30 Jan 2011

Jadilah Seperti Pensil

oleh Muhammad Dewan Ansari, RJI – Padang

 

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

”Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya ? tau tentang aku ?”

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,

”Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu PENSIL yang nenek pakai.Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi

Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

 

”Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya “,Ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab”itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menghadapi hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu didalam hidup ini”.

 

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil:

PERTAMA: Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.

 

KEDUA: Dalam proses menulis, kadang nenek beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat sipensil menderita. Tapi setelah proses maraut selesai, sipensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik.

 

KETIGA: Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bias membuat kita untuk tetap berada pada jaln yang benar.

 

KEEMPAT: Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada didalam sebuah pensil. Oleh sebab itu , selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.

 

KELIMA: Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan ….begitu juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadar semua tindakan.

 

Sumber: Web In RZ

 

29 Jan 2011

HomeSick



Mencoba ditahan dan bertahan
tapi terlalu sakit untuk menahan
tolong..jangan aku dihalang
aku hanya rindu...
rindu ini sungguh tak tertahan,
aku tak memiliki sesiapa disini untuk melepas beban,
menangis takkan cukup.
aku harus segera mengatakan.
Aku ingin Pulang... :'(

Keep Smiling Always

Ketika dada serasa menyesak..

Ketika airmata harus tertahan

Ketika dunia seakan memusuhimu

Ketika perih mendera batinmu...

Ketika kepedihan semakin membuat luka...

Tetaplah tersenyum...

Sebab senyum itu indah...

Senyum itu mengobatimu...

Dari rasa sesak menjadi rasa lapang

Dari air mata yang berganti rasa menerima

Dari rasa perih yang berganti menahan diri

Dari kepedihan yang berganti keikhklasan..

Tetaplah tersenyum...

Karna menolong itu menyenangkan..

 

*Special dedicate to Us.

Not Only You, But Also Me.

Lotus Garden,

28-01-2011

Just want To share..^_^

Sumber: Web In Rumah Zakat

Dengar Bisikku....

Keikhlasan  itu ada diantara sabar dan syukur.

Sampai kapanpun, ia akan selalu mengiringinya

28 Jan 2011

3 Bulan Tidak Mampu memandang Wajah Suami

Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

 

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

 

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

 

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh. Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

 

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

 

Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

 

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam web in ini semoga bisa bermanfaat)

 

Oleh: Ratih Astrya Ningsih, RZ - Banjarmasin

Sumber: Web In Rumah Zakat

Nyunda Thea... :p

Ini bukan kali pertama orang salah menyebut asal daerahku. Siang ini, satu mustahik lagi menyangka bahwa aku berasal dari Jawa Barat.

“Mbaknya dari jawa barat juga ya?”, Tanya sang mustahik.

“oh, enggak pak. Saya orang Medan”

“Memang asli Medan?”

“Iya”

“Tapi kok wajahnya sunda ya?!”, retoriknya.

“^_^”, aku Cuma senyum. Hahaha... masa dikira urang sunda sih???

Hari semakin siang, si bapak tidak menyerah sepertinya untuk bertanya. Dan pertanyaan pun berlanjut..

“berarti adek orang melayu ya..?”

“Bukan pak, orangtua (ayah) jawa. Tapi lahirnya di Medan. Ibu orang padang. Lahirnya juga di Medan. Jadi dari dulu udah di Medan.”

Hohoh..sebagai warga Medan, aku bangga mempromosikan kota sendiri.^_^

Hm...tapi emang iya sih, sebenernya aku ada darah sundanya juga. Dari papa. Tapi juga gak mau ngaku2 aaahh... ntar di ajak bahasa sunda sama urang sunda, gak ngerti, malah diledekin. Ngaku2 jawa aja, diajakin bahasa jawa, trus gak bisa, nih udah diledekin. Hohoho...trus waktu ngaku orang minang, di ajak bahasa minang, trus gak ngerti, di ledekin lagi.

“Uni Lulu orang pariaman, tapi ndak iso basa minang. Cemana itu...”, ledek salah satu temen kantorku.

Weleh..weleh... udah saya bilang. Uppsss..maksudnya, udah aku bilang, awak anak Medan. Jadi bisanya Cuma bahasa Indonesia dengan logat Medan.

Bahasa lain???

Ntar deh,... dipelajari dulu.^_^

 

Lotus Garden

27-01-2011

 

 

 

Dua beda

 Terkadang luka ada baiknya datang diawal. Agar kau tau bahwa hidup tak hanya tentang cinta.  Gemerlap dunia hanya persinggahan yg fana.  Me...