16 Jul 2010

HATI-HATI UKHTI MODUS OPERANDINYA KHITBAH

....Menikah !
Menikah !
Menikah !
Siapa yg tidak ingin menikah?
Menyempurnakan separuh dien, ibadah jadi lebih sempurna & banyak pahalanya. Ya, itulah faktanya. Apa lagi untuk ikhwan & akhwat, yang paham betul arti pernikahan. Ngebeeet...Cari jodoh..!!

Eeit, hati-hati...!! Apa lagi di FB.
Ini kisah nyata. Telah,sedang & mungkin akan trus berlanjut, mungkin akan menimpa anda terutama akhwat-akhwat tangguh atau akhwat yang berada dibarisan terdepan, akhwat pentolan. Anda jadi incaran. Jika ada seorang akhwat yang menawarkan ikhwan mencari istri, hati-hati !
Saat ini sedang beroperasi komplotan sadis yang ingin memporak-porandakan barisan dakwah akhwat pejuang Syariah &Khilafah.

Modus: Komplotan ini membuat akun-akun Fb super ideologis & militan. Antar akun saling menguatkan image keideologisannya. Akunnya bermacam-macam (nama ikhwan & nama akhwat) & penampaknnya sangat natural. Dinding akunnya khas dan ideologis melebihi ikhwan dan akhwat yang sebenarnya. Misalnya, identitasnya 03 Maret 1924, Khilafah, Penentang sistem Kapitalis, foto-foto2 profilnyapun super ideologis. Salah satu dari mereka, biasanya akun akhwat menawarkan bahwa ada 1 atau lebih kakak laki-laki atau keluarganya yang sudah mapan dan siap menikah.& ikhwan yg ditawarkan tersebut sangat militan,garda terdepan,tsaqofahnya mantap.
Ini bisa dilihat dari akunnya,dindingnya, infonya, gayanya berinteraksi, gaya ngomongnya, apa yang disampaikan & isi smsnya. Ini dialami langsung oleh akhwat2 yang jadi korbanya. Interaksi awal terlihat sangat sempurna.Si akhwat pun terkesima dan terpengaruh oleh kharismanya, mungkin juga jatuh cinta.Tapi jika diperhatikan secara jeli interaksinya ada keanehan & kejanggalan.Tapi dia tetap mengedepankan keideologisannya. Karena terikat perasaan tidak mudah bagi akhwat hidup secara normal dengan dakwah sucinya. Si laki-laki ini sering mengcall dan sms korbannya. Yaitu akhwat yang menjadi KETUA KORDINASI DAKWAH. Untuk skedar ngalor ngidul ta'arufan. Tapi bukan untuk MENIKAHI. Ya, BUKAN untuk MENIKAHI,tapi merusak perasaan,pemikiran,konsentrasi & perhatian.
Ya, saudariku tercinta.. Mereka mengincar perjuanganmu, dakwah sucimu, agar hancur porak poranda. Jalur-jalur tidak intelek inipun mereka tempuh untuk mengembosi dakwah, setelah kalah diperang pemikiran.

Perhatian untuk akhwat-akhwat yang melanglang buana di dunia maya berhati dan waspadalah kepada setiap orang interaksi yang belum anda kenal secara benar. Jika ada ajakan ta’arufan lewat media maya seperti FB jangan mau. Jikalau memang anda-anda sekalian siap untuk menikah ta’aruflah dengan cara yang baik dan benar di dunia nyata bukan di dunia maya difb. modus ini saya dengar beebrapa tahun yang lalu juga pernah terjadi, dan tahun ini terjadi kembali.

Jika ada ikhwan yang ngajak ta'aruf maka carilah informasi dan pastikan laki-laki it memang ada, bukan tokoh fiktif. Bisa dicari melalui orang ... Lihat Selengkapnya ketiga yg bisa dipercaya. Jangan percaya sampai batang hidungnya nongol didepan anda.

Waspadalah...!
Korbannya telah berjatuhan diberbagai kota, antarala lain : Bogor, Malang, Makasar, Jambi, Bandung dan Kalimantan. Jangan sampai ada korban yg berjatuhan lagi cukup sampai disini...

