fasal ketujuh tentang apa-apa saja yang boleh dilagukan (dibaguskan suara) dari syi’ir dan apa-apa saja yang tidak boleh. Sebagaimana telah jelas pada (penjelasan) sebelumnya tentang haramnya alat-alat musik, semuanya kecuali duf pada hari 'ied dan pengantinan, untuk wanita saja.

Dan pada fasal yang terakhir ini (di jelaskan.–pent.) bahwasanya tidaklah boleh bertaqarrub kepada Allah kecuali sesuai dengan apa yang Allah syari’atkan. Maka bagaimana boleh bertaqarrub kepada-Nya dengan apa-apa yang di haramkan ?. Oleh karena itulah, para ulama mengharamkan ghina` Shufiyyah. Dan pengingkaran mereka lebih keras lagi terhadap orang-orang yang menghalalkannya. Maka apabila pembaca menghadirkan dalam benaknya ushul (pokok-pokok/prinsip-prinsip dasar) yang kuat ini (tidak bertaqarrub kepada Allah kecuali sesuai dengan syari’at Allah,-pent.) maka akan jelas baginya dengan sejelas-jelasnya bahwasanya tidak ada perbedaan dari segi hukum antara lagu-lagu (ghina`) Shufiyah dan nasyid-nasyid Ad-Diniyah.

Bahkan boleh jadi pada nasyid-nasyid ini ada bahaya/penyakit lain, yaitu nasyid-nasyid ini kadang disenandungkan dengan mengikuti senandung lagu-lagu gila dan dibuat dengan aturan-aturan (gaya-gaya) musik Timur atau Barat, yang mempesona para pendengar dan menjadikan mereka menari-nari dan mengeluarkan mereka dari kondisi mereka (yang sebenarnya,–pent.). Maka yang dimaksud (yang diinginkan) adalah lagu-lagu dan musik itu, bukan nasyid itu sendiri. Dan ini adalah merupakan penyelisihan yang baru yaitu tasyabbuh (menyerupai) terhadap orang-orang kafir dan orang-orang kurang malu.

Dan di balik itu boleh jadi akan menghasilkan penyelisihan yang lain, yaitu menyerupai mereka dalam keberpalingan mereka dari Al-Qur`an dan hijrahnya (tidak mengacuhkannya) mereka dari Al-Qur`an. Maka mereka masukl ke dalam keumuman pengaduan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dari kaumnya. Sebagaimana firman Allah :



æóÞóÇáó ÇáÑøóÓõæáõ íóÇÑóÈøö Åöäøó Þóæúãöí ÇÊøóÎóÐõæÇ åóÐóÇ ÇáúÞõÑúÁóÇäó ãóåúÌõæÑðÇ
“Berkatalah Rasul : “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini sebagai suatu yang tidak diacuhkan”.” (QS. Al-Furqan : 30).

Dan saya sungguh ingat dengan baik, bahwa ketika saya di Damaskus, dua tahun sebelum saya pindah ke sini (Amman) bahwasanya sebahagian pemuda muslim mulai menyenandungkan sebagian nasyid-nasyid yang memiliki makna yang selamat (dari khurafat dan kesyirikan, bid’ah maupun kefasikan,-pent.) dengan maksud menyelisihi gina orang-orang sufiah seperti Qashidah Al-Busiriyyah dan selainnya. Dan hal itu di rekam dalam kaset. Tidaklah menunggu waktu kecuali sedikit hingga nasyid-nasyid tersebut telah diiringi dengan pukulan duf (rebana). Pada awalnya mereka gunakannya pada acara walimatul ‘ursy (pesta pernikahan/pengantin) dengan alasan bahwa (duf) boleh pada acara tersebut. Kemudian mulailah kaset tersebut diperbanyak dan menyebarlah penggunaannya di kebanyakan rumah dan mulailah mereka mendengarkan nasyid-nasyid ini siang dan malam baik dengan adanya sebab-sebab tertentu (seperti acara walimatul ‘ursy,-red.) atau tanpa sebab tertentu sehingga jadilah yang demikian itu sebagai hiburan dan adat kebiasaan mereka, dan hal itu adalah dari/disebabkan oleh kemenangan hawa nafsu dan kejahilan dengan tipu daya syaithan, dimana syaithan telah memalingkan mereka perhatian terhadap Al-Qur`an dan mendengarkan pembacaannya lebih-lebih dari mempelajarinya, dan menjadikan Al-Qur`an suatu yang tidak diacuhkan lagi oleh mereka, sebagaimana dijelaskan oleh ayat yang mulia tersebut.

