14 Agu 2012

~Hanya

Hanya minta kau diam dan tak usah pedulikan.

-Sejenak-

Katakan pada hujan bahwa aku merindukannya
Katakan pada hujan untuk mampir kekotaku sejenak
;sebentar saja.


Dan hujan itu hadir membasahi
;bumiku yang kering jadi basah

2.2.12
From My Multiply

Jerat Maknaku Pada Pagi Asamu

Seraut wajah membiru
Membekas, sarat benang pilu
Sendu mengalun syahdu
Membesit di qalbu
Apa ku tau? Ada luka yg melagu
Terbuka menganga membeningkan mata
Ingin kuhaturkan petuah ke telinga
Agar tak larut kau dalam nestapa
Luapkan. Dan jerat maknaku
Ceritakan pada pagi asamu,
Lewat embun daun yg menetes
;diserap mentari
Sapalah rembulan lewat bintang
Dan bahagiaku terbentang
Membaur alam

^My Poetry^
Medan, 23042010

Nemu puisi ini di File lama, ternyata usianya sudah 2tahun. heheh ^_^

#Dua-Dua

Hujan bumiku; deras sekali.
Emak&anak tidur terlelap
Sdg aq masih duduk bersila
;merayu Tuhan
Tuhan..inilah aq
hamba yg mencari-MU dikala susah
Tapi tak pernah KAU marah.
Senang aq,selalu alpa
Tapi tetap KAU beri karunia
Tuhan, aq merayu-MU
Namun gemuruh yg m'jawabku
Langit malam msh m'basahi bumiku
Menggenang air lembahku
Ingin q dekap birunya langit siang
Dgn gagahny cahya matahari menantang
Tuhan,.rindu aq ingin pulang
;kekampung halaman.

^My Poetry^
-13 Sept 2010-


*ini juga nemu di file lama, puisinya hampir dua tahun. tapi kalau dibuat lagi tahun ini judulnya ganti jadi "Dua Empat"

~Biru

Menatapmu....
~penuh sendu
~juga haru
tiada yang bisa menggantikan cerita celotehan kecil jenaka
Tiada yang bisa menghapus duka selain tawa
Bermain layang-layang bersama waktu
menghitung mundur perlahan
Hilang tertelan.

Medan.
~28.4.12~

11 Agu 2012

#Quotes

Yang Manis jangan langsung ditelan, yang Pahit jangan langsung dibuang.

~Lelah

Sepekat malam kau hadirkan,
Sedekat alam kau bisikkan,
Kata hikmah lewat anginnya
Sendu jiwa lewat airmata
Riuh bahagia lewat tawa
Meski tatapmu gontai
Meski tubuh ringkihmu lelah penuh peluh
Terus mencari tempat berteduh
Menyembuhkan luka yang berdarah.


Bumi Madani.
11.8.12

10 Agu 2012

~Mari berhenti sejenak

Oleh : Adih Amin, Lc.
Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan. Betapa tidak, di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya, kita harus bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup ita yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat. Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya, tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.

Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan "tidak" di hadapan mereka semua yang berkata "iya". Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala argumentasinya, tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk "diam", tatkala orang lain menilai bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kitapun hanya mengisyaratkan kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata. Di saat orang beretorika dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kitapun hanya meminta kita untuk membaca pikiran di balik pikiran. Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan dunia dengan segala kenikmatannya, idealisme kitapun hanya mengalunkan satu kata, "qonaah". Itulah idealisme kita di hadapan mereka.

Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak mempengaruhi pikiran kita. Pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal henti seiring dengan perjalanan hidup ini.

Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah kehidupan. Gelombang dan badai harus dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.

Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan, bosan bahkan tidak peduli dengan kondisi. Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman yang berarti. Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat. Berhenti bukan berarti selesai atau sampai di sini. Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita lalui, berhenti untuk memompa kembali semangat beramal, berhenti untuk mencas batrei keimanan kita agar tidak redup.

Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan dalam menghadapi segalanya. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri kita, "ruhiyah" kita. Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh, tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai rintangan yang akan menghalangi kita. Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman agar dapat berpikir jernih dan tetap semangat menjalani hidup ini. Kita butuh ketegaran jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup.

Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal RA kepada sahabatnya dengan ungkapannya yang menyejukkan hati "mari duduk sesaat untuk beriman". Berhenti sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga. Karena segala yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya, ingatlah bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu, bisa jadi justru akan menambah masalah baru. Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat hidup ini dengan segala problematikanya. Mari kita sempatkan untuk selalu memperbaharui keimanan kita ditengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan.
 
Ada saat dimana kita harus berhenti saat sudah jauh kencang berlari, bahkan mungkin kita harus melangkah mundur satu dua langkah kebelakang. Tak lain untuk sekedar melihat, adakah yang tertinggal? atau adakah yang terlupa atau tersalah? hingga kita siap kembali untuk berlari lebih kencang lagi dari sebelumnya.
 

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...