Saudariku.. Waspadalah musuh islam tidak pernah diam. Dengan berbagai cara mereka menyusup untuk melemahkan barisan dakwah. Dan berhati-hatilah dengan modus operandi lainnya yg lebih halus dan licik. Dan jangan terlena dgn musuh didunia maya. Karna musuh islam yg di dunia nyata juga banyak.
NB: Akun yg mereka gunakan: Mujahidah Mudah dan Tangguh, Panglima Perang (Fadlan Khairul Umam), Aamir Dzaki, Buronan Mertua, dan Pembangkang Sekular..
Catatan ini merupakan teriakan hati para akhwat yg telah menjadi korbannya. Hai musuh Allah kita akan bertemu &berhadapan di Mahkamah Allah. Dan catatan ini saya post sebagai tanda kepedulian terhadap saudari-saudariku..

http://www.facebook.com/notes/pemikir-ideologis/danger-warning-penting-syndicate-penjahat-dgn-modus-operandi-taaruf-khitbah/412696976444

Sumber: Klik disini

Jika Belum Siap, Cintai Ia dalam Diam


bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. kau ingin memuliakan dia dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang. kau tidak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu, menghindarkan dirimu dari hal-hal yang merusak izzah (harga diri) dan iffahmu.... karena diammu bukti kesetiaan padanya karena mungkin saja orang yang kau cintai adalah juga orang yang telah Allah pilihkan untukmu. ingatlah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ? tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah. karena dalam diammu tersimpan kekuatan, kekuatan hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu dalam diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata. bahkan Allah tidak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya. . . . dan jika memang cinta dalam diammu itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam. jika dia memang bukan milikmu, Allah melalui waktu akan menghapus cinta dalam diammu itu dengan memberi cinta yang lebih indah dan orang yang tepat. biarkan cinta dalam diammu menjadi memori tersendiri dan hatimu menjadi rahasia antara kamu dengan sang pemilik hati. . . Sumber: Klik disini

14 Jul 2010

WAhai PAra Pesakitan (Copas)

Berulang kau datang sebagai pesakitan,... di hadapan Rabb-Mu,..
Kau mengadukan semua keluhan sakitmu,....
Kau mengatakan bahwa sepertinya lidahmu mulai tak mampu mengecap rasa,....
Tangan dan kakiku sering terasa kesemutan saat berada di ruang sejuk,....

Dalam pengaduanmu kau coba menangis,...
Namun tanpa air mata yang terjatuh,..dan isakanmu pun sudah tak seperti menangis,...
Perlahan kau meminta obat,....kau katakan butuh Dia,....

Wahai para pesakitan,...
Bukankah Tuhanmu selalu bersama orang sakit,...
Ia suka mendengarkan zikir kesabaranmu,...
Ia menanti desah cintamu,...
Ia memanggil orang yang mencintai-Nya untuk bersama-Mu,...
Mengalunkan senandung,...
“wahai para pesakitan,...kalian sebenarnya dalam cinta,....
Wahai para pejalan yang tersesat,... kalian tak sekedip pun tertinggal dalam tatapan-Nya”

Kalian selalu merasa curiga,...mengira
Rabb kalian tak mau mendengar,...
Bahkan ia lebih dekat dari urat leher kalian,....
Kalian mengira Rabb,... tak memberi obat,.....
Bukankah Ia mencintai sebelum kalian mencintai?,...
Bukankah Ia menyayangi sebelum kalian mencoba sayang,....???
Bahkan kalian bermaksiat di depan Mata-Nya,...
Kalian menggauli musuh-Nya
Kalian ikut dalam kafilah penempuh murka-Nya,...
Ketahuilah bahwa,...
Ia masih menyimpan sayang-Nya
Yang disebut-Nya keampunan,...
Itupun jika,...kalian datang kepada-Nya
Atau kalian menoleh pada-Nya,...
Dengan cinta-Nya Ia akan memanggil kalian,..
Kemarilah,....
Inilah selimut ampunan-Ku
Inilah ruang Cinta-Ku,...
Wahai para penempuh yang tersesat,....
Aku tidak bosan sampai kalian yang bosan,.....