Ibnu Kastir berkata dalam tafsirnya : “Allah telah berfirman dalam rangka mengabarkan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata : “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini sebagai suatu yang tidak diacuhkan”.”. Yang demikian karena orang-orang musyrikin dahulu tidak mau mendengar Al-Qur`an dan tidak mau memperhatikannya, sebagaimana firman (Allah) Ta’ala :



æóÞóÇáó ÇáøóÐöíäó ßóÝóÑõæÇ áóÇ ÊóÓúãóÚõæÇ áöåóÐóÇ ÇáúÞõÑúÁóÇäö æóÇáúÛóæúÇ Ýöíåö

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya”.” (QS. Al-Fushilat : 26).

Maka mereka (orang kafir), jika dibacakan Al Qur`an pada mereka, mereka memperbanyak hiruk pikuk dan pembicaran yang lain supaya mereka tidak mendengarkan (Al Qur`an). Maka ini termasuk hijrahnya (tidak acuhnya) terhadap Al Qur`an dan tidak mau beriman dengannya.

Tidak membenarkannya adalah termasuk sikap meninggalkan/tak acuh terhadapnya.

Tidak mentadabburi dan tidak mempelajarinya adalah termasuk sikap tak acuh.

Meninggalkan pengamalan terhadapnya, pelaksanaan perintah-perintahnya, penjauhan terhadap larangannya adalah termasuk sikap tak acuh terhadapnya.

Berpaling darinya (Al Qur`an) kepada selainnya baik berupa sya’ir atau ucapan, lagu, permainan, perkataan atau cara-cara yang diambil dari selainnya adalah termasuk sikap tak acuh terhadapnya.

Maka kita meminta pada Allah Yang Maha Mulia, Sang Pemberi Karunia dan Yang Maha Kuasa atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, agar melepaskan kita dari apa-apa yang dimurkai-Nya dan menjadikan kita beramal pada apa-apa yang diridhoi-Nya, seperti menghafal kitab-Nya dan memahaminya serta mengamalkan segala konsekwensinya (tuntutannya) sepanjang malam dan siang, sesuai dengan apa yang dicintai-Nya dan diridhoi-Nya sesungguhnya Dialah yang Maha Mulia dan Maha Pemberi". (Tafsir Ibnu Kastir 3/217). Amman 28/6/1415 H.



Dan sebelum ini pada (tulisan) berjudul “Al-Ghina` Ash-shufiy dan Anasyid Islamiyah”, Syaikh telah menyebutkan muqaddimah yang bagus bahwasanya tidak ada yang diibadahi kecuali Allah saja dan tidaklah Allah diibadahi (disembah) kecuali dengan apa-apa yang disyariatkan-Nya dan ini adalah konsekwensi dari kecintaan yang dengannya seorang hamba akan mandapatkan (merasakan) manisnya Iman.



Kemudian beliau berkata : “Jika sudah diketahui ini maka saya menganggap wajib bagi saya, bertolak dari sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam :



ÇóáÏøöíúäõ ÇáäøóÕöíúÍóÉõ
“Agama adalah nasihat”.

Untuk mengingatkan orang-orang yang terfitnah dari kalangan saudara-saudara kami kaum muslimin, siapa dan bagaimanapun mereka, (yang terfitnah,-pent.) dengan nyanyian sufi atau apa yang mereka namakan dengan nasyid-nasyid Islamiyah, agar mereka dapat mendengarkan dan menyimak yang berikut ini :



· Bahwasanya nasyid (ghina`) tersebut adalah suatu yang diada-adakan tidak pernah di kenal pada masa-masa yang disaksikan (diakui) kebaikannya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, oleh karena itu orang-orang yang menghadiri permainan atau sesuatu yang melalaikan dia (sendiri) tidak menganggapnya (perbuatannya tersebut) sebagai amalan salehnya dan tidak mengharapnya pahala dengannya. Akan tetapi barang siapa yang melakukannya dengan dasar (keyakinan,-red.) bahwasanya itu adalah suatu jalan (untuk bertaqarrub,-pent.) kepada Allah, maka dia akan menjadikannya sebagai agama. Jika dilarang darinya, maka dia akan seperti orang yang dilarang dari agamanya dan memandang bahwa sungguh dia telah terputus (hubungannya,-pent) dari Allah, dan telah diharamkan bagiannya (pahala) dari Allah Ta’ala jika dia tinggalkan.