Oleh: A. Latief Khan

Akhwat Genit dan Kelakuan Buruknya

ini postingan, aku copas dari blog salah satu eMPers yang ada di multiplyku.
membacanya, tentu membuat hatiku sebagai seorang akhwat rada kotar-katir. karna apa? postingan ini menunjukkan betapa buruknya akhwat jaman sekarang. apalagi di embel2i dengan kata2 "Akhwat Genit".
ya...tentunya tulisan ini mengarah pada para akhwat yang diberi label "X" atas pemahamannya selama ini. tulisan ini sendiri juga mungkin hendak menyindir para "akhwat X" tersebut. meskipun tidak disertai solusi, tapi tulisan ini cukup menyindir.
aku sendiri, sebagai seorang akhwat, gak munafik atas kebenaran dari apa yang ditulis si penulis (karana memang sebagian yang diungkapkannya pernah ku alami, so far itu memang bener, itu kenyataan yang ada sekarang ini. tapi, menurutku (menurutku lho ya...) ada cara yang lebih bijak untuk mengingatkan saudara kita, terlebih kepada para akhwat.
intinya, bagaimana kita sebagai saudara sesama muslim bisa saling mengingatkan dengan cara yang ahsan, gak hanya kritikan doang, tapi ada solusinya juga:)
akhwat/ ikhwan kan juga manusia. Suatu masa dia pernah berbuat salah, wajarlah...
toh orang yang berTAQWA bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya, tetapi orang bertaqwa adalah ketika berbuat dosa kemudian menyadari dan segera memohon ampunan pada Allah Subhana wa ta'ala.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun.:)
“Wahai orang2 yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok2 kaum yang lain karena boleh jadi mereka itu lebih baik dari yang mengolok2, dan jangan pula wanita2 mengolok2 wanita2 yang lain karena boleh jadi wanita2 yang diolok2an lebih baik dari yang mengolok2.” (QS Al Hujurat: 11)
berikut postingan yang saya copas itu...
letsss Cekidot...

100% BUKAN KARYA SAYA

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Lihat aja kerjaan mereka rapat sampe pulang larut malam, berjuang demi dakwah tapi menelantarkan Iffah (harga diri) mereka.

Akhwat yang Genit itu…
Tuh lihat saja si fulanah berteriak tentang dakwah, menggunakan hijab ketika sedang syuro dengan ikhwan, tapi dibelakang masih suka aja ngirim sms tausyiah ke ikhwan…
cie ile..maksudnya sih nasehat… nasehat apa nasehat tuh Ukh…

Akhwat genit itu…
Yang satu ini lebih parah lagi, saking begitu perduli sama palestina… Nonton nasyid Palestina sampai jingkrak jingkrakan nggak karuan… nggak moshing aja sekalian ukh! biar manteb.. biar METAAAL sekaliaaan! CADAAAAAAS!

Akhwat genit itu…
Wedew… lihat aja tuh akhwat yang jilbabnya panjang buangetttt.. tapi kenapa ya..? kalau habis nonton nasyid terus pada lari histeris, ngantri sama munsyid yang udah jadi thagut… minta tanda tanganlah! Minta foto barenglah!… payah dagh!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Nggak kalah parahnya sama yang lain, retorika dakwahnya sih bagus, eh… pas nikah kerjaannya khawatir melulu, ngak mau sabar nemenin perjuangan suaminya… Akhirnya futurlah si suami yang dulu waktu di kampus asooooy berat semangat dakwahnya. Sekarang udah sibuk NYARI DUIT lantaran ‘TANGGUNG JAWAB’ keluarga…nuntuuuuut terus!

Akhwat dengan Dakwah abal-abalnya…
Kalau umur 20 tahunan akhwat-akhwat ini memang pada jual mahal kalau ada ikhwan yang khitbah, ntar pas umur 25 tahun pada cari yang ideal… ntar kalau ngak dapat-dapat sampai umur 30.. SIAPA AJA DAH! nah tahu rasa lu…sok ideal sih!

Akhwat dengan dakwah abal-abalnya…
Katanya aktivis dakwah..? katanya teguh menegakkan tauhid..? tapi kok kamu marah ya ukh waktu Aa Gym Poligami..? kenapa oh kenapa..?

Akhwat genit itu…
Tuh lihat aja si fulana, kalau ketemu ikhwan yang pendek kecil dan tidak menarik itu pasti JAGA PANDANGAN, busyet dagh pas ketemu ikhwan tinggi putih dan lagi nyelesain S2 itu… bukan cuma mata yang jelalatan tapi hatinya luntur sama thagut perasaan…payah dagh…

Akhwat genit itu…
Cie ile… peduli banget ukh sama ikhwan… eh ngapain berlagak minta pendapat sama ikhwan tentang diri ukhti, minta pendapat apa cuma ingin diperhatiin aza sama ikhwan… hayo ngaku…ngaku…ngaku…?

Akhwat genit itu…
Percaya nggak… si fulanah itu depan ikhwan doang sok alim, di kos-kosan sih tetap aja telpon – telponan sama oknum tertentu… ku tunggu kau di batas waktu katanya… hehehe.. gubraks.!

http://evans86.cybermq.com/post/kategori/1961/akhwat-zone

kepada pembaca, saya mohon maaf, jika ada kata2 yang salah dan kepada Allah, saya Mohon Ampun.
Astaghfirullah....

sumber: Klik disini

12 Jul 2010

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

28 Mei 2010

Selembar kertas senilai 45 juta…

“jika setiap menitnya sama dengan satu juta, maka kertas selembar itu bernilai empat pulih lima juta”

Malam ini aku prepare barang-barang yang mau di bawa besok kekampus. Termasuk satu lembar kertas binder yang berwarna pink-putih yang memang sejak kemarin telah aku letak didalam tas, tepatnya diselipan memo kecilku. Karna sebelumnya aku telah menghubungi adik kelasku untuk meminjam laptopnya esok hari. Karna tulisan itu ingin segera aku ketik-lalu aku publikasikan. Namun, apa yang tak kuharapkan terjadi. Kertas itu hilang. Raib entah kemana. Semua ini disebabkan karna keteledoranku sendiri.

“jika setiap menitnya sama dengan satu juta, maka kertas yang selembar itu bernilai 45 juta”.

Kenapa 45 juta? Mungkin sahabat akan bertanya seperti itu. Baiklah, akan saya jelaskan…

Dalam waktu yang cukup lama, mungkin hampir sekitar 2-3 bulan aku tidak aktif lagi menulis, belakangan ini waktuku tersita oleh kesibkan yang lain. Lalu, kemarin aku mencoba untuk menulis lagi, membuat suatu karya tulis berupa artikel sederhana yang kuselesaikan dalam waktu 45 menit-yang mana sekarang kertas itu hilang. Aku kelimpungan mencari kertas yang selembar itu. Seluruh isi tasku bongkar, memo tempat aku menyelipkan kertas itu berulang kali aku buka, begitu juga dengan buku yang ada didalamnya, tapi hasilnya nihil.

Di hati, ada rasa kehilangan yang cukup berarti. Kehilangan sesuatu yang dengan segena hati kita mengukirnya, namun sesuatu itu hilang entah kemana.

Bagimana tidak? Tulisan itu dibuat setelah sekian lama jemari ini tak menarikan suatu karya tulis yang baru. Tulisan itu merupakan satu-satunya tulisanku selama ini yang pembuatannya dari awal hingga akhir (selesai) menggunakan ukuran waktu.

Benar-benar sangat berarti, tulisan itu tulisan yang berarti. Meski bukan buatmu, setidaknya buatku. Bukan hal yang mudah untuk membuat tulisan yang sama lagi. Ditulis ulang pun, pasti tidak akan sama. Dan aku harus rela kehilangan 45 juta dari genggamanku.

Tapi setidaknya, kehilangan “tulisan” memberikanku sebuah pelajaran baru, hikmah baru. Dan karena kehilangan tulisan itu pula, lahirlah tulisanku yang ini.