Maka mereka-mereka ini adalah orang-orang yang sesat dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Dan tidak ada seorangpun dari para A`immah (Imam-Imam) kaum muslimin yang mengatakan bahwa menjadikan hal ini (nasyid-nasyid Islam atau nasyid sufiah) sebagai agama, jalan bertaqarrub kepada Allah adalah suatu mubah (boleh). Bahkan (yang sebenarnya adalah bahwa,-red.) barang siapa yang menjadikan hal ini sebagai agama dan jalan menuju kepada Allah Ta’ala maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan, orang yang menyelisihi kesepakatan (ijma’) kaum muslimin.

Dan barang siapa yang melihat kepada yang nampak dari suatu amalan lalu membicarakannya (mengomentarinya) dan tidak melihat pada perbuatan pelaku serta niatnya, maka dia adalah orang jahil ……..agama tanpa ilmu”. (Majmu’ Al-Fatawa : 11/621-623).

· Tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan apa-apa yang tidak disyariatkan-Nya walaupun asal amalan tersebut disyariatkan, seperti adzan untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Ini adalah pada yang asal amalannya disyari’atkan, maka bagaimana pula dengan apa-apa yang diharamkan serta apa-apa yang ada padanya ada penyerupaan terhadap orang-orang Nashara yang Allah berfirman tentang mereka :



ÇáøóÐöíäó ÇÊøóÎóÐõæÇú Ïöíäóåõãú áóåúæðÇ æóáóÚöÈðÇ
“Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurauan”. (QS. Al-A’raf : 51).

Dan tentang orang-orang musyrikin Allah berfirman :



æóãóÇ ßóÇäó ÕóáÇóÊõåõãú ÚöäÏó ÇáúÈóíúÊö ÅöáÇøó ãõßóÇÁ æóÊóÕúÏöíóÉð
“Dan tidaklah sembahan mereka di sekitar Baitullah itu kecuali hanyalah siulan dan tepuk tangan”. (QS. Al-Anfal : 35)

Al-Muka` adalah (berarti) siulan, adapun Tashdiyah berarti tepuk tangan.
Al-Imam Asy-Syafi’iy berkata : “Saya telah tinggalkan di Iraq, sesuatu yang disebut dengan “at-taghbir” yang dibuat-buat oleh Az-Zanadiqah (orang-orang munafik), yang dengannya mereka menghalangi manusia dari Al-Qur`an”.

Imam Ahmad ditanya tentangnya (at-taghbir), maka beliau menjawab : “(Itu adalah) bid’ah”. Dalam satu riwayat beliau (Imam Ahmad) mengingkarinya dan melarang penggunaannya dan beliau berkata : “Jika engkau melihat seseorang dari mereka pada suatu jalan, maka ambilah jalan yang lain”. Diriwayatkan juga oleh Al-Khallal. Adapun tambahan (riwayat terakhir) dari (kitab) Mas`alatus Sama’ karya Ibnul Qoyyim hal. 124.

At-Taghbir : syair yang mengajak untuk zuhud terhadap dunia, dilagukan oleh seorang penyanyi, maka sebahagian yang hadir dan memukul hamparan dari kulit dan bantal mengikuti irama lagunya; hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dan selainnya.

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Majmu’ (11/570) :

“Apa yang disebutkan oleh Asy-Syafi’iy bahwa “At-taghbir” tersebut merupakan buatan orang-orang az-zanadiqah (munafiq) maka itu merupakan perkataan seorang Imam yang khabir (ahli lagi berpengalaman) terhadap pokok-pokok agama. Maka sesungguhnya as-sama’ ini pada dasarnya tidak pernah dianjurkan dan didakwahkan kecuali oleh orang yang tertuding (dicurigai) sebagai orang-orang zindiq (munafiq) seperti Ibnu Ar-Rawandy, Al-Faraby, Ibnu Sina dan semisalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Abdirahman As-Sulamy dalam “Mas`alatis Sama”.”

Dan Syaikhul Islam juga berkata :

“Dan telah diketahui dengan pasti dan jelas dalam agama Islam bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mensyariatkan bagi umatnya yang shaleh dan ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud untuk berkumpul guna mendengarkan bait-bait yang dilagukan dan diiringi tepuk tangan atau tabuhan gendang atau duf, sebagaimana halnya Rasulullah tidak membolehkan pada seorangpun untuk keluar dari mutaba’ah (pengikutan) kepada beliau dan mengikuti apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan hikmah (Hadits Rasulullah,-pent.), baik itu perkara yang bathin (yang tidak nampak) maupun yang nampak, baik bagi orang yang awam maupun orang khusus (tidak boleh sama sekali untuk keluar dari mengikuti Rasulullah,-pent.)”.

Kemudian (Syaikhul Islam) berkata :

“Dan barang siapa yang memiliki khibrah (pengetahuan yang dalam) terhadap hakekat-hakekat agama dan keadaan-keadaan hati, pengenalan-pengenalan, perasaan-perasaan dan kecintannya, maka dia akan tahu bahwa mendengarkan siulan dan tepuk tangan tidak akan memberikan manfaat maupun kebaikan bagi hati melainkan bahwa di balik itu terkandung mudharat/bahaya dan kerusakan yang lebih besar…..”. (Majmu’ Al-Fatawa 11/537-576).”

Dinukil dari kitab Al-Qaul Al-Mufid fii Hukmil Anasyid karya ‘Ishom ‘Abdul Mun’im Al-Murry.


oke....semoga kita bisa menjalankan islam secara kaffah..
dan semoga kita bisa menjadi manusia yang paling di rindui-NYa dan surga-NYa...
amin ya rabb...

26 Des 2007

Kakak

kakak....
sebuah panggilan mesra
yang didalamnya tersimpan rasa
seratus...
seribu....
bahkan berjuta...
saat disisi..tiada perduli dimiliki
saat menjauh pergi
rindu menyiksa mencari-cari.

embun jatuh dari daun diatas pipi
mengenang hari yang pernah terlalui
kecupan hangat dipagi hari
belaian sayang dimalam hari..
mungkin.., takkan kudapati lagi saat ini
kembali pun kau nanti
hanya untuk pergi lagi

aku...
kesepian disini,
di temani rintikan hujan
yang miliki kerinduan sama
seperti pelangi....


special dedicate for my sister...
i mizz u so...muaaach

banyak tanya.....

mau nanya tentang beberapa hal yang sudah jadi tradisi bangsa...

1. ketika ada orang meninggal, biasanya dirumahnya itu ada sebuah baskom yang berisi beras untuk tempat para takziyah meletakkan uang. pada zaman rasul dulu ada ga ya??dan hukumnya apa?? bukan kah itu termasuk kepada suatu hal yang berlebih2an atawa pemborosan??coz bagi org yg meletakkan uangnya maka beberapa butir beras diambil. hingga menyebabkan lama kelamaan beras tersebut berkurang.
2.bagaimana dengan penggunaan kembang untuk orang yang meninggal?? saya sering melihat adanya kapas yg nantinya akan digunakan si mayit tsbt dihiasi dengan beberapa kelopak bunga. ini budaya islam atawa hindu??
3. saya melihat di banyak majalah atau sejenisnya tentang penyebutan "kyai Haji" yg disingkat KH.., yang ingin saya tanyakan gelar "kyai" itu bagaimana cara memperolehnya??atau itu hanya sebutan dari manusia2 saja???
4.ada sebahagian orang yang selalu menanyakan...manhajnya apa??apa ini pertanyaan yang begitu penting??bukankah kita sama2 orang islam??utk pertanyaan tersebut sering membuat kita sbgi umat islam jadi terpisah...
hal tersebut sudah banyak saya jumpai dilingkungan kampus saya...karna perbedaan manhaj tersebut mereka seperti ada ruang pemisah,,,padahal sesama islam loh???
5. masalah musik, nyanyian dan sejenisnya....saya masih bingung.hal tersebut di benarkan apa ga dalam islam?? adakah dalil yang kuat yg bisa meyakini hati saya??jika memang tidak dibenarkan, bagaimana dengan nyanyian yang memuji asma ALLAH ,seperti nasyid dan sebagainya..???

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...