Meski mungkin tidak terlalu banyak manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini. Mungkin perasaan ini sama seperti yang mereka asakan, saat aku memutuskan untuk pergi. Maaf…

Kini aku tau bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang benar-benar berarti dalam hari-hari yang dilalui.

Mari, menulis lagi….!!!!

Jum’at, 26 maret 2010; 21:59

28 Des 2009

-MENGHELA NAFAS-

Fhuh…

“Jika setiap desah nafas adalah syukur, maka mengapa masih ada tangis yang tersekat tak mengucur?”

“kenapa kau menangis?”
“Tidak. Aku sama sekali tidak mengangis?”
“Apa yang kau tangiskan?”
Diam..
Hening.
“Lihatlah dirimu. Alam begitu mencintaimu. Atau siapakah yang telah membuatmu begitu haru?”
Diam.
Hening.
“Aku tak inginkan kau menangis. Tersenyumlah! Dan hadapi realita. Hidup itu perjuangan!”
“bukan!”
“Lantas?”
“Aku tak tau”
“Kau terluka?”
“Dalam”
“Siapa?”
“Aku.”
“Kau?”
“Ya”
“Bagaimana mungkin?”
“Entahlah..”
“Uraikanlah, aku mendengarmu”
“Ak…Ak…Aku, aku tak bisa.”
“Bisa. Aku mendengarmu.”
“Aku tak mengerti.”
“Apa yang tak kau mengerti?”
“Aku tak mengerti dengan jalan hidupku. Aku tak mengerti ketika tiba-tiba aku ingin menangis.”
“Kapanpun kau mau, punggungku kan selalu ada untuk menjadi sandaranmu menangis”
“Kemarin aku menangis, dua hari yang lalu pun aku menangis, dan hari ini aku pun menangis. Terkadang aku sendiri tak mengenal diriku, apa mauku, apa inginku, untuk apa aku menginginkan itu, aku tak mengerti dengan semua. Aku ingin marah, berteriak, menangis, tertawa. Aku muak. Aku bosan. Tapi aku serasa terpenjara. Aku tak merasa bebas.”
“Lalu, kenapa kau diam?”
“Aku bukan laut.”
“Karna kau gunung. Yang akan memuntahkan isi laharnya setelah semuanya dipendam. Dan, saat gunung itu meletus, maka hampir dipastikan semua yang ada disekitarmu akan terkena muntahan lahar panasmu.”
“Aku bukan gunung.”
“Lantas?”
“Entahlah..”
“Akan ku ajak kau ke pantai.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kakiku masih terikat.”
“Akan ku Bantu melepaskannya.”
“Kau tak bisa”
“Aku bisa.”
“Butuh waktu.”
“Berapapun itu, akan ku tempuh.”
“Kenapa kau baik padaku dan kenapa kau mau menolongku?”
“Karna aku hati nuranimu”
“Nuraniku?”
“Ya. Aku di utus Tuhan untuk membimbing jalan hidupmu.”
“Tuhan?”
“Mungkinkah suatu saat…”
“Mungkin. Kau hanya cukup mengikutiku. Dan kau harus bisa mengalahkan musuhku”
“Kau punya musuh?”
“Ya.”
“Siapa?”
“Nafsu.”
“Nafsu?”
“Ya. Maka kendalikanlah nafsumu. Jangan biarkan ia kesetanan. Sebab, jika telah begitu maka ia merupakan musuh yang nyata bagimu.”
“Aku mengerti.”
“Masih ingin menangis? Punggungku masih ku sediakan untukmu bersandar.”
Diam.
“Masih ingin berteriak? Ku izinkan kau berteriak ditelingaku sesuka hatimu.”
Hening.
“Masih ingin tertawa? Kan ku temani kau tertawa sampai orang-orang mengatakan bahwa kita gila”
“Tidak. Aku hanya ingin kau tetap disisiku. Disini, dalam lubuk yang hanya Dia yang tau. Jangan pergi. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu-hingga ujung waktuku.”
“Aku takkan pernah pergi darimu. Percayalah. You have my word.”
“I have you word.”

***

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...